
Begitu membuka mataku, ternyata mentari sudah agak tinggi. Melissa masih terbaring di sampingku. Dengan terburu-buru, aku membersihkan diri dan segera turun ke bawah. Ayah dan Ibu sedang asyik bercanda dengan Alex. Ku lihat sekeliling rumah, Davina dan Fredy tak kelihatan batang hidungnya.
"Maaf... David terlambat bangun," ujarku dengan rasa bersalah.
"Ayah dan ibumu sangat tahu kebiasanmu, tak perlu sungkan atau malu," balas Ayah Rudy.
"Apakah seluruh keluarga sudah sarapan?" tanyaku.
"Lihat saja jam di tanganmu itu," ujar Ayah Rudy.
Aku pun duduk diantara mereka, dengan sedikit rasa bersalah. Sebagai tuan rumah seharusnya aku bisa lebih memperhatikan mereka.
"Bangunkanlah Melissa, kasihan kalau dia melewatkan sarapannya. Padahal semalam kamu sudah menggempurnya hingga dia kelelahan," goda ibuku dengan lembut.
Perkataan ibuku telah membuatku semakin malu. Tak tahu harus ku jawab apa lagi. Karena semua memang benar adanya. Ibuku sangat tahu bagaimana aku memperlakukan Melissa. Dengan wajah yang merah padam, aku kembali ke kamarku. Melissa sepertinya sedang mandi, karena suara air begitu terdengar di telingaku. Beberapa saat kemudian, Melissa keluar dengan handuk di tubuhnya. Rambutnya sedikit basah dan terurai. Aku mencoba menelan ludahku sendiri melihat pemandangan itu.
Ku peluk tubuh setengah telanjangnya dengan lembut. "Sayang ibu mencarimu untuk sarapan," bisikku di samping telinganya.
"Maafkan aku Mas, aku bangun kesiangan. Aku merasa tak enak dengan keluarga kita," ucapnya sedih.
"Aku akan membantumu mengeringkan rambut," ujarku sambil mengambil hairdryer di kotak perlengkapan.
Dengan sangat telaten dan hati-hati aku membantu Melissa menyisir dan mengeringkan rambutnya. Sedangkan istriku memoles make up tipis di wajahnya. Melissa sudah terlihat cantik dengan dress peach yang pas di tubuhnya. Kami berdua turun menuju ruang tengah. Ayah dan Alex tidak terlihat disana, hanya ibu seorang diri.
"Ibu maafkan Melissa karena bangun kesiangan." Melissa memeluk ibu dengan rasa sungkan.
"Ibu sangat mengerti Sayang, itu pasti karena ulah David. Ayo ibu temani kamu sarapan," balasnya.
__ADS_1
Aku, ibu dan Melissa duduk bersama di meja makan. Walaupun ibu sudah makan, dia tetap menemani kami dengan penuh perhatian.
"David! Kendalikan nafsumu pada Melissa. Jangan buat dia terlalu kelelahan. Dia tidak hanya mengurusmu, tapi juga harus mengurus keluarga ini. Aku tak mau dia sampai jatuh sakit karena ulahmu. Lihatlah lingkaran hitam di sekitar matanya, Melissa pasti kurang istirahat," tegur ibuku.
Melissa hanya menundukkan kepalanya, mendengar ibu mertuanya menegurku. Aku juga sadar akan keserakahanku itu. Namun aku tak menyadari dan telah melupakan betapa beratnya menjadi seorang istri. Mungkin ini terdengar egois, tapi Melissa selalu saja membuatku terus bergairah jika berdekatan dengannya.
"Maafkan aku ibu," balasku penuh penyesalan.
"Seharusnya kamu minta maaf pada istrimu, bukan aku," jawabnya.
Melissa menatap lembut pada ibu mertuanya. "Itu adalah tugas Melissa sebagai istri Bu," jelasnya.
Ibuku berjalan menghampiri Melissa, lalu membelai rambutnya. "Ibu sangat menyayangimu, tak akan kubiarkan David menyusahkanmu Sayang," katanya dengan lembut.
Ada rasa bahagia datang dalam hatiku. Aku bahagia karena ibu begitu menyayangi Melissa melebihi anaknya sendiri. Namun disisi lain, aku harus mengendalikan diriku jika itu menyangkut Melissa. Mungkinkah aku sanggup melakukannya, sepertinya tidak mungkin. Aku pun tersenyum sendiri karena ucapan dalam hatiku.
"Mas David kok senyum-senyum sendiri?" tanya Melissa.
