Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 111


__ADS_3

Sore harinya, mereka semua meninggalkan Semarang Kreatif Galeri. Kemudian bus melaju dengan kecepatan yang sedang menuju sebuah villa di Kaki Gunung Ungaran. Lingkungan pedesaan yang tenang dengan latar pemandangan Gunung Ungaran membuat dengan suasana yang sangat menyejukkan. Tak percuma Adam dan seluruh rombongan harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk bermalam di sana. Begitu sampai di villa, udara segar dan sejuk menyapa para pengunjung.


Jessie memandang indahnya pemandangan di sekitar villa itu. Bangunan bergaya Eropa dengan halaman yang lumayan luas merupakan daya tarik tersendiri bagi tempat itu. "Sangat indah," gumamnya sambil memeluk Lusia.


"Tetapi di sini terlalu dingin," protes Lusia.


"Kalau kamu mau, Pak Adam bisa memelukmu," goda Jessie dengan senyuman di wajah cantiknya.


"Dasar gila! Cantik-cantik kurang waras," gerutu Lusia lalu beranjak meninggalkan gadis itu.


Lusia sudah menyusul rombongan yang sudah memasuki villa itu. Sedangkan Jessie masih mematung di tempatnya. Setelah puas menghirup udara segar pegunungan, gadis itu menyusul yang lainnya masuk ke dalam villa. Didalam villa itu terdapat 6 kamar tidur, jadi mereka semua akan berbagi kamar dengan yang lainnya.


"Jessie!" panggil Lusia dari balik sebuah pintu kamar.


Gadis itu berjalan menuju kamar tempat Lusia memanggilnya. Jessie begitu terpana memandang desain villa yang besar itu. Rasanya seperti sedang tinggal di Eropa. Gadis itu akhirnya menemukan Lusia di kamarnya bersama 2 orang mahasiswi lainnya.


"Kamu tidur seranjang denganku," seru Lusia.


Saking lelahnya gadis itu langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tak berapa lama Jessie sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. 2 mahasiswi lainnya juga terlihat sedang istirahat. Lusia tak bisa tidur, dia pun bingung harus melakukan apa. Lalu dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar villa. Pemandangan pegunungan yang indah membuat Lusia larut dalam kesendiriannya. Hingga Lusia tak menyadari, seorang lelaki sedang berdiri bersamanya.


"Sendirian saja, dimana Danisha?" tanya Adam kepada gadis yang sedang termenung itu.


Lusia sedikit kaget dengan suara itu, dia tak menyadari seseorang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Gadis itu langsung menoleh, menatap arah suara itu berasal. Dia sempat tersenyum dengan cantik, sebelum Lusia menyadari kalau orang di sampingnya adalah Adam. "Pak Adam! Danisha sedang tertidur karena lelah," jawabnya dengan sedikit malu.

__ADS_1


"Udara di sini sangat dingin, tetapi mengapa wajahmu bisa memerah?" tanya Adam.


Mendengar pertanyaan Adam, Lusia langsung berlari meninggalkan Adam karena sangat malu. Dia tak mau lebih mempermalukan dirinya sendiri. Lusia memutuskan kembali ke kamarnya, untuk menyembunyikan dirinya dari Adam.


Adam terus memandang kepergian Lusia dari dirinya. Lelaki itu tak mengerti, mengapa Lusia meninggalkannya begitu saja? Ada sedikit tak nyaman ketika gadis itu pergi, tanpa mengatakan apapun padanya. "Perasaan apa ini, kenapa bisa sesakit ini?" tanyanya dalam hati.


Setelah itu Adam kembali ke dalam villa. Dia memilih bergabung dengan para Dosen lain, yang sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara berikutnya.


Malam pun tiba, seluruh mahasiswa dan pendamping berkumpul di halaman villa. Sebuah api unggun menyala menerangi kegelapan di sekitar villa. Semua orang duduk di atas rumput hijau yang lembut, mengelilingi api unggun itu. Udara menjadi sangat hangat, suasana menjadi sangat ramai. Mereka semua bernyanyi, bercanda dan saling meledek.


