
Melissa masih tertidur pulas dalam pelukanku. Pelan-pelan aku melepaskan pelukannya, lalu beranjak mandi. Setelah itu aku turun ke dapur, Bi Meri sedang menyiapkan menu sarapan.
" Bibi Meri... Nanti minta tolong sarapannya di antar ke kamar ya." Ucapku sambil mengambil air minum di kulkas.
" Baik Tuan." Bibi Meri menjawab dengan ramah.
Aku kembali ke kamar dengan membawa sebotol minuman. Melihat Melissa yang masih tertidur, aku merasa bersalah membuatnya kelelahan semalam. Tak berapa lama, Astuti mengetuk pintu kamarku. Dia mengantarkan sarapan untuk aku dan Melissa.
" Sayang, bangunlah waktunya sarapan." Aku mengelus kepala Melissa, agar dia terbangun.
" Mas, maaf aku bangun kesiangan," ucapnya dengan nada manja.
" Aku tau pasti kamu kelelahan," jawabku sambil mengecup kening Melissa.
" Aku mau mandi dulu." Melissa menggulung selimut menutupi tubuhnya.
" Kenapa harus ditutupi? Bukankah aku sudah melihat semua?" Pertanyaan ini membuat wajah Melissa merona, lalu berlari menuju kamar mandi.
Sambil menunggu Melissa mandi, aku membereskan kekacauan yang kami timbulkan semalam. Ku lihat ada noda darah di atas sprei. Sprei itu langsung ku lepas, dan aku taruh di cucian kotor. Melissa selesai mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
" Sayang, apa yang semalam masih kurang?" Melissa tak menjawab ku, berjalan cepat ke dressroom.
Melissa keluar dressroom langsung duduk di sofa. Dari wajahnya, terlihat dia malu dengan kejadian semalam.
" Apa masih sakit?" tanyaku yang mengkhawatirkannya.
__ADS_1
" Sedikit," jawabnya singkat.
" Habiskan makanan ini." Aku menyodorkan sepiring penuh makanan.
" Kamu pikir aku kuda. Bisa makan sebanyak ini." jawabnya ketus.
" Nanti malam, kalau kamu mau bisa kok jadi kuda." Aku sengaja menggoda Melissa, hingga wajahnya semakin merona.
Sehabis menghabiskan sarapan kami, aku mengajaknya mengunjungi orangtuaku. Sampai rumahku, aku langsung mengajak Melissa masuk. Ternyata ayah dan ibu sedang berbincang di ruang keluarga.
" Lho ini menantu ibu yang cantik, tidak bilang-bilang kalau mau mampir kesini." Melissa memeluk Ibuku dengan senyum ramah.
Kemudian Melissa menghampiri Ayahku dan mencium tangannya. Kedua orangtuaku sangat senang dengan kehadiran Melissa. Kamipun mengobrol sambil bercanda, menceritakan masa kecilku.
" Nak Melissa mau menginap disini kan?" tanya Ibu kepada Melissa.
" David, menginaplah disini . Mumpung ada istrimu yang bisa menemani Ibu. Sudah berapa tahun coba kamu tak pernah pulang??" Melissa langsung memandangku penuh tanya.
" Yang penting sekarang David disini," jawabku.
Melissa menemani Ibu menonton TV. Sedangkan aku bermain catur dengan Ayahku. Aku memperhatikan 2 wanita yang sangat ku cintai, mengobrol begitu akrab. Melissa sangat diterima di keluargaku. Selain tutur katanya sopan, Melissa juga sangat lembut dalam perilakunya. Setelah agak malam kami semua masuk ke kamar. Melissa melihat-lihat isi kamarku.
" Kalau dilihat, karakter desain kamar ini berbeda dari kamar kita," ucapnya.
" Tentu berbeda Sayang, ini kamar pria lajang. Kamar kita memang didesain untuk pasutri." Melissa menatapku tajam.
__ADS_1
" Mas, apa di kamarmu ini ada foto mantan pacarmu?" tanyanya.
" Dulu aku tak pernah serius berhubungan dengan wanita, jadi tak pernah menyimpan foto-foto. Pertama kali dan terakhir kali aku serius, hanya denganmu Sayang. Kalau soal Renata, kamu tahu sendiri kisah kami," jawabku.
" Apa Mas jujur dengan jawaban ini?" tanyanya lagi.
" Kamu bisa menanyakannya pada Ibu kalau mau." Aku mencoba meyakinkan Melissa.
Melissa akhirnya menyerah dan memeluk tubuhku erat. Kami mengulang lagi malam panjang dan memabukkan di ranjang yang sempit.
Saat sarapan Ayah dan Ibuku memandangi kami berdua sambil senyum-senyum. Aku jadi penasaran apa yang dipikirkan mereka.
" Mengapa pagi-pagi Ayah dan Ibu senyum-senyum?" tanyaku sambil menikmati sarapan.
" Mentang-mentang pengantin baru, teriakan kalian terdengar sampai kamar kami," jawab Ibu.
Melissa yang mendengar langsung tersedak, wajahnya merah padam tertunduk malu.
" Maaf Sayang, aku lupa mengatakan kalau kamarku tidak kedap suara." Melissa langsung memukul dadaku karena sangat malu.
" Tak perlu malu, Ayah dan Ibu sangat memaklumi." Ibu mengatakan dengan lembut.
" Maafkan Melissa Ayah, Ibu. Seharusnya Melissa bisa menahannya." Melissa menundukkan penuh penyesalan.
Karena sudah tidak bisa menahan malu, Melissa mengajakku pulang. Sebelum pulang, orangtuaku berpesan agar kami sering- sering menginap. Sekedar menghabiskan waktu dengan keluargaku.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