
Jessie pagi-pagi sekali sudah berada di hiruk pikuknya jalan raya. Pagi ini, gadis itu harus berangkat kuliah sendirian. Karena Ardi harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantornya sendiri. Baru sampai tempat parkir, Lusia yang melihat Jessie langsung menghampirinya. "Pagi cantik!" sapa Lusia.
"Sudah sarapan? Temani aku ke kantin yuk!" ajak Jessie pada sahabatnya itu.
Akhirnya Jessie dan Lusia memesan makanan untuk sarapannya. Belum selesai dengan sarapannya, seseorang datang dan bergabung dengan mereka.
"Ijinkanlah saya duduk disini!" seru Adam yang tiba-tiba duduk di samping Lusia menghadap Jessie.
Dua sahabat itu saling menatap. Pandangan mereka memercikkan sebuah pertanyaan, yang tak mungkin diucapkan sekarang. Adam merasakan suasana canggung diantara mereka berdua. Lalu dia tersenyum, "Apa saya mengganggu sarapan kalian?" tanyanya menghangatkan suasana.
"Tentu tidak. Pak Adam," jawab mereka secara bersamaan.
Adam menatap mereka berdua secara bergantian. "Kalian terlihat sangat kompak," pujinya.
Jessie hanya tersenyum simpul tanpa menanggapi ucapan Adam. Kemudian mereka kembali melanjutkan sarapan yang sempat terhenti tadi. Setelah menghabiskan semua makanan, Jessie memberikan isyarat pada Lusia untuk segera meninggalkan kursinya. Untung saja sahabatnya itu langsung mengerti. Lusia langsung bangkit dari duduknya, dan bermaksud meninggalkan Dosen itu sendirian.
Adam langsung mengerti apa yang akan mereka lakukan. "Tidak bisakah kalian menemaniku sampai selesai menghabiskan makanan ini?" tanya Adam sambil menatap 2 gadis yang sudah bersiap untuk pergi.
Lusia mengerutkan keningnya, lalu sedikit mendorong Jessie. Kemudian mereka berdua kembali duduk ke tempat semula. "Kami akan menemani Anda sampai jam masuk. Pak," ucap Jessie sedikit ragu.
Adam berhenti mengunyah, lalu meletakkan sendok yang dipegangnya. Kemudian lelaki itu menatap gadis yang duduk dihadapannya. "Tidak bisakah kamu tidak memanggilku. Pak. Ketika diluar kelas," ujarnya dengan wajah yang kesal.
"Lalu saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?" tanya Jessie sedikit bimbang.
"Kakak," jawabnya singkat.
Jessie hanya menunjukkan ekspresi wajah yang sangat bingung. Dia tak tahu harus memanggil Adam dengan sebutan apa lagi. Di kampusnya, Adam adalah Dosen yang mengajarnya. Disisi lain, Adam juga seorang kakak bagi tunangannya. Seolah dia tak rela memanggil lelaki itu dengan sebutan Kakak.
"Kalau kamu tak mau, kamu boleh memanggilku. Sayang!" seru Adam.
__ADS_1
Mata Jessie dan Lusia langsung memandang tajam pada Dosennya itu. Mereka tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Merasa tak nyaman berada di sana lebih lama, Jessie langsung menarik tangan Lusia. "Kalau begitu saya permisi," ucap Jessie sebelum meninggalkan Adam.
Melihat kekesalan di wajah Jessie, Adam justru tersenyum puas. Rasanya Adam sangat menikmati kebersamaannya ketika menggoda gadis itu. "Meskipun terlihat kesal, wajahmu tetap saja cantik," gumamnya sambil terus menatap Jessie yang berjalan menjauh darinya.
Jessie terus menarik Lusia hingga sampai depan kelasnya. Dia terlalu kesal dengan perlakuan Adam. Bisa-bisanya lelaki itu menggoda dirinya. Jessie benar-benar tak habis pikir, bagaimana Adam bisa menggoda tunangan adiknya. "Dasar Dosen gila!" gerutu Jessie dipenuhi amarah.
Baru kali ini Lusia melihat sahabatnya yang begitu emosi. Dia pun menepuk pundak Jessie, untuk sedikit menenangkannya. "Jangan diambil hati, anggap saja angin berlalu," hibur Lusia.
Lusia kemudian memberikan minuman yang tadi dibelinya. "Minumlah ini dulu!" bujuknya.
