
Malam harinya setelah makan malam, semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Jessie melihat lampu kamar Kakaknya masih menyala. Dia pun diam-diam masuk kamarnya.
"Mentang-mentang sudah merasakan ciuman melamun terus," cetus Jessie membuat lelaki itu terkejut.
Jason pun menyentil kening adiknya itu. "Dasar gadis nakal," ucapnya.
Jessie mulai memandangi Jason dengan tatapan aneh. "Kak, kasih tahu dong gimana rasanya ciuman pertama itu?" tanya Jessie dengan manja.
Jason terlihat berpikir, lalu menatap adiknya yang duduk di sebelahnya. "Sebenarnya kami tidak berciuman, tapi Aya yang menciumiku," jelas Jason.
Jessie semakin tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Gila!! Kanaya luar biasa, bisa mencium orang disayanginya. Aku salut dengannya," respon Jessie.
"Jangan pernah berpikir untuk mencium Ardi lebih dulu. Atau aku akan memutuskan hubungan kalian," ucap Jason dingin.
"Ayolah Kak! Please! Aku juga ingin merasakan indahnya ciuman pertama," rayu Jessie pada kakaknya.
Tanpa merespon adiknya, Jason memilih keluar dari kamarnya. Dia duduk di teras samping rumahnya. Jason memandang indahnya malam berhiaskan bintang-bintang. Hingga malam semakin larut, Jason baru masuk ke kamarnya.
Esok harinya, pagi-pagi sekali Jason sudah berangkat dengan motornya. Bahkan dia tak berangkat bersama adiknya. Sudah bersiap memakai seragam sekolahnya, Jessie langsung memakan sarapannya seorang diri.
"Ma... Papa dan Kak Jason kenapa tidak sarapan?" tanya Jessie kepada Mamanya yang sedang memasak.
Melissa yang mendengar suara Jessie, berjalan mendekatinya. "Papa mau berangkat siang, sedangkan Jason sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada yang harus dikerjakan," jawab Melissa.
"Jessie berangkatnya gimana dong?" tanyanya kesal.
"Nanti sopir bisa mengantar dan menjemputmu. Atau minta saja Ardi menjemputmu," ucap Mamanya.
Jessie memilih berangkat di antar oleh sopir keluarganya. Dia tak ingin merepotkan kekasihnya. Karena arah rumah mereka ke sekolah saling berlawanan.
Sampai di sekolah, Jessie mendatangi ruang kelas Jason. Namun lelaki itu tak kelihatan batang hidungnya. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang aneh dengan saudara kembarnya. Tidak biasanya, Jason sulit ditemui. Menunggu 5 menit Jason tak muncul, dia pun masuk ke kelasnya.
Baru beberapa detik Jessie duduk, Kanaya sudah mendatanginya.
"Jess... Kamu merasa ada yang aneh tidak dengan Kak Jason? Tadi aku bertemu dengannya, dia malah menghindar dariku. Rasanya hatiku seperti tertusuk belati, sakit sekali," ucap Kanaya dengan sedih.
__ADS_1
Jessie mengerti kesedihan Kanaya. Selama bertahun-tahun Kanaya sudah menyukai Jason. Ketika hubungan mereka menjadi lebih dekat, Jason justru menghindarinya. Rasanya terlalu menyedihkan untuk Kanaya.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Jessie.
Ekspresi wajah Kanaya mendadak sedih, matanya mulai berkaca-kaca. "Katakan pada Kak Jason, apa salahku hingga dia menghindar dariku. Rasanya hatiku sangat sesak memikirkannya," jawabnya setengah berbisik.
Jessie menatap mata Kanaya dengan lembut, lalu menggenggam tangannya. "Aku pasti akan membantumu, tenangkan lah hatimu," ucapnya dengan senyuman.
Saat pelajaran Jessie terus saja memikirkan Kanaya. Dia tak tega mengingat wajahnya, yang terlihat sangat terluka. Jessie yakin sebenarnya Jason juga menyayangi Kanaya, hanya saja entah dia takut atau gengsi dengan perasaannya sendiri.
Sampai di rumahnya, Jessie juga tak mendapati lelaki itu di rumah. Dia berusaha menghubunginya, namun tak mendapatkan jawaban. Jessie pun menyusul Mamanya di kebun belakang rumahnya. Melissa yang melihat anak gadisnya sudah pulang, menghentikan aktivitas berkebun nya.
"Sayang, kamu sudah pulang. Cepatlah makan jangan menunggu Jason, dia bilang akan pulang terlambat," ucap Melissa.