"Pertanyaan terakhir, khusus untuk Dosen kita yang paling populer. Pak Adam." Suara gemuruh tepuk tangan dan sorakan mereka memenuhi semua sudut tempat itu.


Adam hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara apapun. Dia sangat penasaran dengan pertanyaan yang harus dijawabnya.


Seluruh pasang mata langsung menatap Adam dengan sangat penasaran. Bagi Adam pertanyaan itu seperti tamparan baginya, namun dia tak mungkin mengelak. Karena semua orang seolah akan menerkam dirinya. Dengan terpaksa dia harus menjawab pertanyaan konyol itu.


"Tak ada kriteria khusus bagi saya. Yang jelas, saya hanya mencari wanita yang bisa membuat hati saya berdebar ketika bersamanya," jawab Adam.


Adam kemudian melirik 2 gadis yang duduk bersebelahan itu. Danisha dan Lusia, 2 gadis yang membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Namun perasaannya pada Lusia jauh lebih besar. Adam pun tak yakin, apakah dirinya sudah jatuh cinta pada gadis itu atau belum.


Malam semakin larut, semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing. Malam itu Lusia tak bisa tidur, dia pun mengajak Jessie menemaninya menonton televisi.


"Jess! Kita ke ruang tengah aja yuk! Aku mau menonton TV," ajak Lusia.

__ADS_1


Jessie pun mengikuti sahabatnya itu, mereka duduk saling berdekatan agar tak kedinginan.


"Jam berapa ini? Kok sudah sangat sepi," ucap Jessie.


"Mungkin mereka semua kecapekan," balas Lusia.


Tak berapa lama ponsel Jessie berdering, dia pun menjawab telepon itu. Lusia hanya mendengarkan obrolan mesra dari sahabatnya. Tak ingin mengganggu Jessie, gadis itu memilih duduk di teras samping villa. Lusia menatap bintang- bintang di langit malam yang sangat indah. Tiba-tiba tubuhnya bergetar merasakan kehadiran Adam disampingnya.


"Belum tidur?" tanya Adam yang sudah duduk di samping Lusia.


"Saya belum bisa tidur. Rasanya sangat sulit memejamkan mata malam ini," jawab gadis itu.


Mereka duduk berdua dalam dinginnya malam yang menusuk kulit. Tak ada pembicaraan yang bermakna. Ketika tak sengaja Adam menyentuh tangan Lusia, ada getaran hebat di dalam hatinya.


"Berikan tanganmu," ucap lelaki itu.


Dalam hati yang bingung dan tak mengerti maksud Adam, namun gadis itu tetap memberikan tangannya pada lelaki yang duduk di sampingnya. Adam menggenggam tangan Lusia dengan kedua tangannya. "Apakah ini terasa lebih hangat?" tanya Adam sambil menatap mata Lusia.


Jantung Lusia seolah akan meledak, dia mencoba menahan perasaannya sendiri. Lusia tak ingin mempermalukan dirinya, gadis itu tak mampu mengatakan apapun.


Ketika Adam mulai memeluknya, reaksi Lusia sangat pelan. Seolah gadis itu sudah pasrah pada lelaki yang memeluknya. Di detik berikutnya, jari Adam menyentuh bibir Lusia dan kemudian mencium gadis itu dengan sangat lembut. Lusia tak mampu menolaknya, namun dia juga tak bisa membalasnya. Karena itu adalah ciuman pertama bagi Lusia. Gadis itu merasa sudah terhipnotis dengan sentuhan Adam. Setelah selesai dengan ciuman mereka, Adam menatap Lusia penuh tanya. "Apakah ini yang pertama untukmu?" tanyanya.


Bukannya menjawab Lusia berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat malu dengan pertanyaan Adam. Di teras samping, Adam masih mematung tak bergerak. Bibir manis Lusia sudah memabukkan dirinya. Adam tak menyangka jika itu adalah ciuman pertama Lusia. Lelaki itu malah senyum-senyum membayangkan ciumannya dengan Lusia.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2