Jawaban ibu membuat kami semua tertawa kecil. Setelah sarapan selesai kami mengobrol di teras samping. Ibu mengatakan Davina dan suaminya sedang menghadiri acara Reuni SMA. Sedangkan Ayah Rudy mengantarkan Alex ke toko buku, karena ada beberapa buku yang ingin dibelinya.
***
Di halaman sekolah, dengan muka kesal sekaligus cemberut Jessie keluar dari mobil. Tanpa berkata-kata dia meninggalkan Jason yang masih mengambil tasnya di kursi belakang.
Jason berlari mengejar adik kembarnya, lalu menarik tangannya. "Heiii!! Gadis kecil! Apa yang membuatmu kesal?" tanyanya.
"Papa dan Mama seharusnya tahu diri. Disaat ada tamu di rumah bisa-bisanya mereka bangun kesiangan," gerutu Jessie.
__ADS_1
"Mereka itu pasangan suami istri yang saling mencintai. Bahkan cinta mereka sangat luar biasa. Jadi wajar-wajar saja kalau seperti itu. Suatu hari kamu juga akan mengalaminya sendiri," jelas Jason sambil membelai rambutnya.
"Kakak selalu membela mereka," bentak Jessie sambil berjalan menuju ruang kelasnya.
Jason hanya bisa mengelus dadanya sendiri, melihat tingkah adiknya itu. Jason memaklumi, karena Jessie belum pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Perasaannya terhadap Ardi mungkin hanya sekedar cinta monyet. Bisa jadi hanya rasa suka yang sedikit berlebihan. Suatu hari Jason yakin, Jessie akan mengalami masa-masa menjadi budak cinta.
Dari arah yang berlawanan dengannya, Vera datang. "Selamat pagi Jason, sepertinya Jessie sedang badmood. Ada apakah gerangan?" tanya Vera dengan senyuman menggoda.
Jason terlihat acuh dan terus berjalan."Jangan terlalu ingin tahu, dengan sesuatu yang bukan urusanmu," gertak Jason.
Vera pun langsung kebakaran jenggot. Ucapan Jason membuat dirinya kesal. Dia memaki-maki Jason dalam hatinya. Berbagai umpatan keluar dari mulutnya. "Kakak beradik sama-sama menyebalkan. Mentang-mentang keluarganya kaya raya," ujar Vera dengan emosi.
Sebelum Vera mengetahui Jason memiliki kekasih, dia sudah menyukainya. Berbagai upaya sudah dilakukannya, namun terlalu sulit untuk mendekati Jason. Hingga saat orangtuanya meninggal karena kecelakaan, membuat Jason sedikit iba padanya. Vera pun menggunakan kesempatan itu, untuk melancarkan aksinya. Bahkan aksinya tak sengaja terlihat oleh Kanaya pacar Jason. Kanaya yang menyadari kedatangan Kanaya, justru semakin memeluk Jason dengan erat. Namun Jessie datang dan merusak seluruh rencananya. Apalagi sekarang, gosip kalau Jason menjalin hubungan dengan Kanaya sudah tersebar. Kanaya adalah teman satu kelas Jessie. Hubungan mereka terlihat sangat dekat. Sepertinya akan sangat sulit untuk Vera mendekati Jason lagi.
Saat istirahat, Jessie duduk sendirian di perpustakaan sekolah. Ardi yang sedang melewati perpustakaan, melihat Jessie termenung di kursi pojok. Ardi pun menyusul Jessie, lalu mengajaknya duduk di bawah pohon rindang di sekolah. Gadis itu mengikuti Ardi tanpa perlawanan. Ardi memandang wajah kesal yang terpampang jelas pada Jessie.
"Tersenyumlah Sayang, jangan cemberut seperti itu. Aku tak ingin kekesalan mu merusak pemandangan cantik wajahmu," ujar Ardi sambil mengelus pipinya.
"Apa Kak Ardi mencintaiku?" tanyanya.
"Sangat," jawab Ardi singkat.
"Apa Kak Ardi selalu ingin bersamaku dan tak ingin jauh dariku?" tanyanya lagi.
"Andai aku bisa, aku ingin membawamu kemanapun, di manapun dan kapanpun. Tanpa peduli perkataan orang terhadapku," jawab Ardi sambil menggenggam tangan Jessie.
Jantung Jessie seolah berhenti sejenak. Jawaban Ardi tak seperti apa yang ada di kepalanya. Dia berpikir apa mungkin ini yang dimaksudkan Jason, mencintai dengan luar biasa. Bahkan ada keegoisan, yang membuat cinta ingin menguasai pasangannya. Jessie mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Lalu perasaan apa yang kumiliki untuk Kak Ardi?" Jessie bertanya dalam hatinya.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