Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Sebuah Kesalahan


__ADS_3

Sepulang dari Green Cafe, aku langsung menjemput Melissa di restoran. Kami pun pulang, di sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan diantara kami. Aku melajukan mobil ke arah rumahku.


''Lho! Ini bukan ke arah kost aku?'' Melissa menatapku tajam.


''Aku tak ingin membuat keributan di tempat kost.'' Aku sengaja memperjelas suasananya.


Kamipun sampai di rumahku. Melissa terlihat seperti enggan memasuki rumah.


''Masuklah!'' ajakku kepadanya.


''Jadi apa yang akan kamu jelaskan padaku.'' Suara Melissa terdengar sudah tidak sabar dengan penjelasanku.


''Please! Duduklah dulu, aku akan menjelaskan semuanya.'' Aku menarik Melissa supaya duduk di sofa ruang tamu.


''Renata adalah tunanganku .... ''


''Apa!'' seru Melissa dengan ekspresi terkejut dan penuh kekecewaan.


''Jadi selama ini kamu hanya mempermainkan aku?" Melissa melanjutkan perkataannya yang tadi sempat terhenti.

__ADS_1


''Aku mencintaimu dan hanya mencintaimu tak ada yang lain, tak pernah aku berpikir untuk mempermainkanmu.'' Ungkapan ini keluar dari hatiku yang terdalam.


''Kalau kamu mencintaiku. Bagaimana dengan tunanganmu, apa itu juga cinta?'' Pertanyaannya seolah menjadi tamparan bagiku.


''Itu semua adalah sebuah kesalahan .... '' Aku sengaja menghentikan perkataanku.


''Apa maksudmu dengan kesalahan?'' Melissa semakin menuntut penjelasanku.


Flashback On


Malam itu adalah malam tahun baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di kantor tempatku magang selalu mengadakan makan malam tim.


''Tentu saja, sebagai karyawan magang rasanya tidak enak kalau menolak undangan staf senior,'' jawabku padanya.


Dan benar, akhirnya aku berangkat bersama Renata. Status kami sebagai karyawan magang menjadikan hubungan kami cukup dekat. Acara berlangsung hingga tengah malam.


''Bagaimana kalau kita langsung ke tempat karaoke?'' ajak salah satu staf senior.


Tak ada yang berani menolak usulan itu. Sedangkan aku, setuju atau tidak aku harus mengikutinya. Akhirnya kami semua langsung ke tempat karaoke. Di dalam Room, kami minum-minum hingga mabuk. Selesai acara satu per satu meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Seingatku, malam itu aku mengantarkan Renata pulang. Aku tak ingat apa saja yang terjadi malam itu. Pagi harinya, aku mendapati diriku telanjang di atas ranjang bersama Renata. Lebih kagetnya lagi, aku melihat ada noda darah di atas sprei. Aku sangat menyesali kejadian malam tahun baru itu.


Flashback Off


Aku menatap Melissa dengan rasa bersalah. Melihatnya terluka menjadikan aku juga sangat terluka.


''Inilah alasan aku menyetujui pertunangan itu. Namun sekalipun aku tak pernah mencintainya. Aku hanya merasa bertanggungjawab karena mengambil kegadisannya. Aku tak mungkin memutuskan pertunangan ini kalau Renata tak menginginkannya,'' jelasku panjang lebar.


Aku menghentikan penjelasanku dan mengambil nafas yang dalam. Melissa hanya terdiam dengan derai air mata yang mengalir dari mata indahnya.


''Kumohon! Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Percayalah, hanya kamu yang aku cintai. Tak akan pernah ada yang lain,'' ucapku lagi.


Dalam derai air mata, aku memeluk Melissa. Lalu aku kecup keningnya, dan aku hanya berharap dia bisa mengerti. Rasanya aku seperti berdiri di antara jurang yang curam. Aku tak pernah menyangka rasa cintaku padanya yang begitu dalam, justru membuat kami terluka. Melissa pun melepaskan pelukanku lalu kemudian menatapku.


''Buktikan padaku! Hanya aku yang kamu cintai. Kalau kamu tak bisa meninggalkannya, maka aku yang akan meninggalkanmu,'' ucapnya dengan wajah sedih dan terluka.


Itulah ucapan terakhirnya sebelum Melissa meninggalkan rumahku.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2