
Esok harinya setelah semua rombongan kembali dari Semarang, semua mahasiswa masuk kuliah seperti biasanya. Pagi ini Jessie berangkat sendiri dengan mobilnya, sepertinya Ardi sedikit sibuk belakangan ini. Sampai di tempat parkir, Jessie melihat Lusia sedang duduk melamun di taman depan kelasnya. Tanpa disadari oleh sahabatnya itu, tiba-tiba saja Jessie datang dan langsung memeluknya dari belakang.
Lusia yang sedang terkejut, sontak langsung mendorong Jessie. "Maaf! Aku kira kamu...." ucapnya dengan penyesalan.
"Kamu berpikir, aku siapa?" tanya Jessie sambil membelai rambutnya.
Jessie dapat merasakan kegundahan dalam hati Lusia. Wajahnya terlihat sedikit kelelahan, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Itu semua menandakan bahwa sahabatnya itu tak tidur semalaman. Namun gadis itu tak yakin, apa yang mengganggu pikiran Lusia. Jessie hanya bisa menghiburnya sebagai seorang sahabat. "Aku yakin, kamu tak bisa tidur semalam. Apa yang sudah mengganggumu?" tanyanya lagi. Namun Jessie tak mendapatkan jawaban, karena Dosen pengajar sudah datang.
Di dalam kelas, ketika mata kuliah Adam, Lusia sangat terlihat untuk menghindari lelaki itu. Setiap kali Adam memandang wajah Lusia, gadis itu langsung membuang muka atau menundukkan kepalanya. Ada rasa malu, rasa kesal dan sebuah rasa yang tak bisa dia mengerti sendiri. Setiap kali dia memejamkan matanya, wajah Adam selalu hadir dalam bayangannya. Hal itu membuat Lusia frustasi, sampai tak tidur semalaman.
"Lusia tunggu! Ada apakah denganmu? Seharian ini kamu tak konsentrasi," ucap Jessie sambil menatapnya.
"Pikiranku sedikit kacau, tapi aku belum siap bercerita denganmu," jawabnya.
"Kalau begitu, ikut aku ke kantor yuk!" ajak Jessie.
Lusia akhirnya mau mengikuti Jessie ke kantornya. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir, belum sempat masuk ke dalam mobil seseorang datang menyapanya.
"Lusia. Tunggu!" panggil Adam pada gadis itu.
Lusia dan Jessie langsung menoleh ke arah suara. Ekspresi wajah Lusia mendadak berubah. Dia terlihat gugup dan tak nyaman.
"Mengapa kamu menghindari aku? Kalau menurutmu aku bersalah, tolong maafkan aku,"kata Adam sambil menatap Lusia.
Lusia langsung berjalan menuju mobil milik Jessie. "Jess. Aku menunggumu di dalam mobil," pamitnya sambil masuk ke mobil Jessie.
Jessie benar-benar tak mengerti dengan suasana canggung ini. Dia menatap Adam dengan tatapan penuh pertanyaan. Gadis itu tak tahu, apa yang sudah terjadi diantara mereka. Setelah Jessie pamit pergi pada Adam, hanya terlihat wajah kekecewaan pada lelaki itu.
Sampai di kantor Jessie, mereka berdua langsung duduk di sofa ruangan Jessie. Tak lama Ardi datang dan menyapa mereka. "Selamat datang Lusia. Aku pinjam sahabatmu sebentar ya," ucap Ardi dengan ramah.
__ADS_1
Ardi dan Jessie meninggalkan Lusia di ruangannya. Mereka masuk ke ruang meeting. "Sayang. Aku sangat merindukanmu," ucap Ardi sambil memeluknya.
Jessie langsung membalas pelukan itu. Karena gadis itu, juga sangat merindukan kekasihnya. Ardi kemudian mencium Jessie dengan sangat lembut, sebelum mereka kembali ke ruangan Jessie. Sepertinya Lusia mengetahui gerak-gerik mereka.
"Sudah puas melepas rindu?" sindir Lusia.
Ardi terlihat malu-malu mendengar sindiran itu. Jessie pun mendekati kekasihnya dan mengecup pipinya sekilas. "Sebentar lagi kamu juga akan seperti ini," balas Jessie.
Wajah Lusia menjadi merona. Bayangan Adam sedang menciumnya terlalu jelas melintas di kepalanya. Dia tak sanggup menahan hatinya yang semakin berdebar mengingat lelaki itu.
