Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 122


__ADS_3

Jessie sudah berpakaian rapi untuk mendatangi kantor polisi. Dia akan menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh Anton. Kali ini Anton tidak akan bisa lolos, bahkan tim hukum Gunawan Corp yang turun tangan sendiri. Begitu mendengar kabar dari David, Rudy langsung memerintahkan pengacara terbaik di perusahaannya. Rudy ingin lelaki yang mencoba melecehkan Jessie, mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan Rudy menginginkan kehidupan lelaki itu menjadi lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.


Rudy sangat murka, ketika mendengar cucu kesayangannya hampir diperkosa. Dia langsung menghubungi banyak orang, entah apa yang direncanakannya. Rudy juga menyuruh Ardi segera menemuinya. Dia berkata ada hal penting yang akan dikatakannya.


Setelah dari kantor polisi, Ardi dan Jessie langsung mendatangi kediaman kakeknya, Rudy. Sepertinya pria tua itu sudah menunggu mereka berdua. Ardi dan Jessie langsung menuju ruang tengah tempat kakeknya berada.


"Selamat siang, Kakek," sapa Ardi dan Jessie hampir bersamaan.


"Kalian duduklah dulu," balas Rudy dengan tatapan sangat dingin.


Rudy berjalan menuju ruang kerjanya, lalu kembali dengan selembar kertas di tangannya. "Bacalah dengan baik, dan segera hubungi mereka. Pernikahan kalian satu minggu lagi," ucapnya.


"Apa!" Jessie menutupi mulutnya dengan tangan. Gadis itu terlalu terkejut dengan perkataan Rudy.


Ardi juga sangat terkejut, namun lelaki itu mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin. Lalu memandang Rudy penuh hormat. "Terimakasih, Kakek," ucapnya dengan sopan.


Rudy akhirnya mampu memberikan sedikit senyuman pada Ardi dan Jessie. Menikahkan mereka berdua adalah cara Rudy untuk melindungi Jessie. Pria itu menganggap Ardi cukup baik untuk cucunya. Walaupun awalnya cukup berat menikahkan Jessie, tetapi sekarang Rudy menganggap pernikahan mereka akan menjadi keputusan terbaik. Setelah berbincang cukup panjang, Pasangan muda itu pamit pulang. Mereka akan mengunjungi WO yang akan mengurus pernikahan mereka.


Di dalam mobil, Jessie masih belum bisa percaya dengan semuanya. Dia tak menyangka seminggu lagi dirinya akan menikahi Ardi. Gadis itu terus menebarkan senyuman manis dari wajahnya. "Kak! Akhirnya seminggu lagi kita akan menikah," cetusnya di tengah suasana hening.


Ardi tersenyum sambil terus mengemudikan mobilnya. "Tapi aku merasa ini terlalu cepat. Aku belum menyiapkan apapun untuk prosesi lamarannya," balas Ardi dengan nada sedih.


"Tak perlu mempersiapkan apapun, memilikimu sebagai suamiku sudah menjadi hadiah besar untukku," jelas Jessie dengan sikap manjanya.

__ADS_1


Ardi sedikit merasakan kelegaan di dalam hatinya. Paling tidak, Jessie tak akan mengharapkan sebuah lamaran yang mewah dan merepotkan. Sampai di kantor WO yang ditunjuk oleh Rudy, Jessie langsung membicarakan tentang konsep pernikahan mereka. Ternyata semua sudah diatur oleh kakeknya, Jessie dan Ardi tinggal mencoba gaun yang akan dikenakannya.


Akhirnya mereka mendatangi sebuah rumah mode di pusat kota. Ternyata Rudy sudah memesan sebuah gaun yang sangat mewah dan indah. Jessie membelalakkan matanya, dia tak percaya akan memakai gaun semewah itu. Seseorang pun datang untuk membantunya memakai gaun itu. Saat Jessie sudah keluar dari fitting room, Ardi tak berkedip menatap calon istrinya. "Mungkinkah ini mimpi?" tanya Ardi dalam hatinya.


"Kak! Rasanya aku tak sanggup memakainya," cetus Jessie di tengah lamunan kekasihnya.


Ardi tersentak kaget, lalu tersenyum lembut. "Kenapa, Sayang? Maaf, aku terlalu terpukau dengan pesona cantikmu," balasnya menggoda.


Jessie tersenyum malu mendengar ucapan Ardi. Gadis itu memandang kekasihnya dengan hati yang sangat berdebar. "Apa aku pantas memakai gaun semewah ini?" tanyanya ragu.


Ardi merapikan sedikit rambut Jessie yang menutupi wajahnya. Lelaki itu lalu membawanya berdiri di sebuah cermin berukuran besar. "Lihatlah! Kamu sangat cantik memakai gaun ini, menjadikan aku terlihat kurang pantas bersanding denganmu," ujarnya merendah.


