Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Tunggu Aku Kembali


__ADS_3

Tanpa terasa sudah 3 bulan terlewati, sejak kejadian kepergian Ardi dari Rumah Sakit. Yang Jessie dengar dari Kanaya, Ardi sedang menjalani rawat jalan di salah satu Rumah Sakit terkenal di Singapura. Jessie juga mendengar, Ardi juga melanjutkan pendidikan di negara berlambang singa itu.


Sekarang anak kembar itu sudah menginjak kelas 12 SMA. Tak ada waktu ingin bermain bagi Jessie. Dengan alasan mengejar mata pelajarannya, Jessie mengambil semua les tambahan. Seolah tak pernah lelah, Jessie menghabiskan seluruh waktunya di depan buku. Karena sedikit saja ada waktu luang, pikirannya melayang tak terbatas waktu. Rasa kehilangan orang yang dicintainya, menjadikan Jessie menjadi pribadi yang tertutup. Dia berubah menjadi gadis pendiam dan kutu buku, tanpa peduli orang lain di sekitarnya.


Jason juga Kanaya sangat prihatin dengan kondisi Jessie. Orangtuanya juga sudah menyerah untuk menasehati Jessie. Mereka terpaksa membiarkan Jessie tenggelam dalam keinginannya sendiri.


Dikelasnya, Jessie terlalu dingin terhadap teman-temannya. Hampir seluruh kelas tak ada lagi yang mau bicara padanya. Hanya Kanaya, yang selalu mendekatinya.


"Jess... ke kantin yuk," ajak Kanaya.


Dengan nada acuh, Jessie menjawab dan berlalu begitu saja. "Aku mau ke perpustakaan," jawabnya.


Kanaya mengikuti gadis itu dan duduk di sampingnya. Jessie terlihat sedang membaca buku tentang sastra. Juga ada beberapa buku puisi yang sudah didepannya. Kanaya terus memandangi gadis itu, dia merasa sangat kasihan pada Jessie. Sudah 3 bulan ini, Jessie tak pernah tersenyum sedikit pun. Bahkan tatapan matanya sedingin salju. Tanpa Kanaya mendengarnya, bel masuk sudah berbunyi.


"Aku kembali ke kelas," pamit Jessie.


"Apa..." seru Kanaya.


Kanaya langsung berlari mengejar Jessie memasuki kelas mereka.


"Hei Kanaya... Kamu itu mau-maunya mengikuti gadis dingin seperti Jessie," ujar salah satu temannya.


"Jaga ya mulut kalian," seru Kanaya.


"Kalau dia bukan anak dari penyandang dana di sekolah ini, mungkin dia sudah di DO," balasnya.


Jessie tak pernah mau lagi mengikuti kegiatan di sekolahnya. Apalagi kegiatan yang harus dilakukan secara kelompok. Bahkan upacara bendera, senam, kegiatan ekstrakurikuler tak pernah diikutinya. Jessie lebih memilih duduk di perpustakaan bersama buku-bukunya. Namun seluruh nilai akademiknya memiliki nilai sempurna. Itu yang menjadi salah satu alasan pihak sekolah tidak mengeluarkannya.


***


Aku, Melissa dan Jason sedang menunggu Jessie untuk makan malam. Tak berapa lama, Jessie datang dan langsung mengambil makanan di piringnya.

__ADS_1


"Aku makan di kamar," ucapnya dingin.


" Tapi Sayang...." Belum sempat Melissa menyelesaikan ucapannya, aku memberi isyarat untuk menyuruhnya diam.


Setelah Jessie masuk kamarnya, barulah aku jelaskan maksud dan tujuanku.


"Jangan sampai kalian berdua menolak keinginan Jessie, itu bisa berakibat buruk padanya," jelasku.


"Tapi Mas... keadaan Jessie semakin mengkhawatirkan. Aku tak mau dia menjadi gadis yang sangat dingin," ujar Melissa.


"Bahkan di kelasnya, Jessie tak pernah berbicara pada siapapun. Terkadang hanya Kanaya yang mau mendekati Jessie," tambah Jason.


"Apa perlu kita bawa Jessie ke Psikiater?" tanya Melissa.


"Itu akan memperburuk keadaan Jessie," jawabku.


Sebenarnya diam-diam aku sudah mendatangi Psikiater untuk mengkonsultasikan keadaan Jessie. Namun jika Jessie menolak bertemu Psikiater secara langsung, akan sangat sulit untuk menanganinya.


