Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Sudahkah Terlambat?


__ADS_3

Jessie menjalani hari-harinya seperti biasa. Setelah sebulan lalu dia memutuskan hubungannya, Jessie jarang sekali bertemu Ardi. Mungkin Ardi sedang menghindarinya atau mungkin dia sedang sibuk mempersiapkan ujian akhirnya. Besok selesai ujian, Ardi sudah lulus dari sekolah ini. Paling tidak dengan tak berjumpa, Jessie bisa mengurangi rasa bersalahnya pada mantan kekasihnya itu.


Berita tentang berakhirnya hubungan Jessie dengan sang ketua OSIS, menyebar begitu cepat. Beberapa murid lelaki mulai terang-terangan mendekati Jessie.


Hingga suatu hari ada teman sekelas Jessie, yang menyatakan perasaannya saat pelajaran Bahasa Indonesia. Lelaki itu bernama Rio, dia adalah siswa terpandai di kelasnya. Saat guru memberikan tugas membaca puisi, Rio justru membacakan puisi curahan hatinya untuk Jessie. Seluruh kelas menertawainya, Rio juga hanya mendapat malu. Karena Jessie sama sekali tak meresponnya.


Sedangkan hubungan Jason dan Kanaya semakin mesra saja. Setiap hari libur, mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Seperti hari ini, Jason mengajak Kanaya menonton film di bioskop. Sampai di gedung bioskop pasangan itu bingung dengan film yang akan ditontonnya.


"Ay... kamu pingin nonton film apa? Aku ngikut aja, aku tidak biasa menonton di bioskop," tanya Jason sambil melihat daftar film yang diputar.


"Apa ya... Kanaya juga ikut bingung," ujarnya sambil menatap Jason.


"Daripada bingung kita nonton film horor aja. Kebetulan ada 1 film horor yang cukup booming," cetus Jason.


Kemudian Jason membeli tiketnya, sedangkan Kanaya membeli popcorn dan minuman. Saat film sudah akan dimulai, lampu mulai dimatikan. Kanaya langsung menggenggam tangan Jason dengan sangat erat.


"Ay... Kamu takut gelap?" tanyanya.


"Tidak Kak, hanya ingin menggenggam tangan Kakak aja," jawabnya berbohong.


Film pun dimulai, awalnya adegannya biasa saja. Namun ditengah film ada seorang wanita berubah menjadi kuntilanak mengerikan. Kanaya menjerit dan memeluk Jason dengan erat. Jason jadi tahu, kalau sebenarnya Kanaya ketakutan. Gadis itu menahan rasa takutnya, sampai Jason bisa mendengar degup jantungnya di dalam pelukannya. Tak ingin membuat kekasihnya ketakutan, Jason terus memeluknya hingga film itu selesai.


"Kenapa tak mengatakan kalau kamu takut melihat film horor?" tanya Jason.


"Aku ingin menjadi wanita tangguh di depanmu," jawabnya sambil tertawa karena malu.


"Tak perlu menjadi wanita tangguh untuk mencintaiku, aku menerimamu apa adanya." Jason pun mencium keningnya.


Mereka berdua kembali ke tempat parkir mobil, dan segera pulang. Didalam mobil Kanaya terus saja menanyai Jason, seperti seorang reporter.


"Di kelas, Jessie lebih banyak diam. Dia tidak ceria seperti dulu lagi. Sekarang banyak teman-temanku yang mendekatinya. Apa Jessie tidak merindukan sepupuku?" tanya Kanaya.

__ADS_1


"Sekarang kami berdua jarang ngobrol. Bagaimana kabar Ardi?" tanya Jason.


"Kak Ardi sedang fokus dengan ujian akhirnya. Walaupun kenangan tentang Jessie terus menghantuinya. Kak Ardi tak mampu melupakan Jessie. Aku pernah memergoki dia menangis di kamarnya. Rasanya aku juga ingin menangis melihatnya," tutur Kanaya sangat sedih.


Jason merasa sangat kasihan pada Ardi. Namun dia tak bisa membantu apapun. Jessie terlalu keras kepala jika itu urusan cinta.


***


Dirumahnya, Jessie sedang melihat drama Korea di ruang tengah. Melissa pun ikut bergabung dengannya.


"Sudah lama Mama tak melihat Ardi kesini?" tanya Melissa.


"Jessie sudah putus dengan Kak Ardi," jawabnya.


"Apa!! bukankah kamu sangat mencintainya?" tanyanya lagi.


