
Malam hari setelah papanya mengantarkan makan malam, Jessie masih saja mengurung dirinya di kamar. Tak ada lagi semangat untuk melangsungkan kakinya keluar. Dia hanya bisa terduduk di atas ranjang kamarnya. Pikirannya melayang terbang sejauh mungkin. Jessie ingin berada di samping Ardi, menemaninya sampai dia membuka matanya. Namun seluruh orang seolah mengusirnya, tak peduli dengan perasaannya.
Jessie tiduran hingga sampai benar-benar tertidur pulas. Dalam tidurnya pun, air matanya terus mengalir.
Jason sedang terdiam sambil membuka ponselnya. Melihat foto Jessie di galeri, Jason jadi kepikiran adiknya itu. Dia pun menghampiri Jessie di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, Jason langsung masuk. Jessie terlihat tertidur sangat nyenyak. Jason memperhatikan wajah cantik Jessie yang terlelap. Terlihat di sudut matanya, air mata mengalir hingga bantalnya basah. Jason mengusapnya dengan sangat lembut. "Kuatkan hatimu Gadis cantik, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu," ucap Jason lirih sambil mengecup keningnya.
Jason kembali ke kamarnya, dengan kesedihan Jessie yang terus membayangi. Dia sampai tak bisa memejamkan matanya sepanjang malam. Hingga pagi harinya, tanpa tidur Jason langsung berangkat ke sekolah bersama adiknya.
"Bagaimana kalau hari ini kamu ijin saja, wajahmu terlihat pucat," ujar Jason di dalam mobil.
"Sebentar lagi ujian sekolah, lagian hari ini ada ulangan Matematika," jawab Jessie.
Jessie kembali terdiam dengan pandangan mata yang kosong. Rasa bersalah telah menguasai seluruh hati dan pikiran Jessie. Dia tak dapat mengira akan sesakit itu. Seperti bongkahan batu semakin menghimpit hatinya. Begitu sesak bahkan sangat menyakitkan.
Didalam kelasnya, berulangkali Jessie mendapatkan teguran dari guru yang mengajar. Tubuhnya memang sedang duduk di kelas, namun entah dimana jiwanya singgah. Seolah hanya raga kosong yang berada disana.
Kanaya sangat prihatin melihat kondisi Jessie. Dia pun menghampirinya dan berusaha menghiburnya. "Jangan bersedih lagi, aku percaya Kak Ardi akan baik-baik saja," ucapnya.
Bukannya terhibur, Jessie malah menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras tak dapat ditahan lagi. Kanaya dengan lembut membersihkan wajah calon adik iparnya itu. Tak satu katapun keluar dari mulut Jessie. Dia memilih diam, ya... diam dalam tangisnya.
Sepulang sekolah, mereka bertiga mengunjungi Rumah Sakit tempat Ardi dirawat. Sampai di ruangan terakhir Ardi terbaring, tak ada siapapun disana. Jessie berlari ketakutan ke pusat informasi. Dengan tubuh yang gemetar, dia menanyakan kondisi Ardi.
"Suster... dimana pasien yang kemarin dirawat di ICU?" tanya Jessie dengan ketakutan.
"Pasien kecelakaan itu ya?" tanya suster itu.
"Iya.." jawabnya.
__ADS_1
"Pasien atas nama Ardi sudah dipindahkan ke Rumah Sakit lain tadi siang. Yang saya dengar, dia akan segera dibawa keluar negeri," jelas suster itu.
Kanaya pun mendekat ke depan meja informasi. "Apakah Dokter Diana ada di ruangannya?" tanya Kanaya.
"Mulai hari ini, Dokter Diana cuti untuk beberapa bulan ke depan," jawab suster itu lagi.
Jessie yang mendengar penjelasan tersebut, langsung terduduk di lantai. Seolah kakinya sudah tak bisa lagi menahan tubuhnya. Hatinya hancur terurai, seakan sudah tak ada lagi harapan atas cintanya. Dengan seluruh kekuatan yang masih tertinggal, dia berjalan keluar dari gedung Rumah Sakit. Pandangan matanya kosong dengan wajah yang sangat pucat. Lingkaran hitam dibawah mata juga sangat terlihat. Gadis itu terus berjalan lurus tanpa tujuan.
"Kak, ikuti Jessie! Aku akan menghubungi Tante Diana," ucap Kanaya sambil mencari kontak di ponselnya.