"Mas, apa perlu kita bawa Jessie menemui Ardi?" tanya Melissa penuh harap.


"Keadaan Ardi lebih buruk dari pada yang kita bayangkan. Jessie tak mungkin bisa melihat kondisi Ardi seperti sekarang. Atau dia bisa semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya," jelasku.


Aku sangat mengerti kegundahan Melissa. Namun aku tak tahu harus melakukan apa untuk memulihkan kondisi Jessie. Bahkan aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kondisi Ardi. Terlalu menyedihkan, Jessie tak akan mampu untuk menerima semua itu.


***


Singapore Internasional Hospital


Ardi masih terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit. Selama ini, Ardi harus menjalani beberapa kali operasi. Ardi mengalami cedera otak karena benturan keras di kepalanya. Kakinya juga patah karena hantaman dari mobil itu. Belum lagi beberapa rusuknya patah.


"Ma..." panggil Ardi pada Diana.

__ADS_1


"Ada apa Sayang?" jawabnya.


"Apakah Mama sudah menghubungi Jessie? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Ardi lirih


"Sayang... fokuslah dulu untuk kesembuhanmu. Setelah sembuh kamu bisa langsung menemui Jessie. Apa kamu mau menemui Jessie dalam kondisi seperti ini?" jelas Diana.


Diana selalu berada di samping Ardi selama 3 bulan ini. Dia mengambil cuti panjang untuk merawat putranya. Bahkan dia juga merelakan jabatannya sebagai Direktur Rumah Sakit. Semua itu semata-mata hanya untuk Ardi seorang. Kasih sayangnya terlalu besar, hingga dia merelakan segalanya. Untung saja bisnis Papa Ardi sedang berkembang pesat. Paling tidak itu bisa menopang semua biaya perawatan Ardi. Karena Dokter mengatakan, pemulihan Ardi akan memakan waktu yang lama bahkan sampai tahunan.


"Ma... apa aku boleh menghubungi Jessi?" tanya Ardi.


"Sayang, kamu tahu Jessie sekarang sudah kelas 12. Dia harus mempersiapkan ujiannya. Oh ya... Mama sudah mendaftarkanmu di universitas di sini. Kamu bisa mengikuti kelas secara online, tanpa harus datang ke kampus. Mama sudah mengatur semuanya untuk kamu Sayang. Ku mohon jangan kecewakan Mama," ujar Diana lalu mengecup keningnya.


Ardi pun menuruti keinginan Mamanya. Dia akan berusaha sembuh dengan cepat. Ardi juga ingin menyelesaikan pendidikannya dengan cepat pula. Sehingga suatu hari ketika dia menemui Jessie, dia menjadi lelaki yang pantas bersanding dengan gadis cantik itu. Waktu berjalan sangat cepat, dengan mengikuti terapi pasca operasi keadaan Ardi jauh lebih baik.


Hari ini tepat 1 tahun Ardi di rawat di RS. Walaupun kondisinya sudah membaik, Ardi harus melakukan serangkaian tes kesehatan lainnya sebelum meninggalkan RS.


Diana membelikan Ardi sebuah apartemen tak jauh dari kampusnya. Bahkan dengan berjalan kaki, hanya butuh 10 menit saja. Setelah kembali dari RS, Ardi dibantu Mamanya membereskan barang-barangnya.


"Ma... bolehkah aku menjenguk Jessie ke Indonesia?" tanya Ardi.


"Mama ingin kamu menyelesaikan pendidikanmu disini dulu, baru kamu kembali ke tanah air," ujar Diana.


"Tapi Ma..." jawab Ardi.


"Ingat janjimu!! Kamu berjanji akan menuruti perkataan Mama," balas Diana.


Mau tak mau Ardi harus menuruti keinginan Diana. Dia tak ingin mengecewakan wanita yang sudah melahirkannya. Ardi harus bersabar menunggu 2 tahun lagi, sampai dia benar-benar menjadi sarjana.


"Tunggu aku Jessie. Aku akan mendatangimu dan langsung melamarmu. Bersabarlah, sampai aku pantas bersanding denganmu," gumam Ardi.


Selama ini Ardi tak pernah tahu kabar gadis yang dicintainya itu. Namun hati kecilnya yakin, Jessie pasti menunggunya. Jessie akan menunggu sampai Ardi kembali.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2