"Mama temani Jessie makan ya..." pintanya.
Melissa akhirnya duduk di meja makan bersama anaknya. Dia tak menyangka gadis kecil yang dulu digendong kesana-kemari, sekarang sudah dewasa. Jessie tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan baik. Kebahagiaan serasa sempurna dengan hadirnya si kembar dalam keluarganya.
"Mama merasa Jason jadi jarang di rumah," ucap Melissa.
"Entahlah Ma, Jessie juga heran dengan Jason. Dari tadi pagi dia menghindar dariku," kata Jessie kesal.
Jessie menunggu saudara kembarnya hingga larut malam. Sampai tertidur pun Jason belum kembali pulang. Pagi hari sebelum berangkat, kamar Jason juga sudah kosong. Dalam hatinya, Jessie sedikit kecewa dengan sikap kakaknya itu. Seolah kasih sayang Jason kepada terkikis dan semakin menghilang.
Di sekolahnya Jessie merasa tak bersemangat. Dilihatnya bangku Kanaya juga masih kosong, padahal sebentar lagi sudah jam masuk. Dia berinisiatif menghubungi temannya itu.
"Kanaya... Kenapa kamu tak masuk sekolah?"
"Apa!! Kamu di Rumah Sakit?"
"Tetaplah di Rumah Sakit sampai pulang sekolah nanti. Aku akan menyeret Jason untuk menemui mu."
"Istirahatlah dengan baik."
Jessie mendadak mempunyai ide, untuk menemukan Jason dengan Kanaya. Sehabis istirahat, Jessie ijin pulang lebih dulu karena ada acara keluarga. Untung saja guru kelasnya mengijinkan. Kemudian dia mendatangi kelas Jason.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok
"Permisi Pak, saya mau menjemput Kakak saya untuk pulang. Karena tunangannya kecelakaan," ucap Jessie tanpa dosa.
"Baiklah saya ijinkan kamu menjemput Jason," jawab guru itu.
Jason hanya memandangi Jessie penuh pertanyaan. Dia tak mengerti siapa yang disebut tunangan oleh Jessie.
"Kalau begitu kami permisi. Terimakasih Pak," pamit keduanya sambil membungkukkan badan.
Para murid didalam kelas begitu tercengang, mendengar kalau mereka bersaudara. Karena selama ini mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih. Teman-teman Jason saling bertanya satu sama lain. Kalau para guru pengajar memang sudah tahu, kalau Jason dan Jessie bersaudara. Karena perusahaan Papanya, Gunawan Corp menjadi sponsor di sekolah itu.
Jason menarik tangan Jessie ke halaman parkir sekolah. "Hei gadis nakal, apa lagi rencanamu?" tanyanya sambil menatap wajahnya kesal.
Jessie pun berusaha melepaskan genggaman tangan Jason. "Dasar lelaki tak berperasaan. Kanaya masuk Rumah Sakit, jika kamu masih peduli dengannya segera temui dia," jawab Jessie sambil memukul lengan Jason.
"Apa!! Kanaya sakit apa? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?" tanyanya panik.
"Bisa panik juga kamu, dasar lelaki egois," gerutu Jessie.
"Ayo kita langsung ke Rumah Sakit." Jason menarik tangan gadis itu mendekat ke motornya.
Jessie semakin kesal menatap motor itu. Tapi mau gimana lagi, Jason tadi ke sekolah menaiki motornya.
"Ayo buruan naik dan pakai helm mu," teriak Jason di atas motor.
"Dasar lelaki gila," gerutunya lagi.
Jessie tak pernah membayangkan sebelumnya, kalau harus berboncengan motor dengan rok pendeknya. Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit, Jessie terus memaki Jason tanpa henti. Ini adalah pertama kalinya gadis itu menaiki motor. Ada rasa takut juga sedikit rasa senang di dalam hatinya.
Setelah bertanya nomor kamar Kanaya, Jason langsung berlari menuju ruang perawatannya. Saat pintu terbuka, Kanaya terlihat terbaring lemah di atas ranjang RS. Matanya masih terpejam, ditangannya tertancap selang infus.
Jason langsung menggenggam tangan Kanaya, dan menciuminya berulangkali.
"Aya bangunlah, jangan membuatku mati karena mengkhawatirkan mu," ucap Jason dengan tangisan di matanya.
__ADS_1
Dari sudut kamar perawatan Kanaya, Jessie menyadari kalau sebenarnya Jason dan Kanaya saling mencintai. Namun takdir apa yang harus dilalui oleh mereka, hanya Tuhan yang tahu.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