Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 118


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan cerah. Kilauan cahaya sang Surya menghangatkan dunia. Pagi yang terlalu indah, seindah kisah cinta yang dirasakan oleh Jessie. Semalam Jessie kesulitan untuk memejamkan matanya. Seakan bayangan kekasihnya tak berhenti menari-nari di pelupuk matanya. Hal itu membuat gadis itu menjadi terlambat berangkat kuliah.


Begitu bangun dan membersihkan dirinya, Jessie langsung berlari ke garasi. Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Saking terburu-burunya, tak sengaja gadis itu menyenggol sebuah mobil di depannya. Dengan berat hati, Jessie menghentikan mobilnya dan turun untuk memohon maaf.


Terlihat pengemudi di depannya juga menghentikan mobilnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan sedikit takut sekaligus cemas, Jessie berjalan mendekati mobil itu. Kemudian gadis itu mengetuk kaca mobil. Tak menunggu lama, seseorang keluar dari mobil itu. Jessie membulatkan matanya melihat lelaki yang keluar dari mobil itu. Entah itu kesialan atau takdir, Jessie tak pernah menduganya.


"Maafkan aku, Anton. Aku tak sengaja menggores mobilmu," ucapnya ragu sambil menyentuh rambutnya sendiri.


Bukannya marah, Anton justru tersenyum memandangi wajah cantik di hadapannya. "Sudah aku katakan, kita pasti berjodoh," kata Anton dengan arrogant.


Merasa tidak nyaman, Jessie langsung mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tasnya. Lalu memberikan kertas kecil itu padanya. "Maaf, aku sudah sangat terlambat masuk ke kelas. Kamu bisa menghubungiku untuk mengganti biaya perbaikan mobilmu," ujarnya dengan rasa bersalah.


"Tentu saja kamu harus membayarnya," seru Anton sambil tersenyum menyeringai menatap wajah Jessie.


"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Jessie lalu segera masuk ke dalam mobilnya.


Anton masih memandangi mobil yang membawa Jessie pergi semakin jauh. Tiba-tiba Anton tersenyum penuh arti. "Aku akan membuatmu membayarnya dengan tubuhmu," gumamnya disertai senyuman licik.


Sampai di kampus Jessie langsung memarkirkan mobilnya dan berlari menuju kelas. Namun sayangnya, Adam sudah berdiri di depan kelas untuk membawakan mata kuliahnya. Dengan ragu-ragu Jessie mencoba mengetuk pintunya. Tok tok tok.


Adam yang mendengar suara ketukan pintu langsung beranjak menuju arah suara. Terlihat Jessie memaksakan tersenyum dengan wajah yang sedikit panik dan lelah. "Ada apa dengan wajahmu? Kamu terlihat berantakan!" seru Adam dengan lirih.

__ADS_1


"Tadi Jessie hampir menabrak sebuah mobil, untung saja hanya menggores body mobilnya. Jessie boleh masuk?" tanyanya sambil tersenyum menggoda Adam.


Dosen itu terlihat sedang berpikir, dia sedikit ragu untuk mengijinkan Jessie masuk. Biasanya setiap mahasiswa yang terlambat masuk ke kelasnya, selalu dilarang masuk olehnya. Haruskah dia melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri? Adam berada di puncak kebingungannya.


"Please, Kak!" ucap Jessie dengan manja.


Kemudian Adam membukakan pintu, lalu mengisyaratkan gadis itu untuk masuk. Dia pun berjalan menuju tengah ruangan. "Karena Danisha baru saja mendapatkan musibah, saya membuat pengecualian untuk keterlambatannya," terang Adam pada seluruh mahasiswa di dalam kelas.


Seluruh ruangan tak ada yang berani memprotes kebijakan dari dosennya itu. Karena alasan Adam terdengar masuk akal dan dapat diterima. Selesai dengan kelasnya, Lusia menarik Jessie menuju kantin kampus. Dia sedikit khawatir melihat wajah Jessie yang berantakan. Setelah mereka memesan makanan dan duduk, Lusia menatap tajam sahabatnya itu.


