Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 107


__ADS_3

Ardi masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju rumah tunangannya. Sesekali dia melirik wajahnya di kaca spion dalam mobilnya. Memar di dekat bibirnya masih sangat terlihat jelas. Lelaki itu tak ingin membuat tunangannya menjadi khawatir. Ardi pun memikirkan alasan alasan apa yang akan diucapkannya, jika Jessie bertanya. Sampailah di depan rumah besar itu. Jessie yang sudah menunggu di teras depan rumah, langsung berjalan lalu memasuki mobil Ardi. "Pagi, Kak!" sapa gadis itu.


Ardi mengulas senyuman, lalu kembali melajukan mobilnya. "Pagi, Sayang," jawabnya.


Jessie terus saja menatap lelaki yang duduk disampingnya itu. Memar di dekat bibirnya begitu menarik perhatiannya. Dia pun ingin memastikan luka itu dengan menyentuhnya lembut.


"Aduh!" seru Ardi begitu merasakan sentuhan di dekat bibirnya.


Ardi hanya melirik Jessie sekilas, tak mampu mengatakan apapun yang membuatnya sedih. Wajah Jessie menjadi kesal, ketika lelaki itu hanya diam tanpa menjelaskan apapun.


"Haruskah kita ke Rumah Sakit?" tanyanya khawatir.


"Tak perlu, Sayang. Ini hanya luka biasa bagi seorang lelaki. Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu," jelasnya.


"Apa yang menyebabkan Kak Ardi terluka seperti ini?" tanyanya lagi.


Ardi menggenggam tangan Jessie, lalu sesekali menciuminya. "Ini urusan para lelaki. Yang penting sekarang aku baik-baik saja," ucap Ardi.


Jessie akhirnya harus menerima alasan tak masuk akal dari tunangannya. Namun apa boleh buat, lelaki itu seolah menutupinya. Wanita itu akan membiarkan Ardi menyimpan sendiri alasan dirinya terluka. Tetapi ini hanya untuk kali ini saja, lain kali Ardi bisa melihat sendiri apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.


Sampai di depan gedung kampus, Jessie pamit dan langsung keluar dari mobil. Ardi pun langsung pergi dari tempat itu. Beberapa saat kemudian, mobil Adam pun datang. Belum sempat Jessie beranjak pergi, Adam keluar dari mobilnya. Namun ada hal yang membuat Jessie tertarik untuk memandang wajah Dosennya itu. Wanita itu pun pura-pura menyapa dosennya, untuk menjaga kesopanannya.


"Selamat pagi, Pak Adam," sapa Jessie sambil memandang lekat pada wajah itu.

__ADS_1


"Pagi, Danisha. Saya duluan ya." Adam beranjak pergi, sebelum Jessie menelanjanginya dengan pandangan mata yang tajam.


Jessie berpikir, bagaimana Adam bisa mempunyai luka yang sama dengan Ardi? Gadis itu pun dapat menduga sendiri. Dia yakin, telah terjadi sesuatu antara 2 orang kakak beradik itu. Masih larut dalam pikirannya, Jessie masuk kelas sebelum kuliah di mulai. Pagi hari itu, Adam mengajar mata kuliah di kelas Jessie. Adam merasa sangat tidak nyaman, melihat Jessie yang terus memandangi wajahnya. Entah sadar atau tidak, Jessie secara terus-menerus memandang Dosen itu hingga mata kuliah selesai.


Lusia yang menyadari itu, langsung menepuk pundak Jessie dengan pelan. "Hai! Apa ada yang salah dengan Pak Adam?" tanyanya membuat Jessie tersadar.


Jessie yang sedikit terkejut, langsung menatap sahabatnya sambil tersenyum. "Aku heran saja, bagaimana Pak Adam memiliki luka yang sama dengan Kak Ardi?" jawab gadis itu.


"Luka? Memangnya di bagian mana Dosen ganteng itu terluka? Bukankah luka di hati tidak terlihat?" goda Lusia sambil senyum-senyum.


"Dasar! Kamu malah meledekku?" tanya Jessie geram.


