Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 116


__ADS_3

Suasana ruangan begitu mencekam, tak ada seorangpun yang mengeluarkan suaranya. Rudy memandang Jessie dengan ekspresi wajah yang cukup dingin. Ketika Jessie menatap kakeknya dengan senyuman yang penuh harap, akhirnya senyuman Rudy mencair juga. Dia tak sanggup melihat cucunya terlalu kegelisahan. Pria tua itu menyentuh kepala Jessie, sesekali dia mengusapnya lembut. "Apakah Ardi yang memaksamu mengatakan ini?" tanyanya.


Pertanyaan Rudy begitu mengejutkan Jessie. Dia tak menyangka kalau kakeknya berpikir seperti itu tentang kekasihnya. Dengan sedikit kekecewaan di dalam hatinya, Jessie mencoba melebarkan sebuah senyuman yang tulus. "Kak Ardi tak pernah sekalipun meminta Jessie melakukan itu. Semua ini murni keinginan Jessie," jelasnya dengan sopan.


"David berharap, Ayah akan mempertimbangkan keinginan Jessie. Selama ini, Ardi juga sudah cukup banyak berkorban untuk Jessie. Sepertinya dia akan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab," ujar David kepada ayahnya.


Di tengah keheningan itu, Melissa berjalan menghampiri Rudy. Dia pun duduk tepat di samping pria tua itu. "Ayah, ijinkanlah Jessie meresmikan hubungannya dengan Ardi. Melissa berharap Ayah akan merestui mereka berdua," ucapnya dengan sangat lembut dan sopan.


Suara lembut Melissa berhasil mencair gunung es. Seolah bunga-bunga mulai bermekaran di musim semi. Aura dingin pada wajah Rudy berangsur menjadi tatapan yang hangat dan menyejukkan. Setelah ketegangan yang berlangsung cukup lama, akhirnya seisi ruangan dapat bernafas dengan lega. Seperti mendapatkan hembusan angin yang menyegarkan jiwa mereka. Mereka semua dapat melepaskan semua kecemasan dan kegelisahan hatinya.


Rudy memandang lembut cucu kesayangannya itu, lalu menggenggam tangan yang dulunya mungil yang selalu membuatnya rindu. Sekarang tangan itu menjadi lebih besar, namun tetap imut dimatanya. "Kakek akan mengurus pernikahan kalian secepatnya," jawabnya dengan senyuman yang tulus.


Jessie langsung memeluk kakeknya dengan erat. Walaupun dia sempat takut kakeknya akan menolak, akhirnya gadis itu bisa bernafas lebih lega. "Terimakasih, Kakek," ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Jessie rasanya ingin menangis karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang selalu diimpikannya sejak lama. Akhirnya semua akan segera menjadi kenyataan. Gadis itu menjadi tak sabar, untuk segera berlari menemui kekasihnya. Dia tak bisa membayangkan, ekspresi apa yang akan ditunjukkan oleh lelaki itu. Mungkinkah Ardi juga akan menangis seperti dirinya? Jessie tertawa di dalam hatinya, karena tak sopan jika dirinya tertawa sendiri di saat seperti itu.


Kemudian Jessie menyusul neneknya yang sedang memasak di dapur. "Nenek! Aku sangat menyayangimu," ucap gadis itu manja sambil memeluk wanita tua itu.

__ADS_1


"Kamu sudah mau menikah, tak boleh lagi bersikap manja seperti ini," ujar Nenek Melly.


Jessie memandang Melly dengan tatapan yang sedikit aneh. Sebenarnya gadis itu menyimpan sebuah pertanyaan yang mengusik pikirannya. Namun dirinya tak yakin untuk menanyakan hal itu. Tak ingin terus penasaran, akhirnya Jessie memberanikan diri untuk bertanya. "Nenek. Jessie melihat ucapan Mama begitu mempengaruhi Kakek Rudy, apakah ada alasan yang khusus?" tanyanya dengan sangat penasaran.


Melly memandang cucunya dengan senyuman, lalu menghentikan aktivitas memasaknya. "Kamu sangat tahu, mamamu selalu bisa mengambil hati siapapun. Begitu juga kakek dan papamu , setiap ucapan mamamu seperti mantra buat mereka berdua. Tak akan ada yang bisa menolaknya," jelasnya.


