
Dalam beberapa minggu ini Melissa disibukkan dengan banyak meeting di hotel. Aku juga tak kalah sibuknya. Aku sedang merencanakan pembukaan cabang baru untuk Mel'S Cafe. Walaupun aku sangat merindukan Melissa, aku harus menahannya.
Siang hari setelah Melissa bertemu klien, dengan begitu lelahnya masuk lobby The Java Hotel. Tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran wanita yang selalu menggoda kekasihnya.
"Hai wanita murahan, coba kamu berkaca! Pantas tidak memasuki hotel ini. Atau jangan-jangan kamu sedang berkencan dengan lelaki hidung belang. Mana mungkin kamu sanggup membayar 1 kamar di hotel sekelas ini," cetus Bella dengan kasarnya.
Melissa hanya memandang Bella yang menghina dirinya. Tak ingin membalas ucapannya. Melissa kemudian beranjak hendak meninggalkan Bella, belum satu langkah Bella sudah menarik bajunya.
"Hai murahan, berani-beraninya kamu mengacuhkan aku." Kemarahan Bella sudah memuncak.
Bella mengangkat tangannya hendak menampar Melissa, tiba-tiba ada tangan yang menahan tamparannya. Andrew datang dan langsung menghadang Bella.
"Lepaskan tanganmu, jangan mencampuri urusanku." Sorotan mata Bella terlihat sangat kesal.
"Dasar wanita bodoh, kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan!" bentak Andrew dengan emosi.
"Cukup Andrew." Melissa memotong perkataan Andrew.
Melissa beranjak meninggalkan mereka berdua. Andrew juga pergi keluar dari hotel.Sebelum pergi Andrew sempat menghampiri Bella.
__ADS_1
"Kamu akan menyesali perbuatanmu." Andrew langsung memasuki mobilnya.
Kejadian di lobby ini cukup membuat kehebohan. Para karyawan hotel mulai bergosip. Bella juga tidak terima dengan kejadian ini. Dia merasa sudah dipermalukan oleh wanita rendahan.
Sedangkan Melissa sudah berada di ruangan Randy. Masuk ruangan langsung tiduran di sofa.
"Kamu kenapa Mel? Muka ditekuk begitu," ucap Randy yang melihat adiknya tampak berantakan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Melissa.
Randy adalah tipe kakak ipar yang posesif. Bahkan dia menyayangi Melissa seperti adik kandungnya sendiri. Tak ingin merepotkan kakak iparnya, Melissa tak menjelaskan apa yang sudah terjadi di lobby tadi. Melissa tahu benar sifat kakak iparnya itu. Tak lama aku tidur di sofa, dering telpon membangunkan aku.
"Kirim kamera cctv di lobby, selidiki siapa yang berani mengganggunya." Perkataan Randy benar-benar membuat Melissa langsung bangun dan merajuk pada kakaknya.
"Sudahlah Mas, tidak terjadi apa-apa denganku." Melissa mencoba merayu Randy agar tak memperpanjang masalah ini.
Lalu ada pesan di ponsel Randy, kalau rekaman cctv sudah di kirim. Randy langsung melihat rekaman video di lobby. Randy terlihat emosi dan mengepalkan tangannya.
"Kalau Andrew tidak datang, apa yang akan terjadi padamu Mel?" Tatapan Randy berada di puncak kemarahan.
__ADS_1
Ketika kakak iparnya sedang marah, lebih baik Melissa diam. Melissa menatap wajah Randy dengan mata berkaca-kaca. Lalu Randy keluar meninggalkan ruangannya. Melissa merasa bersalah karena tidak jujur dengan kakak iparnya. Melissa kembali tiduran di sofa hingga tak lama kemudian Mariana datang.
"Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti itu, Mel?" Pertanyaan Mariana membuat Melissa langsung terbangun dan memeluk kakaknya.
"Aku tak ingin masalah ini menjadi besar dan membuat kehebohan, Kak." Melissa hanya tertunduk.
"Kamu tahu sendiri bagaimana Randy menyayangi kamu. Dia tak ingin kehilanganmu seperti dia kehilangan adik kandungnya. Bahkan sedikit saja kamu terluka, dia bisa saja memberikan pelajaran besar pada orang yang melukaimu." Mariana menghentikan ceritanya.
"Mulai besok tinggallah bersama kakak, sudah terlalu lama kamu tak pernah pulang. Bahkan kamu pulang hanya saat pemakaman Ayah kita. Apa kamu tidak bosan tinggal di hotel?" Mariana melanjutkan ucapannya.
"Kakak ingin aku tinggal di Semarang, padahal Kakak sangat tahu aku tidak suka tinggal disana," jawab Melissa.
"Siapa bilang di Semarang, Kakak membeli rumah di dekat Bandara. Dan ibu satu-satunya orang tua kita, selalu ikut kemana kami pindah. Temuilah Ibu sekarang, sudah terlalu lama kamu melupakannya." Mariana terus membujuk adik kesayangannya itu.
"Beri aku waktu, Ibu selalu menyuruhku untuk segera menikah. Jadi sementara aku memilih untuk tak menemui beliau. Aku takut terus saja membuatnya kecewa," jawab Melissa.
"Pilihan ada di tanganmu, setelah tenang segera temui Randy. Dia menunggumu di ruang meeting." Mariana pun pamit untuk pulang.
Happy Reading
__ADS_1