
Setelah cuti seminggu untuk menghabiskan waktu dengan Melissa, pekerjaan di kantor menumpuk. Pagi- pagi aku sudah dihadapkan dengan puluhan file. Saat aku sedang meeting bulanan, ponselku berdering. Ku lihat panggilan dari Kak Adrian.
" Iya Kak..."
" Apa... Aku akan segera menyusul"
Tanpa pamit aku langsung berlari menuju parkiran. Tadi Kak Adrian mengabari kalau Melissa di bawa ke RS Universitas.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di RS. Aku bertanya ke Customer Care, bertanya keberadaan Melissa. Ternyata dia sudah ada di ruang perawatan.
" Kak... Bagaimana keadaan Melissa?" tanyaku panik pada Adrian.
" Tenanglah, dokter sudah menunggumu di ruangannya." Adrian mencoba membuatku tenang.
Aku bertanya kepada perawat yang masih ada di ruang perawatan Melissa. Perawat itu mengantarkan ku ke ruangan dokter.
" Selamat siang dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanyaku dengan sedikit takut.
" Anda suami Ibu Melissa?" tanya dokter itu.
" Benar sekali Dok," jawabku.
__ADS_1
" Kabar baiknya istri anda sedang hamil, kemungkinan kehamilannya memasuki minggu ke 6. Tapi kabar buruknya, istri anda terlalu lemah. Dia harus bedrest selama beberapa minggu ke depan. Jangan sampai stress ataupun kelelahan. Itu akan membahayakan kandungannya." jelas Dokter itu panjang lebar.
Aku tak tahu harus senang atau sedih. Melissa sedang mengandung anakku, namun di sisi lain kondisinya sangat lemah.
" Bagaimana aku bisa tidak tahu, kalau istriku selama ini sedang hamil?" Aku merutuki diriku sendiri.
Aku merasa bersalah dengan semua ini. Melihat kondisi istriku sangat lemah, membuatku tak berdaya. Aku masuk kamar rawat Melissa.
" Kakak kembali saja ke hotel, biar aku saja yang menemaninya," ucapku pada Adrian.
" Jangan terlalu mengkhawatirkannya, dia pasti akan baik-baik saja." Adrian menepuk pundakku, lalu pamit pulang.
" Mengapa Mas David menangis?" tanyanya sambil menghapus air mataku.
" Sayang, kamu sudah bangun." Aku pun menciuminya karena senang.
" Apa yang terjadi padaku?" tanyanya lagi.
" Dokter mengatakan kamu sedang mengandung, tapi kondisimu sangat lemah," jelasku.
" Aku benar-benar hamil Mas?" Melissa terlihat bahagia sampai meneteskan air matanya.
__ADS_1
" Tapi harus bedrest Sayang. Tidak boleh stres atau kelelahan. Semua ini salahku, seharusnya aku bisa menjagamu dan anak kita," ucapku penuh penyesalan.
" Mas... Aku dan anak kita akan baik-baik saja. Istirahat sebentar nanti juga membaik" Melissa tersenyum menatapku.
Paling tidak senyuman itu mampu mengurangi kegelisahanku.
Setelah menghabiskan waktu 3 hari di RS, hari ini Melissa sudah dibolehkan pulang.
Aku menambahkan 2 lagi pelayan di rumah kami. Kehamilannya ini membuatku semakin over protective terhadap Istriku. Aku juga meminta Ayah menggantikan posisi jabatan Presdir untuk sementara. Paling tidak sampai kehamilan Melissa sudah stabil dan tidak bermasalah.
Berita tentang kehamilan Melissa mulai menyebar di seluruh Gunawan Corp. Banyak yang memberikan selamat, tetapi ada juga yang mencibir Melissa.
" Istri manja, cuma hamil saja minta ditungguin suami "
" Kasihan Pak David, harus tunduk kepada istrinya terus "
" Beruntung sekali istrinya Pak David, mendapatkan suami yang selalu menuruti keinginannya "
Masih banyak lagi yang mereka katakan, seolah mereka semua tak rela aku menjadi suami Melissa. Walaupun aku tidak berada di kantor, namun aku memiliki orang yang aku percaya. Dia juga yang selalu melaporkan apapun yang terjadi di Gunawan Corp.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1