Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 110


__ADS_3

Hari berikutnya seluruh mahasiswa dari Universitas Negeri Solo berkumpul di auditorium, ada juga beberapa orang mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang. Pagi ini akan diadakan acara bersama antar mahasiswa kedua universitas. Namun dalam penyambutan itu dijelaskan, bahwa semua itu bukan acara studi banding tetapi forum sharing untuk berbagi pengalaman antara kedua kampus tersebut. Setiap perguruan tinggi manapun disatu sisi pasti mempunyai kelebihan dan disisi lain pasti mempunyai kekurangan. Selanjutnya, mereka mengutarakan maksud dan tujuan dari kunjungan kali ini, selain bermaksud untuk sharing juga ingin mempererat tali silaturahmi. Karena dalam kehidupan keseharian, setiap individu selalu membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri.


Jessie terlihat sangat bersemangat mengikuti acara sharing antar 2 universitas itu. Setelah acara itu selesai, mereka menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh pihak kampus.


"Jessie. Kamu mau makan apa?" tanya Lusia sambil mengambil makanan yang tersaji.


"Aku mau makan buah saja, takut gendut," cetus Jessie.


Mereka berdua kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan, sambil menikmati makanannya. Lalu tiba-tiba saja Adam datang dan bergabung dengan mereka.


"Bolehkah saya duduk disini?" tanya Adam dengan senyuman khas dari wajahnya.


"Silahkan, Pak Adam." Jessie pun berdiri dan menggeser duduk di samping kanan Lusia.


Posisi duduk Adam berada di sebelah kiri Lusia. Diam-diam Adam melirik gadis di sebelahnya. Ada sesuatu yang membuat lelaki itu merasa sangat tertarik dengan Lusia. Hatinya menjadi berdebar setiap berdekatan dengan gadis itu. Adam sendiri bingung dengan perasaannya sendiri. Yang dia tahu dia menyukai Jessie, namun bersama dengan Lusia jauh lebih membuatnya berdebar.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Jessie memperhatikan mereka berdua. Kedua orang disampingnya itu saling memandang malu-malu. Ingin rasanya Jessie menertawakan mereka berdua. "Pak Adam. Habis ini kita akan kemana?" tanyanya sambil tersenyum.


Jessie sengaja ingin mengurangi kecanggungan diantara mereka bertiga. Sekedar basa-basi, menanyakan hal yang sebenarnya dia sudah ketahui.


"Setelah makan siang, kita akan mengunjungi Semarang Kreatif Galeri di Kota Lama," jawab Adam.


"Pasti akan menyenangkan! Aku pernah mengunjungi tempat itu beberapa kali bersama keluargaku," seru Jessie.

__ADS_1


Jessie lalu memperhatikan sahabatnya yang terdiam tanpa mengatakan apapun. "Lagi memikirkan Pak Adam?" seru Jessie sambil menepuk pundak Lusia.


Gadis itu langsung memelototi Jessie dengan sedikit kesal. Jessie hanya membalasnya dengan senyuman yang menggoda. "Maaf. Aku keceplosan," jawab Jessie.


Adam yang mendengar percakapan 2 gadis itu menjadi sangat bingung. Dia pun memandang Jessie dan Lusia secara bergantian. Adam berharap gadis itu akan menjelaskan maksud dari pembicaraan mereka. Namun harapan itu hanya angin lalu, kedua gadis itu tak mengatakan apapun. Jessie hanya senyum-senyum sendiri tidak jelas. Sedangkan Lusia hanya terdiam menundukkan kepalanya.


Setelah makan siang, seluruh rombongan menaiki bus yang terparkir di depan gedung kampus. Adam berdiri di luar sambil mengecek siapa saja yang belum masuk ke dalam bus. Dari kejauhan terlihat Jessie berlari kecil menuju ke arah bus.


"Dari mana saja kamu Danisha?" tanya Adam.


"Maaf. Tadi saya mampir ke toilet sebentar," jawab Jessie sambil melangkah memasuki bus.


"Tunggu sebentar!" seru Adam.


"Apa maksud ucapanmu pada Lusia saat makan siang tadi?" tanya Adam dalam ekspresi serius.


Gadis itu tersenyum menatap Dosen itu. "Besok Pak Adam juga akan tahu," ucapnya sebelum beranjak masuk.


