
Aku bingung, kemana lagi harus mencari Melissa? Semangatku hilang bersama kepergiannya. Aku tak semangat dalam bekerja ataupun menjalani hari-hariku.
Tepat satu bulan menghilangnya Melissa, aku memutuskan resign dari restoran tempat aku bekerja. Aku pikir dengan suasana yang baru, mampu memunculkan semangat baru pula. Aku memutuskan pulang ke kota kelahiranku. Kota Solo, di sinilah aku akan memulai usaha baruku. Di Solo, aku membeli tanah di dekat kampus ternama di kota itu. Walaupun aku harus menghabiskan tabungan dan uang hasil penjualan rumahku yang di Surabaya. Aku membangun Cafe dengan 3 lantai yang aku desain sendiri. Lantai paling atas sengaja aku desain untuk tempat tinggalku. Meskipun aku ada di kota Solo, aku memilih tinggal sendiri tanpa orang tuaku. Sejak aku kuliah aku terbiasa hidup mandiri.
Dalam waktu satu bulan akhirnya pembangunan cafe ini selesai juga. Aku cukup puas dengan hasilnya. Aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk opening cafe baruku. Mulai mempersiapkan peralatan, pernak-pernik, sampai karyawan pun sudah siap operasional.
Hingga tiba di hari opening, aku mengundang beberapa teman kuliahku. Di hari pertama buka, suasana cafe tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pengunjung dan sedikit teman kuliahku. Akupun mulai menyapa teman-temanku.
"Ayo, silahkan dinikmati hidangannya. Jangan sungkan," ucapku pada teman-teman kuliahku.
"Sekarang jadi pengusaha cafe paling tampan dong di kota Solo ini," ledek Lidya padaku.
Lidya adalah teman kuliahku dulu. Dia bekerja sebagai EO, juga pemilik sebuah butik. Hubunganku dengannya sangat dekat, karena orang tuanya teman lama ayahku. Mereka sama-sama menjadi pengusaha batik.
__ADS_1
"Vid, bolehkah cafe ini jadi basecamp buat proyekku selanjutnya," tanya Lidya padaku.
"Tentu saja boleh, tapi tak ada yang namanya harga pertemanan lho.'' Sontak kami semua tertawa mendengar jawabanku.
''Kamu mulai lagi meremehkan aku Vid, bisnisku itu bukan main-main,'' jelas Lidya padaku.
''Baiklah, aku tunggu kedatanganmu dengan senyum,'' ucapku sambil tersenyum menggoda Lidya.
Selama ini kedekatanku dengan Lidya tak lebih seperti seorang kakak kepada adiknya. Sejak hari itu, Lidya jadi sering mendatangi cafe ini. Terkadang untuk meeting, bertemu klien, ataupun sekedar menghabiskan waktu disini.
''Tiap hari kerjanya melamun aja, kerja dong, Vid." Lidya menepuk pundakku membuatku kaget mendengar suaranya.
''Siapa yang melamun?'' tanyaku tanpa ekspresi.
__ADS_1
''Nanti siang, Wulan akan kesini. Hari ini kamu harus ketemu dia,'' perintah Lidya padaku.
Selama ini Lidya selalu menjodohkan aku dengan teman-temannya. Rasanya aku seperti lelaki yang tak punya harga diri, hanya di obral sana sini. Saat makan siang aku benar-benar menemui Wulan. Ternyata dia gadis yang cukup cantik. Dari sorot matanya, aku yakin sifatnya sangat lembut dan penuh perhatian.
"Wulan, maaf baru bisa menemui mu sekarang,'' sapaku mencoba membuka obrolan kami.
''Tidak apa-apa, aku tau kamu cukup sibuk,l." sedikit ucapannya saja sudahmembuat aku lega.
"Ternyata dia wanita yang pengertian,'' batinku dalam hati.
Beberapa kali aku dan Wulan menghabiskan waktu bersama. Kami pun mulai dekat, dari yang aku lihat sepertinya Wulan mulai mencintaiku. Aku mencoba memaksakan diriku membuka hati untuknya, namun justru membuatnya kecewa.
Puncaknya, saat aku menunggu Wulan berbelanja. Aku sengaja menunggunya di dalam mobil. Karena kelelahan aku ketiduran. Saat tiba di mobilku, Wulan membangunkan aku. Aku sangat kaget, hingga tanpa sadar aku malah memanggil nama Melissa berulang kali. Kemudian dia marah dan langsung pergi meninggalkan aku begitu saja.
__ADS_1
Kejadian itu sampai juga di telinga Lidya. Dia merasa kasihan kepadaku, karena belum bisa melupakan wanita yang meninggalkan aku. Aku pun pasrah dan hanya bisa berharap Melissa akan kembali kepadaku.
Happy Reading