
Waktu berjalan terlalu cepat, entah sadar atau tidak Si Kembar sudah memasuki usia 16 tahun. Jessie yang menjadi gadis cantik yang hangat dan perhatian terhadap semua orang. Sedangkan Jason menjadi seorang pemuda yang tampan dan juga sangat dingin dalam bergaul. Rasa sayang Jason kepada Jessie, ditunjukkannya dengan cara yang tidak biasa. Sering kali Jason menjailinya sampai Jessie menangis dan mengadu kepada Papa atau Mamanya. Jessie pun juga sama, saat di sekolah dia sering berpura-pura menjadi pacar Jason. Sehingga setiap gadis yang mendekatinya, mengurungkan niatnya untuk mendekati Jason.
Gunawan Corp berkembang sangat pesat hingga menjadi perusahaan multinasional. Mau tak mau waktu untuk keluarga sangat berkurang karena harus mengurus beberapa bisnis di luar negeri. Terkadang Melissa ingin memprotes kesibukanku yang terlalu berlebihan. Namun akhirnya dia mengerti, lebih tepatnya mencoba mengerti. Walaupun kadang ku merasa tak bisa menjadi suami yang diinginkannya. Apapun yang ku lakukan sekarang, untuk kebaikan keluarga dan anak-anak di masa depan. Aku sengaja mempersiapkannya sekarang, selagi ku masih mampu.
" Mas, kapan rencana dinas ke Jepang?" tanya Melissa ditengah kesibukannya menyiapkan sarapan.
" 2 hari lagi Sayang. Apa Istriku mau ikut ke Jepang? Mumpung ini musim bunga sakura," jawabku sambil duduk menikmati secangkir kopi di meja makan.
" Aku tak tega meninggalkan anak-anak sendirian." Melissa terlihat sangat berat meninggalkan Jason & Jessie.
" Istriku sungguh tak adil. Lebih tega membiarkanku pergi sendirian, dari pada meninggalkan anak-anak di rumah sendiri, " jawabku sedikit kesal.
" Jangan seperti anak kecil deh," Melissa mendekatiku dan mengecup pipiku.
Tanpa kami sadari, Jason & Jessie sudah berdiri di dekat meja makan. Mereka berdua memperhatikan kami sambil senyum-senyum saling memandang.
__ADS_1
" Mama itu kalau mau bermesraan tahu tempat dong. Kasihan adik kecilku ini, melihat apa yang belum boleh dilihatnya," ucap Jason sambil mengacak-acak rambut Jessie.
" Jason, jangan lupa ya kalau kita seumuran. Lepaskan tanganmu dari rambutku," bentak Jessie sambil menarik tangan Jason.
Melissa hanya tersenyum memandang wajah anak-anaknya. Setiap hari kedua anak itu selalu ribut tidak jelas.
" Sayang, kalian berdua selalu saja ribut. Sekali-kali mesra dikit sama adiknya. Oh ya Jason, nanti Jessie biar berangkat bareng kamu aja." Melissa terlihat kesal melihat tingkah anaknya.
" Jessie biar bareng Papa aja. Ribet kalau boncengan sama Jessie. Banyak maunya!!" Jason terlihat malas berbarengan dengan kembarannya.
Aku dan Melissa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Kedua anaknya seperti api dan air, yang takkan menyatu. Akhirnya Jason berangkat sendiri dengan motornya, dan Jessie ku antarkan sekalian ke kantor. Sampai di gerbang sekolah, Jason terlihat sudah sampai lebih dulu. Dia sedang mengobrol dengan beberapa teman lelakinya.
" Papa, Jessie ke sekolah dulu." Jessie pamit dan mencium tanganku.
" Nanti pulangnya di jemput sopir saja ya," ucapku sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
" Siap Papa Bos," jawabnya sambil beranjak keluar dari mobil.
Jessie berjalan memasuki gerbang tinggi di depan sekolahnya. Sekilas dia melirik ke arah dimana Jason berdiri, Jason hanya menyeringai menatap gadis cantik yang menjadi saudaranya itu.
" Jason kemarilah," panggil Jessie pada lelaki yang menyebalkan itu.
" Ada apa lagi?" ucapnya kesal.
" Jangan memandangku seperti itu lagi, aku benci senyuman mu yang menyebalkan itu." Jessie terlihat kesal dan mengerucutkan bibirnya.
" Baik Tuan Putri." Jason mencoba tersenyum setulus mungkin, sebelum Jessie mengadukannya pada sang Mama.
Beberapa teman Jason yang memperhatikan mulai penasaran, hubungan apa yang terjalin antara Jessie dan temannya itu. Di mata mereka, Jason terlihat sangat mesra terhadap wanita cantik itu.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1