Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Salah Paham


__ADS_3

Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini. "Mungkinkah Melissa menikahi pria lain, setelah meninggalkan aku?" Hanya itu yang ada dalam pikiranku.


"Papa!" Panggil anak kecil itu kepada pria yang datang menghampiri kami.


Aku semakin tidak percaya, ternyata benar gadis kecil di depanku adalah anaknya. Banyak hal berkecamuk dalam hatiku. Melissa juga terlihat sangat senang dengan kedatangan pria juga anaknya.


"Mas, kok sudah sampai disini. Berangkat jam berapa dari rumah?" tanya Melissa pada pria itu.


"Mas? Benarkah dia suaminya?" Pertanyaan ini terus muncul di kepalaku.


"David, kenalkan dia Mas Randy ayah Stella," ucap Melissa padaku.


Aku akhirnya berkenalan juga dengan pria di depanku. Kami pun mengobrol sekedar basa-basi di awal pertemuan ini. Tak lama kemudian Randy pamit duluan. Dia beralasan akan ada meeting di kantor.


"Mel, aku langsung ke kantor. Sebentar lagi Mariana menyusul kesini," pamitnya pada Melissa.


Setelah Randy pamit, tinggallah kami berdua duduk bersama di satu meja. Sedangkan Stella berlari kesana-kemari. Banyak pertanyaan yang ingin aku ungkapkan kepada Melissa, namun melihatnya sudah berkeluarga aku mengurungkannya. Tak lama setelah itu datang seorang wanita. Kalau diperhatikan wajahnya sedikit mirip dengan Melissa.


"Apa kabar Kak?" sapa Melissa pada wanita yang baru saja datang, dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Kak, ini David." Perkataan Melissa terdengar menggantung dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Hai David! Aku Mariana, kakak perempuan Melissa," sapanya sembari tersenyum menatapku.


Kami akhirnya mengobrol tanpa arah hingga Melissa pamit ke toilet.


"David, apa kamu tidak ingin kembali bersama Melissa?" Pertanyaan itu sontak membuat aku tersedak.


"Apa maksud Kakak, bukankah Melissa sudah menikah? Bukankah Stella adalah anaknya? Bagaimana mungkin aku masih bisa bersamanya?" Aku memberondong Mariana dengan banyak pertanyaan.


Mariana tersenyum menatapku, tatapannya kali ini memiliki banyak arti.


"Kamu sepertinya sudah salah paham. Stella adalah anakku," jelasnya kepadaku.


"Randy adalah suamiku. Stella memanggilnya Mommy karena sejak kecil Melissa sering menemaninya. Banyak hal yang sudah Melissa lalui. Asal kamu tahu, Melissa tak pernah melupakan kamu. Dia juga sangat menderita dengan kesalahpahaman diantara kalian," jelas Mariana.


Tiba-tiba saja Melissa datang, aku dan Mariana langsung menghentikan pembicaraan kami.


"Kenapa kalian terlihat terkejut?" tanya Melissa pada kami.

__ADS_1


"Itu hanya perasaan kamu saja, Sayang," Mariana mencoba mencairkan ketegangan.


"Kak! Aku harus langsung ke kantor. Mas Randy tadi menelpon, katanya ada hal penting yang harus dibicarakan." Melissa kemudian pergi meninggalkan Mel'S Cafe.


"Kak! Bisa kau lanjutkan ceritamu tentang Melissa," pintaku pada Mariana.


"3 tahun yang lalu, tiba-tiba Melissa meneleponku sambil menangis. Dia meminta Randy mengirimkan pesawat pribadi untuk menjemputnya saat itu juga. Jadi malam itu juga, Melissa terbang ke Karimunjawa. Aku tidak mengerti, apa yang terjadi pada adikku satu-satunya itu. Baru disana 3 hari Melissa jatuh sakit. Petugas hotel menemukannya dalam kondisi tidak sadar. Mendapatkan kabar itu, aku langsung membawanya ke RS di Semarang. Setelah keadaannya semakin baik, aku memaksanya tinggal bersamaku di Semarang." Mariana terlihat menarik nafas panjang setelah menceritakan itu.


"Lalu apa yang terjadi dalam 3 tahun ini Kak?" tanyaku semakin penasaran.


"Selama ini, dia membantu Randy mengurus resort dan hotel. Bahkan para investor asing sangat menyukai Melissa. Randy juga pernah mengatakan sejak Melissa membantunya, bisnisnya semakin berkembang. Investor asing banyak yang meminta kerja sama dengan hotel ataupun resort kami. Melissa seperti Dewi Fortuna bagi kami. Aku yakin sampai sekarang Melissa masih sangat mencintai kamu." Mariana terlihat sangat serius kali ini.


"Bagaimana Kakak yakin kalau dia masih mencintai aku?" Aku terus saja melontarkan pertanyaan.


"Aku sangat mengenal adikku itu, walaupun dia terlihat tegar, hatinya sangat rapuh. Aku sering melihatnya diam-diam menangis." Penjelasannya ini membuat aku juga ikut terluka.


"Apakah aku masih pantas bersanding dengan Melissa, Kak?" Aku sedikit ragu dengan ucapanku.


"Aku akan membantumu mendapatkan hati Melissa lagi. Tapi aku punya syarat untukmu." Tawaran Mariana benar-benar tak mampu aku tolak.

__ADS_1


Aku tak peduli apapun syarat yang harus aku lakukan. Bagiku Melissa adalah nafas dan darahku. Lebih baik aku mati dalam memperjuangkannya, dari pada mati karena kehilangannya. Itulah janjiku kepada diriku sendiri.


Happy Reading


__ADS_2