Jessie pun menceritakan kesamaan luka antara Adam dan tunangannya. Lusia pun berpendapat kalau mereka berdua pasti bertengkar, hingga saling memukul satu sama lain. Jessie akhirnya memiliki pemikiran yang sama dengannya. Dia juga sudah tak sabar untuk bertanya pada tunangannya. Begitu semua kelas selesai, Jessie langsung menuju kantornya dengan taksi. Tadi Ardi mengirimkan pesan, jika tak bisa menjemputnya karena harus bertemu klien di kantor.


"Pak Ardi sedang menemui klien di ruang meeting, Bu," jawabnya.


Gadis itu berjalan menuju ruang meeting, ternyata benar, Ardi sedang membahas tentang proyek bersama seorang wanita dan 2 orang pria. Jessie sengaja mengintip sebentar karena penasaran. Gadis itu berakhir menunggu Ardi di ruangannya. Dia mulai membaca beberapa berkas yang tergeletak di mejanya. Hingga sangat bosan, Jessie kembali menuju ruang meeting. Kebetulan sekali mereka semua juga baru saja keluar dari ruangan itu.


Jessie mendapati tatapan aneh dari wanita itu pada tunangannya. Hingga mereka benar-benar pergi, Jessie menghampiri Ardi dengan senyuman manja. "Kenapa lama sekali?" tanya Jessie sambil bergelayut manja di lengan Ardi.


" Apa kamu sudah sangat merindukan kekasihmu ini?" tanya Ardi dengan nada menggoda.


Mereka berdua lalu masuk ke ruangan Jessie, saling memeluk untuk melepaskan kerinduan yang tertahan. Lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Jessie pun kembali menyentuh luka di dekat bibir Ardi. "Apa ini sangat sakit?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak akan sakit jika kamu disini," jawab Ardi lalu mencium Jessie dengan lembut.


Setelah puas dengan ciuman mereka, Jessie memesan makanan untuk menu makan siang. Mereka berdua menunggu sambil mengobrol.


"Apa luka ini karena Pak Adam?" Pertanyaan Jessie seolah menghentikan detak jantung Ardi untuk sesaat.


"Bagaimana Jessie tahu?" batin Ardi.


Ardi hanya tersenyum sambil mengelus pipi Jessie yang sangat menggemaskan. Tak mendapatkan jawaban, Jessie menjadi sedikit kesal. "Aku melihat Pak Adam juga memiliki luka yang sama," cetus Jessie.


"Sudahlah, Sayang. Ini tidak parah, seorang kakak beradik berantem itu adalah hal yang biasa," jelas Ardi dengan tenang.


"Aku tak mau melihat Kak Ardi terluka lagi. Berjanjilah Kak Ardi tak akan terluka lagi. Apapun alasannya," balas Jessie.


"Baiklah. Sayang," jawab Ardi.


Setelah pesanan datang, mereka berdua langsung menikmati makan siang bersama. Sesekali Ardi menyuapi kekasihnya yang sedikit manja itu. Semakin hari Ardi semakin mencintai Jessie, bahkan lelaki itu akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk gadis itu. Segalanya rela Ardi lepaskan, kecuali Jessie. Seolah gadis itu sudah mengalir di dalam aliran darah Ardi. Nama Jessie sudah terukir jauh di lubuk hatinya yang terdalam.


Sedangkan cinta Jessie untuk Ardi, mungkin tak sebesar cinta Ardi untuknya. Namun cinta Jessie jelas seluas samudera, bahkan lebih dalam dari lautan. Gadis juga begitu mencintai Ardi, hingga Jessie pernah memilih untuk mati daripada kehilangan lelaki itu. Hidupnya juga hampir hancur, ketika Ardi menghilang tanpa jejak. Dia juga pernah menyerah atas cintanya, namun takdir berkata lain. Ardi tiba-tiba datang dan menjadi tunangannya, telah mengubah seluruh hati dan pikirannya. Dia semakin posesif terhadap lelaki itu. Jessie selalu dibayang-bayangi ketakutan jika harus kehilangan lelaki itu.


Itulah kisah cinta pasangan yang pernah terpisahkan, hingga akhirnya mereka bertemu dan bersatu kembali. Namun perjalanan cinta mereka tak akan mudah, mereka harus berjuang agar mampu terus bersama.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2