
Adam memandang gadis yang sedang duduk di sampingnya. Ada rasa bahagia sekaligus perasaan mendebarkan ketika berdekatan dengan Lusia. Sekuat tenaga Adam memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. "Lusia. Maukah kamu menjadi istriku?" ucapnya gemetar.
"Cie. Cie. Ada yang sedang dilamar!" goda Jessie sambil senyum-senyum menatap ekspresi wajah pasangan baru itu.
"Tolak aja, Lus! Lamaran tidak romantis saja ingin diterima," ledek Ardi.
Tak peduli dengan ejekan dari mereka, Adam tetap menatap Lusia dengan penuh perasaan. Merasa tak tahu harus berkata apa, Lusia langsung berdiri dan mengecup pipi Adam. Rasanya begitu bahagia ketika sebuah lamaran itu diterima. "Terimakasih, Lusia." Adam lalu mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut.
"Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang," seru Ardi.
"Maksudnya?" tanya Jessie.
"Setelah Kak Adam memiliki Lusia, tak mungkin dia akan merebutmu dariku," sindir Ardi.
Mereka semua tertawa mengingat kebodohan Adam yang ingin merebut tunangan adiknya. Sekarang Ardi dan Jessie bisa sedikit lebih tenang. Paling tidak kecemasan mereka telah berkurang. Untuk merayakan kebahagiaan Adam dan Lusia, mereka akan makan malam bersama di sebuah hotel bintang lima. Jessie menyambut undangan itu dengan sangat bersemangat. Setelah makan siang selesai, Adam mengantarkan kekasihnya pulang untuk pertama kali. Ada rasa bahagia yang terpancar dari wajah Adam. Sebagai seorang adik, Ardi juga ikut berbahagia untuk Adam.
Begitu Adam dan Lusia sudah pulang, Jessie dan Ardi memasuki ruangannya. Gadis itu tiduran sambil menatap Ardi. "Semoga saja mereka berjodoh," ucap Jessie lirih.
"Mereka harus berjodoh, aku tak mau Kak Adam kembali mengganggu hubungan kita," jawab Ardi.
Jessie tersenyum lembut sebelum dia tertidur di sofa ruang kerjanya. Ardi yang melihat kekasihnya tertidur karena lelah, menghampirinya lalu mengecup keningnya. "Selamat tidur, Sayang," ucapnya lirih.
Ardi kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena makan siang mereka tadi. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu di ruangannya. Tok tok tok.
Lelaki itu berjalan dan membukakan pintu. "Om David," sapa Ardi sedikit terkejut.
"Mari silahkan masuk," ajak Ardi dengan sopan.
David masuk ke dalam ruangan itu, terlihat putrinya tertidur pulas di sofa. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. " Jadi begini yang dilakukan gadis manja ini di kantor?" tanyanya tak percaya.
"Mungkin Jessie sedikit kelelahan, lalu tertidur di sofa," jawab Ardi.
"Ardi. Kamu harus membimbingnya, bukan memanjakannya. Kamu terlalu banyak berkorban untuk Jessie. Om merasa kasihan melihat kamu harus bekerja keras. Maafkan keluarga Gunawan yang selalu membebani mu," ucap David penuh penyesalan.
__ADS_1
Ardi mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum dengan ramah. " Om David tak perlu mengkhawatirkan Ardi, saya merasa bahagia bisa membantu Jessie," jawabnya dengan yakin.
David sangat senang memiliki Ardi di samping Jessie. Di mata David, sosok Ardi adalah lelaki yang bertanggung jawab dan sangat mencintai Jessie. Bahkan Ardi rela mengorbankan segalanya untuk gadis itu. Beruntung sekali Jessie mendapatkan pasangan seperti Ardi. Setelah berbincang sedikit tentang perusahaan, David pun pamit. "Bila kamu membutuhkan bantuan apapun, langsung saja menghubungiku," ujar David sebelum keluar dari ruangan.
Setelah waktu semakin sore, Ardi membangunkan Jessie untuk segera pulang. Mereka pulang dengan mobil masing-masing. Ardi berjanji akan menjemput Jessie sebelum makan malam nanti.
Sampai di rumah, Jessie langsung masuk ke kamar dan mulai membongkar lemarinya. Dia bingung harus memakai apa dalam makan malam bersama Ardi nanti. Hingga semua isi lemari sudah berantakan di atas ranjang, namun Jessie tak menemukan yang cocok. Dia pun memanggil mamanya, Melissa.
"Ma! Kemarilah!"teriak Jessie dari dalam kamarnya.