"Cepatlah coba tuxedo Kak Ardi, aku juga ingin melihat calon suamiku," ucap Jessie dengan manja.


Tak berapa lama, Ardi keluar dengan tuxedo warna grey yang sangat cocok dengan badannya. Jessie terus menatap kekasihnya, bahkan tanpa mengedipkan matanya. Wanita itu terpesona dengan penampilan calon suaminya. "Kak! Bisakah kamu mengganti dengan model lainnya?" tanya Jessie dengan sangat kesal.


Jessie masih cemberut dengan wajah yang kesal. "Kak Ardi terlalu tampan memakai tuxedo itu. Jessie sangat yakin kalau wanita-wanita itu akan memelototi Kak Ardi," jawabnya.


Ardi hanya bisa tersenyum melihat tingkah calon istrinya. Dia tak menduga sebelumnya, kalau Jessie bisa menjadi sangat posesif. Hal itu semakin menyakinkan Ardi, jika Jessie pasti sangat mencintainya. Dia pun juga semakin mencintai gadis itu. Bahkan rasa cintanya terlalu besar, mungkin lebih besar dari samudera.


"Aku akan meminta kakek membatalkan pesta pernikahan kita," cetus Jessie tanpa berpikir.


Rasanya Ardi ingin memukul kepalanya sendiri. Tingkah gadis itu semakin membuatnya serba salah. Lelaki itu mendekati kekasihnya, lalu berucap lirih di telinganya. "Apa kamu ingin membatalkan pernikahan kita?" bisiknya dengan lembut. Ardi terdengar sangat serius mengucapkannya, padahal dalam hati dia tertawa.

__ADS_1


"Aku tetap menikah dengan Kak Ardi, tapi tak perlu memakai pesta. Aku tak rela Kak Ardi menjadi santapan wanita yang kelaparan," ujar Jessie semakin kesal.


"Kalau kakek menolaknya, lalu malah membatalkan pernikahan kita. Apa kamu sudah menyiapkan hatimu?" tanya Ardi dengan ekspresi sangat serius.


Jessie langsung terdiam tak mengatakan apapun. Bahkan sampai pulang, gadis itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Jessie merasa sedikit gelisah membayangkan pesta pernikahannya. Bagaimana orang-orang akan memandang suaminya nanti? Belum apa-apa gadis itu sudah berpikir yang tidak-tidak.


Ardi yang melihat kegundahan Jessie menjadi sedikit khawatir. "Sayang. Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut.


Jessie seperti menghela nafasnya, lalu memaksakan tersenyum. "Aku mencoba untuk baik-baik saja," jawabnya tanpa ekspresi.


Ardi merasa kurang puas dengan jawaban Jessie. Menurutnya, jawaban itu terdengar ambigu. Seperti ada maksud lain yang sengaja disembunyikan oleh kekasihnya. Dengan tenang dan menekan emosinya, Ardi mencoba memahami perasaan Jessie. Dia tak ingin membuat kekasihnya terus menerus gelisah sebelum hari pernikahan. "Sayang. Jangan khawatir tentang apapun juga. Yakinkanlah dirimu, semua akan baik-baik saja. Percayalah! Hanya dirimu wanita yang ada di hatiku, tak ada yang lain," hiburnya dengan yakin.


Jessie akhirnya sedikit tenang, wajahnya mulai memperlihatkan sedikit senyuman. "Aku percaya dengan Kak Ardi, tapi tak mempercayai wanita lain," jawabnya dengan menggoda.


Gadis itu menjadi lebih ceria, tak cemberut seperti saat mencoba gaun pengantin tadi. "Kak. Kita jalan-jalan yuk," ajaknya pada Ardi.


Ardi mengajak Jessie jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka berdua mulai mencari barang-barang untuk keperluan pernikahan. Lalu Ardi sengaja mengajak Jessie ke sebuah toko perhiasan yang sangat terkenal. Mereka berdua masuk dan mendapatkan sambutan ramah dari pegawai toko.


"Selamat datang, Pak Ardi. Pesanan Anda sudah kami siapkan," sapa seorang pegawai toko perhiasan.


Ardi dan Jessie lalu duduk di kursi tunggu disana. Tak berapa lama seorang wanita datang dengan membawa satu set perhiasan lengkap dan sepasang cincin pernikahan. "Ini perhiasan pesanan Anda. Silahkan dicek dulu," ujar pegawai itu dengan sangat ramah.


Ardi mengambil kotak cincin pernikahan itu, dan membantu Jessie mencoba cincinnya. "Ini sangat pas di jari aku," ucap Jessie senang.

__ADS_1


"Langsung dibungkus saja, tolong tagihannya," ucap Ardi pada pegawai toko, sambil memberikan sebuah kartu kredit.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2