Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 114


__ADS_3

Jessie langsung memandang Ardi dengan tatapan aneh. Gadis itu tak menyangka, kalau Anton adalah chef baru yang diceritakan oleh mamanya. Ardi membalas tatapan Jessie dengan sangat lembut. Seolah mengisyaratkan agar dirinya tetap tenang dan tak perlu mengkhawatirkan apapun. Kemudian Jessie kembali menatap Anton, sekuat mungkin gadis itu menahan kegelisahannya. "Apa kabar Anton?" sapanya dengan berpura-pura tenang.


Anton tersenyum ramah sambil terus menatap gadis itu. "Aku tak menyangka, kamu menjadi gadis yang sangat cantik. Bukankah ini adalah sebuah takdir, kita bisa bertemu kembali di sini," jawabnya.


"Bagaimana seorang model bisa menjadi chef di sebuah restoran?" ledek Ardi.


Anton terlihat tersenyum menyeringai, wajahnya mendadak kesal mengingat kejadian di masa lalu. "Kecelakaan yang menimpamu menyebabkan karirku hancur, aku harus mengubah profesi ku. Bukankah kedengarannya sangat tidak adil bagiku?" jawabnya dengan ekspresi aneh.


Ardi lalu terdiam, pikirannya melayang di kejadian beberapa tahun silam. Sebuah kecelakaan yang membuatnya berada jauh dari wanita yang dicintainya. Membayangkan betapa tersiksanya dirinya ketika menjalani pengobatan, dadanya menjadi terasa sesak. Dia mencoba mengendalikan perasaannya, bersikap senatural mungkin. "Itu sudah sangat pantas untuk membayar kelakuan burukmu di masa lalu," jawabnya dengan dingin.


Anton mencoba menahan tawanya, dia merasa kalau Ardi masih sangat konyol. "Selamat menikmati makan malam ini, aku tak ingin lebih mengganggu kalian lagi. Jessie! Sepertinya kita akan berjodoh," ucapnya sebelum meninggalkan mereka semua.


Adam dan Lusia sama-sama tak mengerti, pertunjukan apa yang sedang mereka saksikan. Adam tak menyangka, perjuangan Ardi untuk mendapatkan Jessie sangatlah berat. Dia menyesal pernah mencoba memisahkan pasangan itu. Sekarang Adam merasa sangat bersalah pada adiknya itu. "Siapa lelaki tadi?" tanyanya.


"Dia Anton, teman SMA Kak Ardi. Dialah yang memicu perkelahian dan menyebabkan kecelakaan beberapa tahun yang lalu," jelas Jessie.


"Mari kita mulai makan malam ini, tak perlu memikirkan seseorang yang merusak suasana," seru Ardi dengan senyuman di wajahnya.


Setelah makan malam selesai, Adam dan Lusia pamit pulang. Ardi juga mengantarkan Jessie ke rumahnya. Gadis itu merasakan ada yang berbeda dari Ardi. Seolah Ardi menyimpan kekesalan di dalam hatinya. Sepanjang perjalanan, lelaki itu diam tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya kegelisahan yang terlihat dari tatapannya. Jessie menjadi khawatir melihat sikap Ardi. "Kak. Berhenti dulu!" seru Jessie tiba-tiba.

__ADS_1


Ardi pun menghentikan mobilnya di tepi jalanan yang agak sepi. Dia pun menatap lekat pada kekasihnya itu. Seolah dia menanyakan alasan Jessie ingin menghentikan mobilnya. Namun mulutnya tak sanggup berucap, dia hanya bisa terus memandangi wajah gadis itu.


Jessie tak tahu harus berbuat apa, dia menggenggam tangan Ardi dan memeluk tunangannya itu. "Kak, jangan pikirkan tentang Anton. Dia hanya menggodamu saja," ucapnya lirih.


Bukannya lebih tenang, hati Ardi semakin bergejolak tak menentu. Lelaki itu benar-benar terlihat lemah saat itu. Butiran air matanya menetes di punggung Jessie, gadis itu pun menyadarinya dan semakin memeluknya erat.


"Kalau aku sampai harus kehilanganmu lagi, aku akan memilih untuk mati," ucap Ardi.


"Kak Ardi!! Apa yang Kak Ardi katakan?" Air mata Jessie akhirnya terjatuh juga.


