Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 120


__ADS_3

Ardi sudah menunggu kekasihnya yang sedang bersiap di kamarnya. Dia mengobrol dengan David dan Melissa di ruang tamu. Tak berapa lama, muncullah Jason. Dia terlihat sedikit lelah, karena baru saja pulang dari RS. Jason pun menyapa Ardi sebentar, sekedar basa-basi.


"Udah rapi banget mau kemana, Ardi?" tanya Jason ketika melihat Ardi mengobrol dengan orangtuanya.


Ardi tersenyum menatap Jason. "Kami berdua akan makan malam bersama seorang teman," jawabnya.


"Have fun ya! Aku mau mandi dulu," jawab Jason sambil berlalu meninggalkan ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Jessie sudah berdiri tak jauh dari Ardi. Malam ini Jessie memilih dress panjang warna hitam dengan turtleneck top yang terlihat sangat elegan. Setelah Ardi meminta ijin pada orangtuanya, mereka berdua langsung berangkat menuju sebuah restoran hotel bintang 5 yang cukup terkenal. 20 menit perjalanan dari rumah, akhirnya sampai juga di lobby depan hotel.


"Sayang. Nikmati makan malamnya, setelah selesai kamu langsung kasih kabar ya," kata Ardi dengan tatapan yang sedikit sedih.


Sebenarnya Ardi sangat tak rela membiarkan Jessie bersama lelaki lain. Tetapi apa boleh buat, Jessie harus membayar lunas hutangnya. Lebih baik membayarnya sekarang, daripada terus dikejar-kejar malah membuatnya tak nyaman.


Jessie pun keluar dan melambaikan tangannya pada kekasihnya. Setelah Ardi mobil itu benar-benar pergi, barulah Jessie memasuki restoran mewah itu. Gadis itu berjalan pelan sambil melihat sekeliling, lalu seorang pelayan menghampirinya.


"Dengan Nona Jessie?" tanya seorang pelayan perempuan dengan sangat ramah.


Mendengar namanya dipanggil, Jessie langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mari silahkan! Tuan Anton sudah menunggu Anda," kata pelayan itu lagi.


Jessie pun mengikuti pelayan itu. Dari pandangan mata Jessie, terlihat Anton sudah duduk di kursi paling ujung restoran. Lelaki itu langsung mengumbar senyum begitu melihat kedatangan gadis cantik itu. Anton langsung berdiri dan menarik sebuah kursi untuk tamu pentingnya.


"Selamat datang, Jessie. Aku sudah cukup lama menunggu kedatanganmu," sapanya dengan wajah berbinar.


Jessie langsung duduk di kursi sebelah Anton. Gadis itu sedikit tersenyum, dan mencoba bersikap tenang tanpa menunjukkan kegelisahannya. Karena jauh dari lubuk hati Jessie, dia merasa sedikit takut berhadapan dengan lelaki itu. Pengalaman buruk dengan Anton, masih meninggalkan trauma tersendiri baginya. Jessie sangat mengingat betapa buruknya perlakuan Anton di masa lalu. "Terimakasih, Anton." Jessie bersikap sebiasa mungkin agar tidak terlihat canggung. Kemudian gadis itu melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. "Kapan kamu memesannya? Bukankah seharusnya kamu menunggu aku memilih menu?" protes Jessie karena melihat makanan sudah tersaji saat baru duduk.


Anton terlihat sedikit terkejut mendengar nada protes dari Jessie. Namun dia masih bisa tersenyum lebar sambil menatap gadis itu. "Aku sengaja memesannya lebih dulu, agar kamu tak perlu menunggu," jawabnya tanpa keraguan.


"Oh! Bisakah kita langsung makan? Aku sedikit lelah dan ingin pulang," balas Jessie dengan senyuman yang aneh.


Tanpa merasakan kecurigaan apapun, Jessie menikmati hidangan di depannya. Dia berpikir ingin segera pulang, dan menjauh dari lelaki itu. Beberapa saat setelah Jessie meminum segelas jus buah di atas meja, mendadak kepalanya sedikit pusing. Gadis itu memegang pelipisnya. "Anton. Sepertinya aku harus segera pulang. Aku merasa kurang sehat," ucapnya sambil mencoba untuk berdiri. Namun tiba-tiba saja, Jessie langsung pingsan. Lelaki itu menangkap Jessie ke dalam pelukannya.


