Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 103


__ADS_3

Semalaman Jessie tak bisa memejamkan matanya. Hatinya dipenuhi rasa penyesalan yang sangat besar. Dia sangat menyesal telah mengabaikan Jason selama bertahun-tahun. Akhirnya setelah mandi dan sedikit merias wajahnya, Jessie langsung menuju garasi mobil. Jessie langsung mengendarai mobilnya menuju asrama kampus Jason. Sampai di depan asrama, Jessie bertanya kepada seorang penjaga asrama.


"Pak. Kamar Jason dimana ya?" tanya Jessie ramah.


"Kamarnya ada di pojok sana. Nomor 303, tapi Nak Jason belum pulang. Kalau mau menunggu, silahkan menunggu di kursi depan kamarnya," jawab penjaga asrama.


Jessie berjalan pelan sambil melihat dan mencari kamar 303. Akhirnya sampai di kamar paling ujung milik Jason. Di depan kamar terdapat 1 meja dengan 2 kursi tamu. Ada sebuah mini garden cantik dengan bunga warna-warni. Tak berapa lama, Jason terlihat terkejut dengan kedatangan Jessie di asramanya.


"Apa kamu terlalu merindukan lelaki tampan ini?" tanya Jason tiba-tiba.


Suara Jason membuyarkan lamunan Jessie yang tak berarah. Gadis itu langsung berlari dan memeluk saudara kembarnya itu. Butiran air mata sudah tak mampu lagi ditahannya. Jessie terisak dalam pelukan Jason.


"Hei! Kenapa gadis cantikku malah menangis?" goda Jason sambil membelai rambutnya.


"Apa kamu akan membiarkan aku kelelahan berdiri disini?" ledek Jessie.


Jason pun menarik tangan Jessie dan membawanya masuk ke kamar. "Ayo masuklah! Kamu adalah gadis pertama yang masuk ke dalam kamarku," kata Jason sambil membereskan kamarnya.


"Benarkah? Wah so sweet banget," ledek Jessie.


Peraturan di asrama pria tempat Jason tinggal, terhitung ketat. Para penghuni dilarang membawa masuk tamu wanita. Namun ada pengecualian untuk anggota keluarga. Seperti sekarang ini, Jason membawa Jessie masuk ke kamarnya. Itupun tak akan menyalahi aturan.


"Apa Kanaya juga tak pernah masuk ke kamarmu ini?" tanya Jessie.


"Bukankah kamu juga melihat peraturan di asrama pria ini," jawab Jason.


Jason memberikan minuman dingin untuk gadis cantik didepannya. "Bagaimana kado yang sudah aku berikan?" tanyanya.


Mendadak Jessie kembali sedih dan terharu dengan kado yang Jason berikan. Mata Jessie menjadi berkaca-kaca, menahan rasa haru sekaligus bahagia yang telah melebur menjadi satu. "Aku suka dengan semua kado dari mu. Namun kado itu sama sekali tak membuatku bahagia," jawab Jessie.

__ADS_1


Jason terlihat bingung, memikirkan kado yang membuat Jessie tidak bahagia. "Apa yang membuatmu tidak bahagia?" tanya Jason cemas.


"Peluklah aku! Aku terlalu berdosa terhadapmu. Kado itu membuatku sadar, kasih sayang yang kamu berikan terlalu banyak untukku. Namun selama bertahun-tahun, aku justru mengabaikanmu," jelas Jessie dengan berurai air mata.


Jason kembali memeluk Jessie dengan erat. Dia tak menyangka gadis cantik itu begitu rapuh, dan terluka karena sikapnya di masa lalu. "Jangan menangis lagi, aku tak ingin orang berpikir aku sudah menyakitimu," tutur Jason.


Jessie melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Jason. "Kembalilah ke rumah, jangan kamu menjauhiku. Cukup dulu aku yang menjauh dari keluarga kita," ucapnya.


Jason tersenyum tulus sambil menggenggam tangan Jessie. "Aku sudah mengurus kepindahan ku ke rumah lagi. Tak perlu memikirkan yang tidak-tidak," kata Jason.


Akhirnya Jessie merasakan kelegaan di dalam lubuk hatinya. Serasa seluruh beban dipundaknya telah berkurang. Dia pun bisa tersenyum lebar dalam kebahagiaan.


"Kak! Aku tak yakin bisa mengurus sendiri perusahaan yang Kakek Rudy berikan kepadaku," ujar Jessie.


"Siapa bilang kamu akan sendirian? Kakek Rudy secara pribadi telah meminta Ardi membantumu. Bahkan tunanganmu itu, sudah merelakan perusahaan yang sudah dibangunnya di Australia. Sekarang di Indonesia, Ardi benar-benar memulai semua dari nol," jelas Jason.


