
Jessie dan Jason begitu bahagia menyambut kedatanganku dan Melissa. Raut wajah mereka terlihat bersih cerah. Jason memelukku erat, begitu pun Jessie memeluk Mamanya.
Jessie berjalan menghampiri Melissa yang baru sampai di teras depan. "Selamat datang Mama Melissa yang paling cantik," sapanya sambil tersenyum.
Sedangkan dari luar, aku merangkul Jason memasuki rumah kami. " Apakah Mama merepotkan Papa selama di Tokyo?" tanya Jason.
Sebelum menjawab, ku lirik istriku sebentar.
" Papa bahkan terlalu bahagia, bisa berbulan madu kembali dengan Mamamu," jawabku sambil terus melirik Melissa.
Wanita yang menjadi istriku terlihat malu mendengar perkataanku. Wajahnya merah merona, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Melissa pun menghampiriku dan menarik tanganku. "Ayo kita istirahat dulu di kamar, jangan menceritakan yang tidak-tidak," ucapnya kesal.
Melihat sikap Mamanya, Jessie tersenyum penuh arti. "Sepertinya bulan madu di Tokyo belum cukup untuk Mama, hingga harus memaksa Papa menemani di kamar," ucap Jessie menggoda.
" Anak kecil tahu apa," ucap Melissa kesal lalu beranjak memasuki kamar.
Jessie dan Jason tertawa keras melihat kelakuan menggemaskan dari Melissa. Aku hanya bisa mengikuti Istriku sambil senyum-senyum dengan kelakuannya. Sebelum Melissa berubah menjadi singa betina yang mengamuk, lebih baik ku turuti keinginannya.
Melissa membereskan semua barang-barang di kamar. "Mas, mandilah dulu. Aku akan membereskan ini dulu," ucapnya sambil terus mengeluarkan baju dari koper.
Ku peluk istriku dari belakang dan kuciumi leher belakangnya. "Bukankah akan menyenangkan kalau bisa mandi bersama?" tanyaku sambil terus menggodanya.
Melissa membalikkan badannya, hingga kami saling menatap. "Cepatlah mandi atau mau tidur di luar malam ini?" ucapnya kesal.
Tak menunggu lama aku langsung memasuki kamar mandi. Kalau Melissa sudah ngambek urusan bisa makin panjang. Setelah selesai mandi, gantian Melissa yang mandi. Sedangkan aku memilih menunggu di meja makan bersama anak-anakku. " Kalian berdua sudah lama menunggu?" tanyaku pada mereka.
" Sudah dari tadi Pa... Dimana Mama? Kami berdua sudah sangat lapar," ucap Jessie manja.
__ADS_1
Ku elus rambut lembut milik Jessie. "Tunggu sebentar lagi Sayang, Mama pasti segera turun," jawabku.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, Melissa turun dengan cantik dan sangat anggun. Ketiga pasang mata terpaku menatap wanita yang langsung duduk di sampingku.
" Maaf, kelamaan nungguin Mama ya," ucapnya dengan senyuman.
Jason tersenyum menatap Mamanya. "Malam ini Mama sangat cantik, kalau begini Papa pasti akan jatuh cinta lagi pada Mama." Dia lalu melirik ke arahku.
Wajahku pasti memerah karena ledekan Jason berhasil membuatku malu. Tanpa banyak berkata, kami menikmati makan malam pertama setelah kembali dari Tokyo.
" Sayang, oleh-oleh kalian masih di kamar. Sehabis makan ambil di kamar Mama ya..." Ucapan Melissa membuat mereka sangat senang.
Karena mereka berdua berpikir, Papa dan Mama telah lupa membelikan buah tangan untuk anak kesayangan. Selesai makan, aku dan Melissa kembali ke kamar. Sebenarnya kami berdua sedikit kelelahan karena perjalanan panjang kembali ke Indonesia.
Sampai di kamar, aku langsung memeluk Istriku. Karena tak tahan melihatnya terlalu cantik malam ini. "Sayang, aku menginginkanmu sekarang," bisikku di telinganya.
Melissa menerima setiap kecupan dan sentuhan lembut yang kuberikan. Bahkan dia sangat menikmatinya hingga memejamkan matanya.
