Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Cinta Yang Melemahkan


__ADS_3

Jessie sedang menunggu Jason di depan gerbang sekolah. Hati dan pikirannya diliputi oleh kebingungan soal cinta. Dia mulai sedikit ragu dengan perasaannya terhadap Ardi. "Cinta yang membingungkan," gumamnya.


Tak menunggu lama, Jason sudah berada tepat di depannya. Di kursi penumpang depan, Kanaya sudah duduk dengan santai. Jessie pun langsung duduk di kursi belakang. Sebelum berangkat, Jason menoleh ke arah Jessie. "Kita mengantar Aya dulu," ujarnya.


Sepanjang perjalanan mereka mengobrol sangat akrab. Tak ada rasa sungkan atau malu sedikitpun.


"Jess, kok tumben Kak Ardi tak mengantarmu?" tanya Kanaya.


Mimik muka Jessie sedikit berubah mendengar pertanyaan itu. "Aku yang menolak untuk diantar," jawabnya sambil bersikap sedikit aneh.


Kanaya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Jessie. Dia pun memandang Jason dengan penuh tanya. Tatapan Kanaya pada Jason seolah menanyakan tentang adiknya. Jason seolah mengerti, dan mengisyaratkan untuk tetap diam.


"Kak, turunin aku di minimarket depan. Setelah mengantar Kanaya, jemput aku disini," cetus Jessie.


Jason pun memberhentikan mobilnya di depan minimarket. Setelah Jessie turun, dia kembali melanjutkan perjalanan mengantarkan Kanaya ke rumahnya.


Di mobil itu hanya mereka berdua. Kanaya memandang Jason dengan ribuan pertanyaan yang ingin terucap. Gadis itu kemudian mematikan musik yang tadinya menyala. Tak dapat menahan penasaran yang sudah menguasai hatinya, Kanaya pun mencoba mencari jawaban.


"Sebenarnya ada apa dengan Jessie Kak?" tanya Kanaya.


"Aku juga belum yakin tentang itu. Tapi sepertinya, Jessie mulai ragu tentang perasaannya pada Ardi," jawab Jason.


"Bagaimana Jessie bisa meragukan Kak Ardi?" Kanaya tak percaya dengan ucapan Jason.


"Nanti aku akan berbicara dengannya lagi. Kamu tak perlu mengkhawatirkan hubungan mereka," jelas Jason sambil tersenyum sekilas menatapnya.

__ADS_1


"Aku takut Jessie akan meninggalkan Kak Ardi. Padahal dia sudah terlanjur mencintainya, bahkan mungkin saja dia sudah cinta mati padanya," ucap Kanaya.


"Bagaimana kamu seyakin itu?" Jason menjadi sangat penasaran dengan ucapan kekasihnya.


"Kak Jason akan mempercayainya, jika sudah melihat sendiri kamarnya," jawabnya.


Setelah mengantarkan kekasihnya, Jason segera menjemput adiknya. Ternyata Jessie sedang duduk termenung di depan minimarket. Jason membunyikan klakson mobilnya, untuk memberi isyarat untuk memanggilnya. Jessie sedikit terkejut dengan suara klakson yang cukup keras. Dibawanya beberapa kantong belanjaan itu ke dalam mobil. Gadis itu duduk diam tanpa berkata apapun. Jason pun juga tak tahu pasti, dengan apa yang dirasakan oleh adiknya.


Tanpa Jessie sadari, Jason sudah membawa Jessie ke sebuah pinggir bendungan yang cukup besar. Disekitar bendungan, terdapat banyak pohon yang mengelilinginya. Jessie membelalakkan matanya, saat menyadari pemandangan yang cukup menyejukkan mata. Jessie langsung turun dari mobilnya, dan duduk di salah satu bangku yang tersusun rapi di bawah pohon.


Memandang air yang begitu luas dengan dikelilingi pemandangan hijau, Jessie sedikit mengulas senyuman di bibirnya. Rasanya sedikit beban dalam hatinya terasa lebih ringan. Alam memang memberikan aura positif dalam jiwa yang gundah.


Jason menghampiri Jessie dan merangkul pundaknya. "Kalau ada hal yang mengganggumu, seharusnya kamu ceritakan padaku. Jangan menyimpannya dan membuat luka di hatimu sendiri," ujar Jason dengan senyuman.


Jessie langsung memeluk saudara kembarnya. "Aku begitu gelisah memikirkan perasaanku sendiri, ketika aku mendengar rasa cintanya sangat besar. Mungkin perasaanku tak sebesar itu. Bagaimana jika ternyata aku tidak mencintai Kak Ardi?" jawabnya dengan bimbang.


