
Setelah 15 menit perjalanan, sampai juga di depan gedung perkantoran Gunawan Corp. Jessie pun turun dan mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Terimakasih Pak Adam, maaf jadi merepotkan Anda. Kalau begitu saya permisi," pamitnya.
"Aku senang bisa mengantarmu, sampai jumpa di kampus," ucap Adam dengan senyuman khas dari wajahnya.
Jessie hanya mengulas sedikit senyuman, kemudian berlalu meninggalkan Adam. Lelaki itu masih memandang ke arah Jessie. Setelah Jessie benar-benar menghilang dari pandangan Adam, barulah dia pergi meninggalkan gedung kantor itu.
Memasuki ruangannya, Rudy sudah duduk menunggu cucu perempuannya. Jessie sedikit terkejut dengan kedatangan kakeknya tanpa pemberitahuan. Jessie langsung menghampirinya dan memeluknya. "Kakek aku sangat merindukanmu," ucapnya lirih.
Rudy membelai lembut rambut Jessie. "Kakek lebih merindukan cucu Kakek yang nakal ini," balasnya.
" Maafkan Jessie Kakek. Jessie terlalu memikirkan diri sendiri, hingga membuat semua keluarga menderita," ujarnya.
"Jangan katakan itu. Kakek sama sekali tak menderita, hanya terlalu merindukanmu. Sangat sulit untuk menemui gadis cantik ini. Berulangkali datang ke rumahmu, kamu tak pernah ada disana," kata Rudy dengan penuh kasih sayang.
Selama ini memang tidak ada memberitahu yang Rudy, tentang kepindahan Jessie ke apartemennya. Beberapa tahun belakangan ini, Jessie hampir tak pernah menunjukkan batang hidungnya pada keluarga besar Gunawan. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, terlalu sibuk menata hatinya.
Rudy masih saja membelai rambut Jessie yang lembut. "Apa Papamu sudah mengatakan tentang keinginan Kakek untuk menjodohkanmu?" tanya Rudy.
"Jessie tak akan menolak keinginan Kakek. Asal itu membuat seluruh keluarga bahagia." Mata Jessie mendadak berkaca-kaca, wajahnya terlihat sedih.
"Cucu Kakek yang paling cantik, jangan pernah menangis lagi. Kakek hanya ingin kamu bahagia," jelasnya.
Jessie menganggukkan kepalanya, mencoba tersenyum setulus mungkin. Dia berusaha dengan segala kekuatan untuk menahan air matanya. Rudy yang menatap Jessie menahan air matanya, merasakan kepedihan di dalam hatinya. Rudy tak menyangka kalau Jessie bisa begitu rapuh karena cintanya di masa lalu. Pria tua itu berjanji akan mengusahakan kebahagiaan untuk cucu perempuan satu-satunya.
Rudy pun pamit setelah melepas rindu pada cucunya. Dia meminta Jessie untuk sering-sering menemuinya. Jessie pun mengiyakan permintaan Kakeknya.
"Kakek jaga kesehatan ya, jangan capek-capek. Jessie sayang Kakek," kata Jessie sebelum Rudy meninggalkan ruangannya.
Jessie kemudian melakukan pekerjaannya yang menumpuk di atas meja. Begitu asyik dengan pekerjaannya, Jessie tak menyadari kalau hari sudah larut.
__ADS_1
***
Kediaman David Gunawan
Melissa sedang menonton drama kesayangannya di ruang tengah. Aku yang baru selesai mandi, menghampirinya dan berbaring di pangkuannya.
"Mas David minggir deh! Dramanya lagi bagus-bagusnya, jangan ganggu dong," seru Melissa kesal.
"Sayang... kamu tega banget ngusir suamimu ini," protesku pada Melissa.
Melissa pun memandangi wajahku dengan tajam. "Lama-lama aku usir beneran deh," balasnya.
Aku pun bangun dan duduk disampingnya. "Ampun Sayang, aku hanya bercanda," ucapku.
Tak mendapatkan perhatian dari istriku, aku kembali ke kamar. Masih bingung tak ada yang bisa dikerjakan, aku pergi ke ruang kerjaku. Terlihat beberapa dokumen yang masih berantakan di atas meja. Aku mulai merapikan sekaligus memeriksa dokumen yang harus dibawa besok pagi.
Saat aku terlalu fokus pada kertas dihadapanku, Melissa masuk ruangan tanpa suara. Wanita cantik itu langsung duduk di pangkuanku. "Mas... temani di kamar yuk!" ajaknya.
