
Melissa mengendarai mobil ke arah rumahnya. Dia memasuki pintu, dan melihatku sudah menunggu di ruang tengah.
" Baru pulang Sayang," tanyaku menyambut kepulangan istri tercinta.
" Iya Mas ada sedikit masalah di hotel. Mas sudah makan? Mau aku temani?" tanya Melissa.
" Sudah, naiklah. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Aku naik ke kamarku, menyiapkan perlengkapan mandi Melissa.
15 menit kemudian, Melissa terlihat lebih segar berbalut baju tidur warna pink. Lalu duduk di sampingku.
" Apakah kamu sangat lelah?" tanyaku yang melihatnya sedikit pucat.
" Apa Mas sedang menginginkannya sekarang?" tanya Melissa menatapku.
" Kita lakukan besok pagi saja. Tidurlah aku tak ingin kamu kecapekan." Ucapku sambil menidurkannya ke dalam pelukanku.
Aku merasakan kegelisahan hati Melissa. Walaupun dia tak mengatakannya, namun aku bisa merasakan semuanya.
" Sayang, ini sangat larut, kamu masih sulit memejamkan mata? Apa ada hal yang kamu sembunyikan dari suamimu ini." Perkataanku membuatnya langsung menatapku.
" Aku tak ingin membuatmu khawatir Mas," jawabnya.
__ADS_1
" Apa kamu tidak mempercayai aku?" tanyaku sedikit kecewa.
" Bukan begitu Mas. Ini soal The Java Resort Bali." Melissa terlihat berat ketika ingin mengatakannya.
" Aku ini suamimu, jadi jujurlah padaku." Aku sedikit menaikkan nada suaraku.
" Sebagian investor resort yang ada di Bali, ingin menarik investasinya. Aku dan kedua Kakakku sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun tidak ada yang bisa memberikan bantuan. Padahal waktu yang diberikan tinggal 1 hari lagi," jelas Melissa.
" Kenapa kamu tak mengatakannya padaku?" tanyaku padanya.
" Nilai investasi ini sangat besar, hampir senilai The Java Hotel Solo. Aku tak ingin membuatmu terbeban. Tadi malam, Andrew menemui ku. Dia bisa membantuku, tapi dengan satu syarat...." Melissa menghentikan penjelasannya.
" Apa syaratnya?" Aku sangat penasaran dengan syarat yang diajukan Andrew.
" Apa... Aku tak akan membiarkannya. Tenanglah aku pasti bisa membantumu." Aku mencoba menenangkannya.
" Bagaimana Mas bisa membantuku? Aku sudah tidak tega melihat kedua Kakakku seperti frustasi," ucapnya.
Aku memeluknya, menenangkan hatinya. Aku yakin Melissa sangat terluka dengan perkataan Andrew. Aku mulai memikirkan berbagai cara di kepalaku. Tak mungkin jika harus meminta pada keluargaku. Sudah terlalu lama aku mengabaikan mereka. Melissa akhirnya tertidur di pelukanku. Aku melepaskan pelan-pelan, lalu masuk ruang kerjaku.
Aku mulai menghubungi teman-temanku, untuk memberikan pinjaman. Tak ada satu pun yang mampu, karena nilainya terlalu besar juga waktunya terlalu mendesak. Dalam pemikiran yang buntu dan tak tega melihat Melissa, aku menurunkan egoku. Ku hubungi Ayahku, aku mulai menjelaskan permasalahannya. Ayah pun setuju membantuku, tapi dengan syarat. Besok pagi Ayah memintaku menemuinya.
__ADS_1
Paginya aku membangunkan Melissa, menyuruhnya segera bersiap.
" Kita mau kemana Mas? Tanyanya dengan nada penasaran.
" Masuklah ke mobil, nanti kamu juga akan tahu sendiri," jawabku sambil tersenyum.
Pagi ini penampilanku sedikit berbeda. Biasanya memakai kemeja biasa, sekarang aku memakai setelan jas berdasi. Mobil melaju melintasi jalanan kota, hingga berhenti di depan bangunan yang tinggi. Melissa menatap ke atas.
" Gunawan Corp. Apa kita akan mengajukan pinjaman kesini? Tanyanya polos.
" Ayo kita masuk dulu," ucapku padanya.
Saat memasuki lobby, seorang lelaki berpakaian rapi sudah menyambutnya.
" Silahkan Tuan, Presdir sudah menunggu anda." Lelaki itu mengantarkan kami berdua menuju ruangan Presdir.
Melissa terlihat sangat bingung, setiap orang yang bertemu dengan suaminya pasti menunduk sopan serta menyapanya.
" Siapa sebenarnya Suamiku?" gumam Melissa.
Melissa terus berjalan mengikuti orang yang tadi menyambutnya di lobby. Setelah sampai di sebuah ruangan Presdir, Melissa terkejut dan tubuhnya seakan melemah. Papan nama di depan ruangan membuatnya syok, tak bisa percaya apa yang sudah dilihatnya.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 🥰🥰