Jason pun sedikit berlari, mengejar Jessie yang sudah berada sedikit jauh. Mungkin karena kelelahan Jessie menghentikan langkahnya, lalu duduk di bangku taman pinggir jalan.
"Gadis nakal! teganya kamu membuatku kelelahan," protes Jason
"Aku lelah..." ucap Jessie lirih.
Jason menggenggam tangan Jessie, dan mengajaknya kembali ke RS. Sampai di tempat parkir, Kanaya sudah berdiri di samping mobilnya.
"Tante Diana juga tak bisa dihubungi," kata Kanaya begitu kekasihnya datang.
" Kita pikirkan nanti saja, ayo kita bawa Jessie pulang dulu," balas Jason.
Mereka bertiga memasuki mobil, menuju kediaman keluarga Gunawan. Tak ada hal apapun yang diperbincangkan sepanjang perjalanan. Semua mulut bak terkunci rapat, hanya keheningan dan suara bising lalu lalang kendaraan yang terdengar. Jason sengaja membawa Kanaya ke rumahnya, untuk menemani Jessie.
"Ay... Bisakah kamu tidur disini menemani Jessie? Papa dan Mama sedang mengurus bisnis di luar kota," tanya Jason pada kekasihnya.
"Baiklah Kak, aku akan menelepon Papa dulu," jawabnya.
__ADS_1
Kanaya keluar ke teras dan menelepon papanya. Setelah melakukan obrolan panjang, akhirnya Kanaya mendapatkan ijin untuk menginap sementara di rumah itu. Namun Kanaya juga harus berjanji, tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma. Selesai menelepon papanya, Kanaya kembali ke kamar Jessie.
Kanaya merasa kasihan melihat Jessie yang terduduk di lantai ranjang kamarnya.
"Jessie... Jangan duduk di lantai kamu bisa sakit," bujuk Kanaya sambil menarik tangannya dengan lembut.
Jessie memandang Kanaya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kanaya... Apa kamu tahu, mengapa aku merasa takdir telah mempermainkan aku? Aku menyadari seluruh perasaanku, ketika Kak Ardi di ambang kematiannya. Rasanya aku ingin mati Kanaya, aku tak sanggup kehilangan Kak Ardi," Jessie kembali menangis di pelukan Kanaya.
"Kendalikan perasaanmu Jessie," bujuk Kanaya.
"Bagaimana mana aku bisa mengendalikan perasaanku? Bahkan tangan ini, masih bau darah dari Kak Ardi. Aku melihat sendiri tubuhnya bermandikan darah, dan itu sangat mengerikan. Setiap kali aku melihat tanganku, seolah masih berlumuran darah. Aku sangat takut, ketakutan kehilangan Kak Ardi semakin membayangiku. Aku membenci diriku sendiri, semua adalah salahku," jelas Jessie bersama tangisannya.
Jason yang mendengar di dekat pintu, ikut meneteskan air matanya. Jason seakan merasakan betapa memilukan hidup Jessie. Jason sangat bingung, bagaimana dia bisa menghibur saudara kembarnya itu. Dia tak ingin Jessie semakin terpuruk dan mengabaikan dirinya sendiri. Jason pun mendekat ke tempat dimana kedua gadis itu duduk.
"Turunlah, sudah waktunya makan malam," ajak Jason.
"Kakak makan saja dengan Kanaya, aku mau disini saja," jawab Jessie tanpa memandangnya.
"Kamu pikir Ardi akan senang melihatmu seperti ini," bentak Jason sangat kesal.
Jessie tak menjawab lagi, dia kembali termenung dalam kesedihannya.
"Jika kamu ingin bertemu kembali dengan Ardi, paling tidak kamu harus sehat. Oleh karena itu, jagalah dirimu sendiri sebelum Ardi datang," jelas Jason sedikit menurunkan tekanan dalam ucapannya.
Jessie menuju meja makan dengan sedikit terpaksa. Ucapan Jason seolah menyentil hatinya. Dia berpikir perkataan Jason ada benarnya. Jika dia lemah dan sakit-sakitan, Ardi akan sedih melihat keadaannya. Bukannya semakin sembuh, Ardi justru tidak akan sembuh. Jessie memakan makan malamnya, dengan ekspresi wajah seperti orang tak bernafsu makan dan tak bergairah untuk hidup.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1