Entah apa yang dipikirkan istriku. Tadi dia terang-terangan mengusirku, sekarang dia malah sengaja menggodaku. Sambil duduk dipangkuan ku, Melissa dengan lembut menciumi bibir lalu berpindah ke leherku. Sebenarnya aku sedikit risih dengan tingkahnya. "Sayang biarkan aku memeriksa ini sebentar," jelasku dengan lembut.
Bukannya berhenti menggoda, Melissa justru menduduki pahaku sambil menghadap kearahku. Pria mana yang sanggup menolak godaan seperti ini. "Sayang, kamu sengaja menggodaku," cetus ku di tengah godaan yang terlalu menggiurkan untuk ditolak.
Sebagai seorang pria yang normal, pasti aku tergoda dengan berbagai sentuhan yang Melissa berikan. Aku pun mengangkat tubuhnya, dan membaringkannya di atas meja kerjaku. Seluruh benda di atas meja menjadi berserakan di lantai. Sepertinya gairah dan nafsu semakin menguasai kami berdua.
Aku sedikit menggigit telinganya dan berbisik lirih. "Akan sangat menggairahkan jika kita bercinta di meja ini," ucapku lirih.
Melissa tersenyum seolah mengisyaratkan bahwa dia menginginkan hal yang sama. Tanpa menunggu aba-abanya, aku memulai permainan panas kami. Melissa terlihat sangat menikmati permainan kali ini. Hingga setelah beberapa ronde kami kelelahan dan tertidur di sofa ruang kerjaku. Aku memeluk tubuh polos Melissa, yang meringkuk dan melekat di tubuhku.
Pagi harinya, aku lebih dulu terbangun. Aku menutupi tubuh Melissa dengan selimut, lalu memindahkannya ke kamar. Istriku terlihat sangat kelelahan, membuatku tak tega membangunkannya. Aku pun menyiapkan sendiri keperluanku, setelah siap aku mencium kening Melissa dan berangkat ke kantor.
Sampai di kantor suasana sudah sangat ramai. Karena memang aku datang kesiangan. Memasuki ruangan, Ayah Rudy sudah duduk di kursi kebesaranku.
__ADS_1
"Selamat pagi Ayah," sapaku.
"Ini sudah siang David," jawabnya.
"Maaf Ayah," ucapku singkat.
"Ternyata kebiasaanmu tidak pernah berubah. Kalian berdua pasti masih saja bergairah seperti pasangan muda. Oh ya... Jessie sudah setuju untuk melakukan perjodohan itu," jelas Ayah Rudy.
"Benarkah? Semoga Ayah tidak lupa untuk mengutamakan kebahagiaan Jessie," ucapku.
" Aku sendiri yang memastikan kebahagiaan untuk Jessie. Setelah Jason bertunangan, seminggu kemudian Jessie juga akan bertunangan," jawab Ayah Rudy dingin.
"Bukankah itu terlalu cepat?" tanyaku.
"Kamu tak perlu memikirkannya, biar Ayahmu ini yang mengurusnya," jawab Ayah Rudy.
Setelah perbincangan singkat kami, Ayah Rudy pergi ke ruangan Jessie. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Walaupun sangat penasaran, aku menahan rasa ingin tahuku.
Aku sedikit khawatir dengan perjodohan ini. Mungkinkah Jessie bisa mendapatkan kebahagiaan setelah luka mendalam atas cinta pertamanya. Aku selalu gelisah setiap kali memikirkan anak gadisku.
Setelah melihat Ayah Rudy meninggalkan kantor, aku langsung masuk ke ruangan Jessie.
"Apa Papa begitu penasaran, sampai lupa tak mengetuk pintu?" tanyanya dengan senyuman.
"Maaf Sayang," jawabku sedikit malu.
"Papa tak perlu mengkhawatirkan Jessie. Jessie ikhlas menerima perjodohan itu. Kakek sama sekali tidak memaksa Jessie, jika itu yang Papa pikirkan. Jessie juga setuju dengan tanggal pertunanganku. Ok Papa David tersayang, jangan terlalu memikirkan gadis cantikmu ini. Lihatlah! bukankah Jessie cukup dewasa, bahkan untuk menikah sekalipun," jelasnya tanpa ragu.
Aku memeluk gadis cantik di depanku. "Dimata Papa, kamu tetap gadis kecil yang Papa sayangi. Itu semua tak akan berubah, meskipun suatu hari kamu sudah menjadi seorang ibu," ucapku sambil terus memeluknya.
Aku tak menyangka, Jessie sudah menjadi gadis dewasa. "Semoga kamu dapatkan kebahagiaanmu Danisha Jessie Gunawan," ucapku dalam hati.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