
Di malam ini, rumah kediaman Keluarga Gunawan terasa berbeda. Sang kepala keluarga sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Mungkin untuk beberapa hari kedepan, Melissa harus rela tidur sendirian di kamarnya. Makan malam kali ini juga terasa kurang menyenangkan.
" Mama, kenapa tidak nafsu makan begitu?" tanya Jason.
Melissa meletakkan sendok makannya, dan meminum segelas air putih. " Tanpa Papamu, seperti ada yang kurang," ucapnya tak bersemangat.
" Apakah Mama sangat merindukan Papa David?" tanya Jessie sambil senyum-senyum.
Melissa tak menjawab pertanyaan anak perempuannya, dia berdiri dan berniat meninggalkan meja makan.
" Kalau Mama terlalu merindukan Papa, Mama susul saja ke Jepang," kata Jessie.
" Bagaimana Mama bisa tega meninggalkan kalian berdua sendirian?" ucapnya dengan sedih.
Jessie dan Jason menjelaskan pada Melissa, bahwa dia tak perlu mengkhawatirkan mereka berdua. Lagian mereka sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Melissa hanya bisa tersenyum menatap kedua anaknya, tanpa memberikan pernyataan apapun.
Pagi harinya, Melissa benar-benar pergi ke bandara menyusul Suaminya. Setelah berpamitan dengan kedua anaknya, Melissa dengan berat hati meninggalkan anaknya untuk menyusul Suaminya ke Jepang.
__ADS_1
" Sampai jumpa Mama," ucap Jessie.
Jason merangkul adik kembarnya dan mengajaknya ke sekolah sebelum terlambat.
" Ayo segera berangkat," ajak Jason.
Jessie terlihat berat ketika melihat Mama Melissa pergi meninggalkannya. Ada rasa tak tenang dan gelisah bergemuruh di dalam hatinya. Matanya mendadak berair, seperti akan menangis. Akhirnya dengan tak bersemangat Jessie memasuki mobil. Mereka berangkat bersama ke sekolah.
Di sekolah Jessie terus saja melamun, sampai dia tak mendengar ketika guru di kelasnya memanggil.
" Jessie maju ke depan kerjakan nomor 7," kata Pak Hasan guru biologi.
Dengan wajah kesal, Pak Hasan berjalan ke arah Jessie. " Lebih baik kamu keluar dari kelas saya," ucap Pak Hasan dingin.
Mendengar suara yang sangat dekat dengan telinganya, Jessie terperanjat kaget. Lamunannya berakhir begitu saja. " Mohon maafkan Jessie Pak," kata Jessie penuh penyesalan.
" Kamu saya maafkan, tapi hari ini kamu harus keluar dari kelas saya," jawab Pak Hasan dengan sorot mengerikan.
__ADS_1
Mau tak mau Jessie keluar dari kelasnya. Dia bingung apa yang harus dilakukannya di luar kelas yang sangat sepi. Jessie berjalan pelan menuju perpustakaan. Dipilihnya tempat duduk paling pojok. Dibacanya buku yang sudah diambil sebelum duduk. Saat sedang konsentrasi membaca, datanglah seseorang menghampirinya.
" Tumben pagi-pagi sudah disini Jess?" tanya seorang murid di sampingnya.
Jessie menoleh ke arah suara di sampingnya. " Kak Ardi, kok disini juga," jawabnya.
" Hari ini aku jadi petugas piket di perpustakaan." Ardi menjawab dengan senyuman indah di wajahnya.
Melihat senyuman yang sangat indah, hati Jessie mendadak berdebar tak beraturan. Jantungnya berdegup lebih kencang. Rasanya seperti berada di antara bunga musim semi. Tanpa disadarinya, wajahnya mulai merona merona.
Ardi menyentuh wajah Jessie dengan tangannya. " Apa kamu sedang sakit? wajahmu memerah," tanyanya.
Jessie langsung gelagapan karena malu, tak bisa menutupi kekagumannya kepada Ardi.
" Aku baik-baik saja Kak," jawab Jessie.
Diam-diam Ardi memperhatikan kegugupan Jessie karena bertemu dengannya. Kecantikan Jessie juga telah membuat Ardi terpesona memandangnya. Tak bisa dipungkiri pesona gadis itu telah menyihir mata Ardi, untuk tak bisa berhenti memandangnya.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