Mendengar suara teriakan putrinya, Melissa langsung menuju kamar Jessie. Begitu membuka pintunya, matanya membelalak tak percaya. "Ya ampun, Jessie. Kamar bisa seperti kapal pecah! Apa yang sudah kamu lakukan?" seru Melissa kesal.
Gadis itu langsung memeluk Melissa sambil mengecup pipinya. "Jessie bingung mau pakai baju yang mana untuk makan malam bersama Kak Ardi," jelasnya.
Melissa mencoba mencari gaun yang cocok untuk gadis itu. Setelah mengobrak-abrik tumpukan baju, akhirnya Melissa memilih dress warna hitam dengan bahan sifon yang sangat cantik. Kemudian wanita itu memberikan dress pilihannya pada Jessie. "Mandilah di kamar sebelah. Mama akan menyuruh pelayan membereskan kamarmu," ucap Melissa.
Jessie meninggalkan kamarnya, sambil membawa beberapa perlengkapan make up yang dimilikinya. Kemudian gadis itu, mulai membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk makan malam bersama kekasihnya.
Beberapa saat kemudian, Ardi sudah datang untuk menjemput Jessie. "Selamat malam, Tante. Apakah Melissa sudah siap?" tanyanya.
Tak berapa lama, Jessie keluar dengan penampilan yang sangat cantik. Bahkan Ardi sampai tak berkedip ketika pertama melihatnya. Jessie bak bidadari yang sedang diturunkan ke bumi, lelaki mana yang sanggup menolak pesona seorang Danisha Jessie Gunawan.
"Kalian mau makan malam dimana?" tanya Melissa.
Ardi langsung tersadar begitu mendengar pertanyaan Melissa. Dia tersenyum malu menatap wajah kekasihnya. "Kami akan makan malam di hotel, Tante," jawabnya.
"Langsung ke The Java Restaurant saja, kebetulan ada koki baru yang didatangkan dari Australia," balas Melissa.
"Benarkah? Nanti kita akan langsung ke sana, Ma," jawab Jessie.
Setelah melakukan banyak pertimbangan dengan Adam, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di The Java Restaurant. Setelah 30 menit perjalanan, sampailah Ardi dan Jessie di lobby The Java Hotel Solo. Pasangan itu langsung memasuki restoran. Begitu melihat Jessie, Manager restoran langsung menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Nona Jessie. Kami sudah menyiapkan special dinner untuk dua pasangan. Silahkan ikuti saya," sapa Manager itu.
__ADS_1
"Saya dengar dari Mama, ada chef baru yang datang dari Australia," ujar Jessie.
"Benar, Nona. Setelah menyiapkan hidangan untuk Anda, saya akan memintanya untuk menemui Anda," jawab Manager itu dengan ramah.
Manager itu lalu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka. Tak lama kemudian Adam dan Lusia pun datang. Mereka berdua terkagum-kagum dengan konsep dinner yang terlalu romantis itu.
"Bagaimana kamu bisa menemukan restoran yang sangat romantis ini?" tanya Adam penasaran.
"Mamaku yang menyuruh kita ke sini," jawab Jessie.
Lusia pun ikut penasaran dengan jawaban Jessie. "Apa Tante Melissa sering makan disini?" tanyanya.
"Ini hotel milik keluarga Mama," jawabnya tanpa ekspresi.
"Apa!" seru Adam dan Lusia bersamaan.
Pasangan itu tak menyangka keluarga Jessie memiliki hotel semewah itu. Padahal selain cantik, Jessie tak pernah bertingkah seperti orang kaya yang suka pamer. Dia menjadi gadis yang sederhana dan tak terlihat glamor.
"Jessie. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Lusia dengan senyuman.
"Tentu saja," jawab Jessie singkat.
"Apa keluargamu sangat kaya?" tanya Lusia dengan polos.
Ardi yang mendengarnya langsung tersedak minumannya. Dia tak menyangka, Lusia akan menanyakan hal seperti itu.
"Aku juga tak tahu sekaya apa keluargaku. Hanya saja Papa memiliki beberapa perusahaan, sedangkan Mama memiliki beberapa hotel dan resort," jawab Jessi.
Tak berapa lama, hidangan makan malam pun datang. Disusul oleh seorang lelaki yang memakai baju chef.
"Selamat malam, Nona. Saya Anton, chef baru di The Java Restaurant," ucapnya dengan senyuman yang sangat ramah.
Ardi dan Jessie langsung saling memandang tak percaya.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