Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Ajakan Menikah


__ADS_3

Saat pagi hari terbangun, aku mendapati Melissa tidur di pelukanku. Aku memandang wajah cantiknya, bahkan saat tidur dirinya tetap saja cantik. Aku kecup keningnya, semakin erat aku memeluknya.


" Sayang sudah bangun?" ucapku ketika melihat Melissa terbangun karena terganggu dengan pelukanku.


" Good Morning My David," senyuman yang menggoda menyambut awal pagi ku.


" Sayang, aku ingin segera menikah denganmu. Hanya melihat kamu saat terbangun. Semalam aku bisa menahannya, tapi tidak tahu besok." Ucapan aku ini membuat Melissa terdiam tanpa mengatakan apapun.


" Sayang kenapa kamu hanya diam saja. Apa kamu tak mau menikah dengan aku?" Aku hanya memandang wanita cantik di depanku ini.


" Aku akan menikah denganmu, tapi tidak sekarang. Aku harus menyelesaikan proyek The Java Resort di Bali, setelah itu aku janji kita akan menikah." Melissa tersenyum lalu mengecup bibirku.


" Aku percaya janjimu, jangan pernah mengingkarinya," ucapku.


" Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan. Mas Randy bekerja sama dengan Perusahaan konstruksi milik Andrew. Jadi aku akan lebih sering bertemu dengannya untuk urusan bisnis. Aku harap kamu mengerti, dan tidak salah paham," jelas Melissa.

__ADS_1


" Aku percaya padamu Sayang." Aku kemudian menggendong Melissa dan membawanya ke kamar mandi.


" Ayo mandilah, atau kamu ingin kita mandi bersama." Aku sengaja menggoda Melissa.


" Keluarlah." Terlihat wajah Melissa merona.


Setelah kami berdua selesai mandi, kami langsung menuju restoran hotel untuk sarapan. Makan pagi kali ini rasanya berbeda. Aku merasa seperti seorang suami yang sedang menemani istrinya makan. Aku senyum- senyum sendiri memikirkannya.


" Sayang, kenapa malah tersenyum sendiri? tanya Melissa yang terus menatapku.


" Aku membayangkan kita adalah pasangan suami istri, yang menghabiskan pagi bersama," jawabku.


Setelah makan pagi selesai, aku kembali ke Cafe. Melissa sendiri akan ada meeting dengan Mas Randy. Sampai di Cafe, Lidya sudah duduk manis di depan meja Bar.


" Baru pulang?" pertanyaan Lidya sedikit mengagetkan aku.

__ADS_1


" Lho.. kok sudah disini?" tanyaku.


" Udah dari semalam aku menunggumu hingga Cafe tutup. Kamu menginap bersama Melissa?" Pertanyaan Lidya membuat aku tersedak dengan kopi yang aku minum.


" Kenapa mencari ku?" Aku sengaja mengalihkan arah pembicaraan Lidya.


" Aku ingin curhat, tapi jangan ditertawakan," pinta Lidya padaku.


Aku hanya mengangguk sambil menikmati kopi pagiku. Aku perhatikan Lidya seperti kurang tidur. Wajahnya terlihat tidak bersemangat.


" Aku jatuh cinta pada Kak Adrian. Dan ini sangat menyakitkan... " Mata Lidya mulai berkaca-kaca.


Aku menepuk pundaknya. Lalu ku ambilkan Choco Cake di etalase.


" Makanlah, setidaknya Choco Cake bisa memperbaiki mood." Aku mulai mengambil laporan omzet bulanan.

__ADS_1


Sambil aku memeriksa laporan, Lidya mulai menceritakan awal mula pertemuannya dengan Adrian. Dia juga menceritakan tentang ciuman di malam di pesta itu. Aku merasakan kasihan padanya. Sedangkan Adrian, mengapa meninggalkan Lidya begitu saja. Ahhh.. aku tidak mengerti dengan pikiran kakak lelaki Melissa itu.


Setelah Lidya mencurahkan seluruh isi hatinya, dia pamit pulang. Aku menaiki kamarku dan duduk di meja kerjaku. Pikiranku melayang memikirkan perkataan Melissa tadi pagi. Sudah 4 tahun aku menunggu Melissa, dan sekarang aku harus menunggunya lagi. Pikiranku sangat kacau. Aku tak bisa membayangkan, ketika Melissa harus bekerja dengan mantan kekasihnya. Aku sangat cemburu, aku mungkin percaya pada Melissa, namun aku tak percaya pada mantan kekasihnya. Aku yakin dia masih mencintai Melissa, terlihat dari tatapannya ketika bertemu Melissa.


__ADS_2