"Sebenarnya Jessie takut, seperti Papa dan Mama yang terlalu saling mencintai," ucap lirih.


Akhirnya Jason mengerti, mengapa adiknya itu menjadi gelisah. Jessie terlalu takut untuk jatuh cinta. Karena bagi Jessie, cinta yang berlebihan hanya akan merepotkannya.


Mungkin dalam pemikiran Jessie, sebuah rasa cinta hanya akan menguasainya. Seperti Melissa yang mencintai David. Tak peduli dimana pun mereka berdua selalu mesra. Karena cinta pula Melissa selalu menuruti keinginan suaminya. Mungkin hal itulah yang membuat Jessie takut jatuh cinta. Dia tak ingin ada orang lain yang ingin menguasai dirinya.


"Kak, aku sudah memikirkan keputusanku," ucapnya dengan yakin.


"Apa?" tanya Jason singkat.

__ADS_1


"Aku ingin memutuskan Kak Ardi. Cintanya terlalu besar untukku, padahal aku belum mencintainya. Mungkin itu hanya rasa suka biasa," jelasnya dengan bersemangat.


"Apapun keputusanmu, kuharap kamu memikirkannya dengan baik. Jangan pernah kamu menyesalinya." Jason hanya bisa memberikan saran untuknya.


Setelah Jessie mencurahkan seluruh isi hatinya, rasanya lebih lega. Kegundahan dalam hatinya sedikit berkurang. Senyuman wajahnya juga sudah terlihat cerah.


Malam harinya, Jason begitu terkejut melihat kedatangan Ardi di rumahnya. Penampilannya berantakan, wajahnya sedikit kesal.


"Ardi, ada perlu apa kesini?" tanya Jason.


"Sorry Jas... sudah ganggu malam-malam. Aku hanya ingin memastikan sesuatu sama Jessie. Apa kamu tahu Jessie mengirim pesan untuk memutuskan aku?" tanya Ardi dengan mata berkaca-kaca dan bibirnya bergetar.


"Tunggu sebentar aku akan memanggilnya." Jason pun beranjak ke kamar Jessie untuk memberitahu kedatangannya.


Tak lama kemudian Jessie sudah berada di hadapan Ardi. Gadis itu sangat terkejut melihat penampilan Ardi yang berantakan. Karena biasanya Ardi selalu tampan dan keren. Namun malam ini, Ardi datang hanya dengan baju rumahannya dengan rambut yang acak-acakan. Ditambah lagi wajahnya sedikit pucat.


Begitu menyadari kehadiran Jessie di depannya, Ardi langsung menggenggam tangan gadis itu. "Apa alasanmu memutuskan aku? Apakah aku melakukan kesalahan padamu?" tanyanya dengan gemetar.


Jessie memandang lelaki yang berdiri di hadapannya. Ada rasa kasihan yang tiba-tiba muncul ketika melihatnya. Tanpa melepaskan tangannya, Jessie akhirnya membuka mulutnya. "Kak Ardi tak bersalah apapun padaku. Aku hanya tak yakin dengan perasaanku sendiri. Maaf... mungkin ini membuat Kak Ardi kecewa. Aku merasa tidak mencintai Kakak. Tak ingin membuat Kak Ardi terluka jika disampingku. Jessie lelah dan ingin istirahat," jelasnya sebelum kembali masuk ke kamarnya.


Jason yang melihat kejadian itu, langsung mengelus dadanya. Dia merasa Jessie terlalu kejam pada Ardi. Jason tak bisa membayangkan betapa hancurnya Ardi.


Lalu Jason menghampiri Ardi yang berdiri membeku dengan derai air matanya. "Bro... tolong maafkan adikku. Dia terlalu muda untuk mengerti tentang cinta. Ku harap kamu tak membencinya. Apa kamu mau aku antar ke rumahmu?" tanyanya.


"Terimakasih Jason. Aku bisa pulang sendiri. Tolong jaga Jessie, di luar sana banyak lelaki yang selalu mengincarnya. Sekarang aku tak bisa lagi berada disisinya." Ardi pun meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Hatinya hancur menjadi ribuan keping. Rasa cinta yang disimpan selama 3 tahun harus berakhir seperti itu. Ingin rasanya jiwa Ardi memberontak, tak menerima keputusan Jessie. Tapi apa daya, rasa cinta telah melemahkan seluruh kekuatan dalam hatinya. Walaupun terluka, dia tetap mencintai Jessie. Entah Jessie menerimanya atau tidak. Ardi akan tetap mencintainya dengan caranya sendiri.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2