Anton langsung membawa Jessie yang tidak sadarkan diri ke dalam mobilnya. Dia beralasan pada pelayan restoran, kalau sahabatnya sedang kurang sehat. Pegawai restoran pun percaya, tanpa mencurigai Anton sedikitpun.


Lelaki itu segera melajukan mobilnya, menuju sebuah apartemen yang tak jauh dari restoran itu. Sampai di lobby apartemennya, Anton menggendong Jessie ala bridal style menuju kamarnya. Anton meletakkan Jessie dengan sangat pelan di atas ranjang. Dia terus menatap Jessie yang terlihat sangat cantik, walaupun tidak sadarkan diri. "Kamu benar-benar sangat cantik. Ardi sangat beruntung bisa memilikimu," gumamnya.


Merasakan sedikit berkeringat, Anton beralih ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya agar terlihat lebih segar. Sepuluh menit kemudian, keluarlah Anton dengan penampilan yang jauh lebih bersinar. Dia hanya melilitkan selembar handuk di tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


Anton tersenyum penuh kemenangan, memandang gadis cantik yang terbaring di atas ranjangnya. Dia mulai mendekatinya, lalu menyentuh lembut wajah Jessie. "Bagaimana kamu bisa secantik ini? Tubuhmu benar-benar membuatku semakin bergairah," ucapnya sambil menyentuh bibir Jessie.


Merasakan sudah tak bisa lagi menahan gairah, yang semakin membakar jiwanya. Alex melemparkan handuknya ke sembarang arah, lalu berusaha melepaskan pakaian Jessie. Namun belum sampai Anton melihat tubuh indah Jessie, terdengar suara dobrakan pintu yang sangat keras.


"Angkat tanganmu!" Dua orang anggota kepolisian datang dan menodongkan senjata ke arah Anton. Di belakang polisi itu Ardi berdiri dan menatap tajam Anton dalam aura ingin membunuh.


Anton begitu terkejut mendengar suara keras itu. Tanpa peduli dengan tubuhnya yang tak tertutupi apapun, Anton langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Wajahnya pucat seketika, karena ketakutan sekaligus malu.


"Anda ditangkap atas tuduhan pelecehan dan percobaan pemerkosaan terhadap Nona Jessie," seru polisi itu dengan suara yang sangat lantang.


Anton tak mungkin berkilah lagi. Semua bukti sudah ada di depan matanya. Keadaan tubuhnya yang telanjang dan keadaan Jessie yang tidak sadarkan diri, sudah menjadi bukti yang sangat kuat untuk menjerat Anton dalam jeruji besi.


Ardi pun menatap Anton dengan tatapan ingin membunuhnya. "Kali ini kamu harus membayar semua perbuatan yang sudah kamu lakukan," ucap Ardi dengan sangat dingin. Ardi mendekati Jessie dan menggendongnya. "Saya akan membawa Jessie ke Rumah Sakit untuk mendapatkan hasil visum," ucap Ardi kepada dua polisi yang sudah menangkap Anton.


Anton langsung dibawa ke kantor polisi oleh kedua polisi itu. Sedangkan Ardi membawa Jessie ke RS terdekat. Sampai di RS, Jessie masih belum juga sadar. Sepertinya Anton telah memberikan obat tidur dengan dosis yang lumayan tinggi. Dengan hati yang sangat cemas, Ardi menghubungi David, untuk memberitahu kabar buruk itu. Ardi sangat khawatir karena Jessie tak kunjung sadar. Gadis itu masih terbaring di sebuah ruangan di RS. Sudah dua jam lewat, sejak Jessie meninggalkan restoran, namun gadis itu masih belum membuka matanya.


David datang bersama Melissa dengan wajah yang sangat panik. "Ardi! Apa yang sudah terjadi dengan Jessie?" tanya Melissa sambil menyentuh kepala Jessie.


Dengan perasaan cemas dan kesedihan yang mendalam, Ardi menjelaskan kejadian itu kepada mereka. "Sebenarnya, bukan Ardi yang memiliki janji makan malam dengan Jessie. Melainkan Anton, koki baru The Java Restaurant yang juga teman SMA Jessie." Ardi mencoba menceritakan dengan ekspresi wajah yang setenang mungkin, agar mereka berdua tidak semakin khawatir.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2