"Siapa bilang Jessie cinta sama Kak Ardi?" tanya Jessie dingin.


Tak ingin mendengarkan ucapan Melissa, Jessie beranjak dari tempat duduknya. "Jessie mau ke kamar dulu Ma," ucapnya sebelum meninggalkan Melissa.


Didalam kamarnya, Jessie memikirkan perkataan mamanya. Biasanya feeling seorang ibu selalu benar. Jessie menjadi sangat gelisah, hati dan pikirannya tak sejalan. Dia teringat kembali kenangan indah bersama Ardi. Namun hatinya merasakan sakit ketika mengingatnya. "Mungkinkah aku benar-benar mencintai Kak Ardi?" Jessie bertanya dalam hatinya.


Dia pun berjalan menuju balkon kamarnya. Langit sangat cerah, jutaan bintang bertaburan indah. Tiba-tiba Jessie teringat kenangan, saat Ardi terakhir kali datang ke rumahnya. Tanpa disadarinya, air mata menetes tak tertahan lagi.


Jessie menyentuh pipinya yang sudah basah. "Apa ini?? Tak mungkin aku menangisi Kak Ardi. Tidak!! Aku tak mungkin jatuh cinta padanya. Hubungan kami sudah berakhir sangat lama," gumamnya.


Jessie merasakan kakinya menjadi lemah. Dia terperosot ke lantai, dadanya tiba-tiba saja sangat sesak. Jessie menangis sesenggukan, dia sudah tak dapat menahan lagi.


Mungkin kali ini Jessie benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya. Selama ini Jessie tak mengakui perasaannya pada dirinya sendiri. Dan sekarang disaat dia menyadari, semua sudah sangat terlambat. Dia terus menangis tanpa suara, Jessie tak menyangka rasanya akan sesakit itu. Malam semakin larut, Jessie justru tertidur dalam tangisannya.


Saat berangkat sekolah, Jessie sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari keluarganya. Sampai di sekolah dia memakai kacamata, untuk menutupi matanya yang bengkak. Melewati tempat parkir, Jessie melihat Ardi berjalan tanpa menyapanya.

__ADS_1


Jessie merasakan ngilu di hatinya, tatapan dingin Ardi berhasil melukai dirinya.


"Hai cantik, tumben pakai kacamata?" tanya Anton, seorang siswa populer di sekolahnya.


"Kemarin kurang tidur, jadi mata ini jadi bengkak," jawab Jessie berbohong.


Anton menatap Jessie dengan aneh dan berbisik di telinganya. "Nanti malam ikutlah ke Club," ajaknya lirih.


"Maaf, aku tak biasa ke tempat seperti itu," jawab Jessie sebelum mempercepat jalannya.


Jessie sangat tahu hobi Anton yang sering datang ke club malam. Hidupnya sangatlah glamor dan gemerlap. Karena dia seorang model yang karirnya lumayan. Keluarganya juga mendirikan sebuah agensi model di kota tempat tinggalnya.


"Cantik-cantik sombong," ucap Anton kesal.


Anton hanya bisa memandang kepergian Jessie, tanpa bisa mengajaknya ke club malam.


Bel sekolah berbunyi, para siswa berhamburan pulang ke rumahnya. Jessie menunggu Jason di mobilnya. Tak lama, saudara kembarnya itu pun datang.


"Maaf, aku lupa memberitahumu. Aku ada tugas kelompok, dan hari ini harus sudah selesai. Kalau mau, kamu bisa menungguku sebentar," jelas Jason sambil melihat Jessie.


"Aku akan mencari taksi di depan. Kalau begitu aku duluan Kak," pamit Jessie lalu berjalan menuju gerbang sekolah.


Jessie pun menunggu taksi di depan gerbang sekolahnya. Kebetulan sekolah sudah sangat sepi, dan Jessie hanya sendirian di sana. Anton yang melihat Jessie, segera turun untuk memberikan tumpangan.


"Jessie cantik, ayo aku antar pulang," ajak Anton sambil menarik tangannya tanpa ijin.


"Maaf Kak, aku bisa pulang sendiri," jawab Jessie tegas.


Namun Anton terus memaksanya, hingga terjadi tarik menarik. Jessie mencoba melepaskan tangannya dari Anton, tapi lelaki itu semakin erat mencengkeram.


"Lepaskan tanganmu dari Jessie!!" Teriakan keras itu membuat mereka menoleh ke arah suara.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2