"Kakek Rudy sudah berulangkali menawarkan kepada Ardi. Namun dia selalu saja menolaknya. Dia ingin membangun perusahaannya sendiri. Ardi tak mau bergantung pada keluarga Gunawan," jelas Jason lagi.


Setelah Jessie mencurahkan seluruh isi hatinya, dia pamit berangkat ke kantor barunya. Jason mengantarkannya sampai depan asrama. Dia kembali masuk kedalam, setelah mobil Jessie menghilang dari pandangannya.


Jessie langsung melajukan mobilnya menuju rumah Kakeknya. Sampai di sana Rudy sudah menunggu di teras depan rumah. "Jessie! Kamu terlambat!" ledek Rudy padanya.


"Maafkan cucumu yang paling cantik ini Kakek. Tadi Jessie mampir ke asrama Jason dulu," jelasnya.


Rudy akhirnya tersenyum, melihat Jessie yang merayunya. Mereka berdua berangkat bersama sopir keluarga Gunawan. Baru sampai di lobby kantor, Jessie dibuat terkagum-kagum dengan perusahaan barunya.


"Kakek. Bukankah ini terlalu mewah untuk perusahaan kecil?" tanya Jessie.


"Kakek sendiri yang mendesain gedung ini. Apakah kamu menyukainya?" tanya Rudy.

__ADS_1


"Jessie sangat menyukainya, ini seperti yang Jessie bayangkan," jawabnya.


Rudy mengajak Jessie memasuki sebuah ruangan yang agak besar. Ternyata seluruh karyawan sudah berkumpul, untuk menyambut hari pertama Jessie di kantor barunya. Sedangkan Ardi terlihat membawa seikat bunga, dan berjalan menghampiri Jessie. "Selamat Sayang. Semoga kamu bisa menjadi pemimpin yang hebat dan dicintai semua orang," ucap Ardi sambil memberikan bunga itu.


Jessie sangat bahagia, mendapatkan penyambutan yang luar biasa. Saat acara inti selesai, seluruh karyawan dipersilahkan menikmati hidangan yang disajikan. Sedangkan Ardi dan Jessie, sudah ditunggu Rudy di ruangan yang berbeda. Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan Rudy.


"Ardi! Tolong kamu bantu Jessie untuk membangun perusahaan ini. Kakek percayakan semua padamu," ujar Rudy.


"Terimakasih untuk kepercayaan Kakek selama ini. Ardi akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Ardi dengan sangat yakin.


Akhirnya setelah Rudy berbincang cukup lama dengan Ardi dan cucunya, dia pamit pulang. Sekarang tinggal Jessie dan Ardi di ruangan itu. Jessie tersenyum lembut, memandang lelaki tampan yang sudah menjadi tunangan itu. Ardi pun memeluk Jessie dengan hati yang bahagia. "Terimakasih. Kamu telah menungguku sekian lama," bisiknya di telinga Jessie.


"Sebenarnya aku pernah menyerah dan ingin melupakan Kak Ardi," balas Jessie sedikit ragu.


"Lalu?" tanya Ardi dengan ekspresi wajah kecewa.


Jessie tersenyum dan menggenggam tangan Ardi sambil menatap matanya tajam. "Lalu Kakek menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya," jawabnya.


Ardi merasa kesal mendengar jawaban Jessie. Ternyata gadis itu hanya ingin menggodanya saja. Ardi pun mencubit pipi Jessie dengan sangat lembut. "Dasar gadis nakal! Aku kira kamu jatuh cinta pada lelaki lain," ucap Ardi.


Bukannya menjawab Jessie malah meledeknya. Ardi menjadi semakin gemas pada gadis itu. Ditariknya tubuh Jessie, hingga tak ada jarak diantara mereka. Wajah Jessie merah merona, ketika Ardi menyentuh pipinya. Hatinya menjadi berdebar tak beraturan. Dengan sangat lembut, Ardi menempelkan bibirnya di bibir Jessie. Jessie pun membalas ciuman Ardi dengan sangat lembut. Bibir mereka menyatu dalam sentuhan yang menggoda. Hingga dirasakan sudah kehabisan nafas, Ardi melepaskan ciumannya dan mengecup kening Jessie.


"Aku mencintaimu Jessie," ucap Ardi lirih.


"Aku juga lebih mencintai Kak Ardi," jawabnya dengan malu-malu.


Ardi kembali memeluk gadis yang sangat dicintainya itu. Entah berapa lama mereka berdua kembali saling memeluk.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2