Adam menjadi lebih kesal lagi. Bagaimana bisa dia harus bermain teka-teki yang tak kunjung mendapatkan jawaban? Lelaki itu kemudian masuk ke dalam bus, dengan wajah yang tak bersemangat. Saat Adam melewati kursi Lusia, gadis itu meliriknya sekilas. Lirikan itu berhasil memporak-porandakan hati Adam. Pikirannya menjadi tidak fokus, dia tenggelam dalam perasaan bingung juga kekesalannya.


"Aku rasa Pak Adam juga menyukaimu," ucap Jessie.


Lusia yang sedang meneguk minuman botol langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Jessie menepuk-nepuk pundaknya, sampai Lusia lebih baik. Adam yang duduk di belakang langsung memandang ke kursi mereka. Lelaki itu sedikit khawatir melihat gadis itu sampai tersedak seperti itu. Ingin rasanya Adam segera berlari menghampiri gadis itu, namun dia tak mungkin bisa melakukannya. Hubungan mereka tak sedekat itu, hingga harus mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Sampailah rombongan itu di tujuan selanjutnya, Semarang Kreatif Galeri. Terlihat bagian depan gedung yang merupakan pedestrian dengan desain yang sangat cantik. Di dalam gedung terdapat berbagai produk UMKM seperti tas, baju, sepatu, cendramata dan masih banyak lagi yang lainnya. Jessie menjadi kalap ingin membeli banyak barang yang menarik hatinya.


Lalu mereka berjalan masuk ke ruangan sebelahnya, masih satu bangunan. Ternyata sebuah Cafe, Jessie langsung mengajak sahabatnya untuk mencoba makanan dan minuman di Keris Cafe itu. "Cepetan sini! Aku sudah sangat lapar," seru Jessie.


"Salah sendiri kamu tadi tak makan," ledek Lusia.


Mau tak mau gadis itu duduk untuk menemani Jessie menghabiskan makanannya. Padahal seluruh rombongan masih berkeliling dengan para Dosen pendamping.


Ketika Adam berkeliling bersama rombongan, dia menyadari 2 gadis itu tak kelihatan. "Dimana Danisha dan Lusia? Bagaimana mereka bisa tertinggal," tanyanya pada seorang mahasiswa.


"Tadi saya melihat mereka berhenti di cafe yang kita lewati," jawab mahasiswa itu.


Adam pun kembali berputar arah untuk mencari mereka berdua. Ternyata yang dikatakan mahasiswa tadi memang benar. Jessie menikmati makanannya dengan sangat lahap. Lelaki itu menghampiri mereka berdua, lalu duduk di hadapan Lusia. "Bagaimana kalian bisa makan dengan tenang disini, sedangkan acara kita masih belum selesai?" tanya Adam dengan kesal.


"Maafkan kami, Pak. Tadi Jessie belum makan siang, jadi setelah berjalan-jalan dia merasa lapar," jelas Lusia dengan sedikit takut.


"Pak Adam berangkat dulu saja, sebentar lagi kita akan menyusul," ucap Jessie sambil memakan makanannya.


Adam memandangi mereka berdua dengan ekspresi wajah yang cemas. "Kalau kalian berdua hilang, saya juga yang harus bertanggung jawab," gerutunya.


Jessie hanya tersenyum mendengar ucapan Adam. Tanpa rasa bersalah dia tetap melanjutkan makannya. Setelah selesai Jessie langsung berdiri dan langsung berjalan menyusul rombongan. Gadis itu sengaja berjalan dengan cepat, agar Lusia bisa bisa berdua dengan Adam. Menyadari hal itu, Lusia mempercepat jalannya hingga hampir meninggalkan Dosennya itu. Tanpa diduga, Adam menarik tangan Lusia hingga gadis itu hampir menubruknya. "Maaf, Lusia. Aku tak mau berjalan sendirian, jadi tolong temani aku," ucap Adam.


Lusia tak menjawabnya, namun dia berjalan beriringan dengan Dosennya. Gadis itu berpikir, bagaimana Adam bisa berbicara tidak formal padanya? Hatinya menjadi berdebar-debar, pikirannya melayang kemana-mana. Membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Lusia benar-benar telah jatuh cinta pada lelaki di sampingnya itu.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2