Jessie langsung meminumnya hingga tak bersisa. Lusia yang melihat itu menjadi tertawa sambil terus memandangi sahabatnya. "Habis marah jadi haus ya!" ledek Lusia.
Begitu menyadari dirinya telah menghabiskan minuman sebotol, wajah Jessie langsung memerah karena malu. Dia pun berjalan cepat menuju kelas, sebelum Lusia meledeknya lagi. Lusia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah konyol sahabatnya. Dia tak menyangka Jessie bisa bertingkah lucu seperti tadi.
Di kediaman keluarga Gunawan
"Ma! Kanaya sudah datang," seru Jason sambil berjalan menggandengnya Kanaya ke dapur.
Melissa yang melihat kedatangan Kanaya, langsung menghampirinya dan memeluknya. "Kamu cantik sekali. Sayang," puji Melissa.
"Terimakasih. Tante," jawab Kanaya malu-malu.
Mereka semua memulai membuat Red Velvet kesukaan Jason. Kanaya membantu Melissa menyiapkan adonan, sedangkan Jason sibuk membersihkan buah bit. Setelah adonan sudah tercampur, Melissa yang dibantu Kanaya menuangkan adonan ke dalam cetakan. Setelah masuk oven, Jason dan Kanaya duduk di ruang tengah sambil menunggu matang. Mereka berdua berbincang santai.
"Tante Melissa hebat ya, bisa bikin kue," puji Kanaya.
Jason tersenyum menanggapi perkataan tunangannya. "Bukan Mama yang pandai memasak, tapi Papa," jelas Jason.
"Benarkah! Pantas saja Tante Melissa sangat mencintai Om David," sahut Kanaya dengan senyuman.
__ADS_1
"Papa David yang sudah tergila-gila pada Mama. Dia terlalu mencintai Mama, hingga membuatnya seolah menjadi gila," jawab Jason dengan nada bercanda.
Kanaya malah mencubit lengan Jason. "Jangan ngomong sembarangan! Nanti aku bilang ke Om David lho," goda Kanaya.
Jason malah memeluk Kanaya dengan manja. Pasangan itu terlihat sangat mesra, dengan tatapan yang kadang masih terlihat malu-malu. Tak berapa lama, kue bikinan mereka sudah matang. Aroma kue memenuhi seluruh rumah.
Jessie yang baru saja memasuki pintu rumahnya, begitu tergoda dengan aroma kue yang sangat lezat. Dia pun berjalan menuju dapur, mencari aroma itu berasal. Perut Jessie mendadak kelaparan, melihat Red Velvet di atas meja. "Kak! Bagi kuenya dong!" seru Jessie sedikit memohon.
"Tunggu! Yang membuat kue sedang ke toilet," ujar Jason.
"Siapa? Mama kan?" tanya Jessie antusias.
Kanaya kemudian keluar dari toilet dan langsung menyapa Jessie. "Jam segini baru pulang, Jess?" tanya Kanaya.
"Tadi mampir ke kantor sebentar," jawab Jessie.
Setelah Jessie merengek beberapa kali, akhirnya mereka bertiga mencicipi kue yang tadi baru dibuatnya. Kanaya terlalu senang, saat tau kue buatannya sangat lezat. Dia tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Kanaya tak menyangka kue pertamanya tidak gagal. Saking enaknya, Jessie sudah memakan beberapa potong.
"Jess. Kamu yakin akan memakannya lagi?" tanya Kanaya heran.
Biasanya Jessie sangat ketat dalam porsi makannya. Dia selalu membatasi porsi makannya, agar tidak kegemukan. Mendengar perkataan Kanaya, gadis itu menutup mulutnya karena terkejut. "Bagaimana jika aku menjadi kegemukan? Ini gara-gara Kanaya!" jawabnya sedikit kesal.
Kanaya terlihat bingung dengan jawaban Jessie. "Kok gara-gara aku sih?" tanyanya dalam rasa bersalah.
"Kue buatanmu terlalu lezat, membuatku kalap," jawab Jessie.
Kanaya pun lega mendengar jawaban dari Jessie. Dia pikir dirinya sudah membuat kesalahan, hingga gadis cantik itu harus menyalahkannya. Jason hanya tersenyum, melihat pemandangan 2 gadis yang disayanginya terlihat sangat akrab.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1