" Kak, aku tak menyangka Papa dan Mama masih sangat bergairah," ucapnya polos.
Jason menutupi mulut Jessie dengan tangannya. "Pelan kan suaramu, jika Mama mendengar bisa-bisa singa betina akan mengamuk," katanya dengan tersenyum.
Di atas balkon, pikiran Jessie mulai membayangkan yang tidak-tidak. Jason yang menyadari perubahan ekspresi pada adiknya, sedikit mengkhawatirkannya.
" Jangan pikir kamu akan melakukannya juga dengan Ardi," cetus Jason ketus.
Jessie malah tersenyum manis menatap Jason. "Darimana Kak Jason tahu kalau aku ingin melakukannya dengan Kak Ardi?" tanyanya.
__ADS_1
" Lihat ekspresi wajahmu itu? Seperti kucing yang ingin menggoda pasangan," jawab Jason.
Jessie memukuli lengan Jason berkali-kali.
" Jangan samakan Jessie dengan kucing," teriaknya cukup keras.
Jason memeluk adiknya dan mengelus rambut lembut miliknya. "Tentu saja, kamu adalah adikku yang teramat cantik. Lupakan apa yang sudah kita lihat tadi. Jangan berpikir yang tidak-tidak, kamu harus menjaga dirimu," jelas Jason sangat lembut.
Kedua kakak beradik itu kembali ke kamar masing-masing. Karena malam semakin larut dan besok pagi mereka harus pergi ke sekolah.
Hidangan sarapan sudah tersaji di atas meja. Jason dan Jessie sudah duduk di kursi mereka. Sambil menunggu mereka berdua memainkan ponselnya. Hingga tak menyadari pasangan yang ditunggu sudah datang.
" Berhenti memainkan ponsel, cepat habiskan sarapan kalian." Suara Melissa menghentikan keasyikan bermain ponselnya.
Tanpa ada jawaban, mereka berdua langsung menikmati sarapannya. Jessie diam-diam melirik wanita yang duduk di hadapannya.
" Besok lagi kalau mau beradegan romantis di kamar tutup pintu dulu dong. Mata Jessie terpaksa melihat pemandangan yang terlarang," cetusnya.
Secara bersamaan aku dan Melissa tersedak makanan kami. Melissa menatapku dengan tajam. Aku tak menyangka, kalau semalam kami lupa menutup apalagi mengunci pintu kamar. Wajah Melissa merah padam karena malu. Dia hanya menundukkan kepalanya, karena tak mempunyai muka menatap kedua anaknya. Setelah itu Jason dan Jessie berpamitan berangkat ke sekolah.
Tinggallah aku dan istriku duduk di meja makan. Melissa menatapku tajam dan menakutkan. "Ini semua gara-gara Mas David. Kok bisa-bisanya sampai lupa menutup pintu. Coba Mas pikir, apa yang sudah mereka lihat? Tak seharusnya mereka melihat pemandangan seperti itu," ucapnya kesal.
" Tenanglah Sayang, aku yakin mereka berdua hanya melihat sekilas. Tak mungkin melihat pemandangan terlarang untuk mereka. Apalagi Papa dan Mama mereka yang beradegan romantis," jawabku dengan senyum.
" Mas David bisa setenang itu?" Melissa semakin emosi.
" Mereka cukup dewasa untuk tahu mana yang baik dan tidak." Ucapanku sedikit menurunkan emosi Melissa.
__ADS_1
Setelah kejadian memalukan itu, aku sedikit berhati-hati jika akan bermesraan dengan istriku. Bukan karena anak-anakku, tapi karena istriku yang kepalang malu. Karena terpergok oleh anak-anaknya sendiri. Belum lagi Jessie terkadang masih mengungkit kejadian itu. Gadis muda itu sangat senang menggoda Mamanya. Bahkan pernah setelah Jessie meledeknya, justru aku yang menjadi bulan-bulanan istriku. Melissa masih berpikir, itu semua terjadi karena kecerobohanku sendiri. Aku hanya bisa pasrah, daripada harus tidur di luar dan tak bisa memeluk Melissa. Wanita yang sangat aku cintai.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