"Banyak hal yang harus aku relakan untuk bisa bersamamu. Jika takdir tak membiarkan kita untuk bersama, untuk apa aku hidup," ujar lelaki itu dalam kesedihan.


Hari berikutnya, setelah selesai dengan kuliahnya, Jessie mendatangi kantornya. Namun dia tak dapat menemukan Ardi dimana pun. Dia pun mendatangi sekretarisnya. " Apa Ardi sedang meeting di luar kantor?" tanyanya.


"Hari ini Pak Ardi meminta ijin untuk tidak datang ke kantor. Sepertinya beliau sedang sakit. Bukankah Anda sudah tahu?" tanyanya ramah.


"Terimakasih infonya," jawab Jessie lalu beranjak pergi.


Sekretaris itu menjadi bingung, bagaimana bisa atasannya itu tak memberitahu kekasihnya kalau sedang sakit. Dia hanya merasa kasihan pada atasannya. Selama ini Ardi harus bolak-balik dari kantor miliknya dan kantor Jessie. "Pasti Pak Ardi sangat kelelahan," gumam sekretaris itu.

__ADS_1


Begitu meninggalkan kantor, Jessie langsung menuju apartemen Ardi. Selama ini Ardi memilih tinggal sendiri, daripada harus tinggal bersama papa atau mamanya. Sampai di lobby apartemen, Jessie menanyakan nomor kamar Ardi pada resepsionis. Memang selama ini Jessie belum pernah mengunjungi apartemen Ardi. Mereka berdua lebih suka bertemu di rumah Jessie atau di restoran. Sampai di unit 707, gadis itu menekan bel yang berada di samping pintu. Tak berapa lama pintu itu pun terbuka. Dilihatnya seorang lelaki yang berdiri dengan wajah sedikit pucat. "Kenapa Kak Ardi tak mengatakan kalau sedang sakit?" tanyanya sambil memeluk kekasihnya.


"Aku tak ingin membuatmu mengkhawatirkan aku," jawabnya dengan sedikit senyuman.


Ardi berjalan ke dapur, hendak membuatkan minuman untuk gadis itu. Namun Jessie justru memeluknya dari belakang. "Biar hari ini Jessie yang mengurus Kak Ardi," ucapnya.


Jessie mendorong Ardi dengan lembut, dan memaksanya duduk di sofa. Kemudian Jessie menyibukkan dirinya di dapur. Gadis itu membuat bubur untuk lelaki yang dicintainya itu. Jessie memasak bubur itu dengan pandangan berkaca-kaca, namun dia berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Ardi. Setelah bubur itu matang, Jessie menyuapinya dengan sangat telaten. Pandangan matanya tak lepas dari Ardi.


Selesai menyuapi kekasihnya, Jessie berjalan mengelilingi sudut apartemen itu. Sebuah apartemen yang cukup luas untuk tinggal seorang diri. Dengan desain minimalis modern, yang menjadikan setiap ruangan terlihat lebih elegan. Berjalan memasuki kamar Ardi, sebuah kamar yang sangat nyaman dengan pemandangan yang sangat indah. Jessie merasakan kenyamanan berada di apartemen tunangannya. Dia pun ikut tiduran di samping Ardi yang terlihat memejamkan matanya. "Kak, ayo kita menikah!" bisiknya di telinga Ardi.


Seketika itu juga Ardi langsung membuka matanya. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ardi langsung menarik Jessie ke dalam pelukannya. "Aku belum bisa menikahimu sekarang. Aku sudah berjanji akan menikahimu setelah kamu sudah berhasil membangun bisnismu," jelas Ardi.


"Siapa bilang Kak Ardi yang akan menikahiku?" tanyanya.


Ardi bingung sekaligus kecewa mendengar pertanyaan itu. Dia tak mengerti apa maksud ucapan Jessie. Ardi hanya memandang Jessie dengan ribuan pertanyaan yang bergemuruh di dadanya.


Melihat kekecewaan lelaki itu, Jessie tersenyum dan terus memandangi wajahnya. "Bukan Kak Ardi yang menikahi ku, namun Jessie yang akan menikahi Kak Ardi," jawabnya.


Ardi tersenyum lega, dia pikir Jessie akan menikahi lelaki lain dan meninggalkannya.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2