Jessie mulai memikirkan maksud dari ucapan neneknya. Dia mulai mengingat hal-hal yang membuat papanya terlihat sangat tergila-gila dengan istrinya itu. Jessie pun menjadi senyum-senyum sendiri mengingat tingkah konyol papanya. Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di masa lalu.


Setelah menyelesaikan pembicaraan mereka, akhirnya semua kembali ke aktivitas masing-masing. Jessie memilih berangkat ke kantor diantar oleh sopir kakeknya. Sedangkan Melissa akan ikut suaminya ke kantor.


Jessie berdiri di depan pintu apartemen kekasihnya. Setelah beberapa kali menekan bel pintu, akhirnya terbuka juga. Gadis itu langsung meletakkan makanannya, kemudian memeluk Ardi dengan erat. Dia merasakan kebahagiaan yang berlimpah, sampai Jessie tak sanggup mengatakan berita bahagia itu.


Ardi yang melihat kekasihnya memeluknya dengan berurai air mata, menjadi sangat mengkhawatirkan gadis itu. "Sayang, mengapa kamu menangis?" tanyanya cemas.


Jessie menghapus air matanya, lalu memandang Ardi dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Ini bukan tangisan, melainkan air mata kebahagiaan. Kak Ardi, aku sangat mencintaimu," ucapnya sambil kembali memeluknya.


Ardi masih sedikit bingung dengan perkataan Jessie. "Apakah dia sebahagia itu ketika bertemu denganku?" tanyanya dalam hati. Lalu Ardi tak mau ambil pusing hal itu. Baginya, asalkan Jessie bahagia dia juga akan bahagia. Tak peduli dengan alasan apapun.

__ADS_1


Setelah puas memeluk Ardi, gadis itu segera ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka. Raut kebahagiaan masih terpancar jelas dari wajah Jessie. Walaupun Ardi sangat penasaran, lelaki itu mencoba menahan dirinya untuk tidak bertanya. Dia memilih agar Jessie sendiri yang akan menceritakannya.


Akhirnya beberapa makanan telah tersaji di atas meja makan. Jessie mengambilkan makanan untuk kekasihnya itu. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang saling mencintai. Ardi begitu menikmati makanan yang diambilkan oleh Jessie. Sambil makan, sesekali Ardi melirik gadis cantik yang duduk disampingnya itu. Lelaki itu mulai berandai-andai, jika dirinya dan Jessie sudah menikah. "Pasti sangat menyenangkan," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Mengapa Kak Ardi tersenyum tanpa alasan?" tanyanya penasaran.


Ardi semakin terkekeh geli dengan angan-angannya sendiri. "Aku sedang membayangkan jika kita sudah menikah, pasti akan mirip seperti ini," jelasnya lalu lelaki itu melanjutkan makan siangnya.


Jessie jadi ikut-ikutan tersenyum membayangkan hal itu. Dia pun menatap Ardi dengan perasaan yang sangat bahagia. "Kakek sudah setuju kalau pernikahan kita dipercepat," ucapnya.


Ucapan Jessie berhasil membuat Ardi tersedak makanannya sendiri, lelaki itu menjadi batuk-batuk dengan wajah yang memerah. Ardi masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia pun mengambil air lalu meminumnya perlahan. Setelah dirasa sudah lebih baik, Ardi langsung menatap tajam kekasihnya. "Apa kamu serius, Sayang?" tanyanya.


"Awalnya aku takut Kakek akan menolaknya, namun setelah kedua orangtuaku membujuknya akhirnya Kakek menyetujuinya juga," jawabnya dengan wajah berbinar.


Tanpa disadarinya, Ardi mulai meneteskan air matanya. Lelaki itu merasa, kebahagiaan tinggal selangkah lagi. Selama ini, hanya Rudy yang selalu membebani pikirannya. Karena Rudy pernah beberapa kali mengancam Ardi untuk tidak menikahi Jessie, sebelum gadis itu benar-benar bisa membangun bisnisnya. Akhirnya Ardi dapat sedikit bernafas lega. Dia juga sudah tak sabar untuk menjadikan Jessie sebagai istrinya yang sah.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2