"Lihatlah, Kak! Sepertinya Lusia benar-benar sedang jatuh cinta," ledek Jessie.
Ardi hanya bisa tersenyum saja, tak ingin membuat sahabat kekasihnya itu tak nyaman. Dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Akhirnya Lusia membantu sahabatnya itu memeriksa beberapa berkas sebelum ditandatangani.
Beberapa saat kemudian, sekretaris Jessie memberitahukan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan Ardi. Lelaki itu akhirnya menuju ruangan khusus tamu. Saat Ardi melihat tamu yang menunggunya, dia sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kak Adam! Ada perlu apa menemui ku?" tanyanya sangat penasaran.
"Mulai hari ini, aku yang mewakili Papa mengurus kerjasama perusahaannya," jelas Adam.
"Bolehkah aku menemui Jessie? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya," ucap Adam
Ardi bingung dengan permintaan Adam. Haruskah dirinya mengijinkan Adam menemui tunangannya? Ada rasa cemas yang dirasakan oleh lelaki itu. Ardi takut Adam mencoba merayu Jessie, lalu merusak hubungan mereka. Karena selama ini, Adam terang-terangan mendekati Jessie. "Kak Adam boleh menemui Jessie, tapi aku akan ikut bersama kalian," balasnya.
"Bisakah kita mengobrol sekalian makan siang? Aku sudah sangat lapar," kata Adam sambil tersenyum menatap adiknya.
Ardi meminta seorang staf mengantarkan Adam ke mini cafe di lantai atas. Sedangkan dirinya akan memanggil 2 orang gadis yang sedang menyibukkan dirinya.
"Sayang. Ayo kita mengajak Lusia makan siang di mini cafe," ajak Ardi.
Akhirnya mereka bertiga, naik lift ke lantai atas. Sebuah mini cafe yang desain sangat modern dan nyaman. Bertujuan untuk memanjakan karyawan yang sedang penat dalam pekerjaannya. Di sanalah para karyawan bisa menghabiskan waktu istirahat dan makan siang mereka.
__ADS_1
Begitu mereka tiba di cafe, tatapan mata Lusia terpaku pada sosok lelaki yang duduk di kursi paling pojok di ruangan itu. Ingin rasanya dia berlari pergi meninggalkan tempat itu. Namun seolah tubuhnya menolak untuk pergi. Jessie yang menyadari kegelisahan Lusia, langsung menariknya dan membuatnya duduk di samping Adam.
Kedua insan itu hanya saling memandang tanpa mengatakan apapun.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?" seru Jessie karena kesal melihat kecanggungan diantara mereka.
Adam langsung menggenggam tangan Lusia, lalu menatapnya dengan sangat lembut. "Maafkan aku, telah mengambil ciuman pertamamu," ucapnya dengan rasa bersalah.
"Apa!" teriak Jessie dan Ardi bersamaan karena tak percaya.
"Jadi ini alasanmu tak bisa tidur?" tanya Jessie.
Pertanyaan Jessie membuat Lusia tak bisa menahan perasaannya. Tanpa permisi air matanya mengalir tak tertahankan. Ingin rasanya gadis itu menghentikan waktu, agar tak ada yang melihatnya menangis. Namun dia harus bisa menanggung semuanya. "Pak Adam tak perlu merasa bersalah. Itu hanya sebuah ciuman biasa," jawabnya berbohong.
"Mungkin bagimu itu biasa, tapi sedetik pun aku tak bisa melupakan betapa lembutnya bibirmu," jelas Adam.
"Dasar otak mesum," gerutu Jessie.
"Daripada kalian berdua sama-sama merasa bersalah, lebih baik kalian menikah saja. Kak Adam terlalu tua untuk berpacaran," ledek Ardi dengan senyuman yang menggoda.
Lusia langsung merona mendengar ucapan Ardi. Dia tersenyum dalam hatinya, karena sudah mendapatkan restu dari calon adik iparnya.
"Kamu menghina Kakakmu ini!" protes Adam.
"Lusia! Kamu mau tidak menikah dengan Kakak Iparku? Sepertinya dia sudah tak sabar untuk meminang seorang gadis," goda Jessie pada pasangan belum resmi itu.
Muka Adam langsung merah padam karena malu, sedangkan Lusia terlihat malu-malu untuk menjawab.
"Dasar pasangan malu-malu kucing," batin Jessie.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