"Apa yang membuatmu terlihat seperti ini?" tanya Lusia sambil merapikan rambut Jessie.


Jessie mendengus dengan tatapan yang sangat kesal. "Sial banget hari ini! Sudah bangun kesiangan, dijalan menyenggol mobil orang. Sialnya lagi, pemilik mobil itu adalah Anton. Rasanya sudah jatuh masih harus tertimpa tangga," jelasnya tak bersemangat.


"Kamu pikir aku pohon yang bisa berubah?" gerutu Jessie dengan wajah muram.


Lusia malah terkekeh geli mendengar Jessie menggerutu tidak jelas. Kemudian pesanan mereka berdua sudah datang. Jessie langsung melahapnya dengan cepat, karena gadis itu terlalu lapar. Tadi pagi dia bangun kesiangan dan tak sempat sarapan, sekarang dia merasa kelaparan. Tak berapa lama, Adam datang dengan tiga botol air mineral.


"Gadis ceroboh! Memesan makanan tanpa membeli minuman," ledek Adam pada dua gadis di depannya.


"Terimakasih, Kakak!" balas Jessie dengan senyuman manis.

__ADS_1


Lusia mengerutkan keningnya mendengar Jessie memanggil Adam dengan sebutan 'Kakak'. Dia pun memandang kekasihnya dan sahabatnya secara bergantian. "Sejak kapan kamu memanggil kekasihku dengan sebutan itu?" tanyanya penasaran.


Jessie tersenyum sambil memandangi sahabatnya. Dia pun meminum air mineral yang dibawa oleh Adam. "Sejak tadi pagi," jawabnya sambil terkekeh.


"Jadi kamu mencoba merayu kekasihku?" tanya Lusia dengan kesal sambil menggelitiki sahabatnya.


Jessie mencoba menghindari dan menjauh dari Lusia. "Hentikan! Kekasihmu itu adalah kakak ipar ku," ucap Jessie dengan lirih.


Adam hanya tersenyum melihat kekonyolan kedua gadis itu. Dia tak menyangka bisa mencintai dua gadis yang menjadi sahabat dekat. Walaupun perasaan ke Jessie sudah memudar, namun masih jelas di ingatannya kejadian di masa lalu. Betapa gilanya seorang Adam, yang berniat merebut kekasih adiknya sendiri. Sekarang lelaki itu sangat menyesali perbuatannya. Dia hanya akan mencintai satu gadis saja yaitu Lusia. Seorang gadis yang membuat jantungnya berdegup kencang, setiap berada di sampingnya. Seperti sekarang ini, hanya dengan melihat Lusia saja sudah cukup membuat hati Adam sangat berdebar.


Setelah menghabiskan makanannya, Jessie pamit untuk pergi ke kantor. Sedangkan Lusia akan pulang bersama Adam. Sampai di kantor, Ardi sedang meeting dengan para staf. Jessie pun menyusul dan langsung duduk di kursi samping Ardi. Gadis itu begitu serius mendengarkan laporan-laporan yang disampaikan oleh para staf. Jika ada hal yang menurut Jessie penting, dia langsung menuliskannya di note book. Akhirnya meeting itu selesai juga, seluruh staf sudah meninggalkan ruangan itu. Tinggallah Ardi dan Jessie yang masih tinggal di sana.


"Sudah makan siang?" tanya Ardi dengan lembut.


"Sebelum kesini aku makan dulu. Maaf, Jessie lupa tak membawakan Kak Ardi makan siang," jawabnya dengan sedikit senyuman disertai rasa bersalah.


Ardi mendekati Jessie dan mengecup bibirnya sekilas. "Aku baru saja mencicipi makan siangku," godanya sambil mencubit pipi Jessie dengan lembut.


Wajah Jessie menjadi merona, karena malu mendengar perkataan kekasihnya. Dia pun mencubit lengan Ardi dan berbisik di telinganya. "Kak Ardi makin nakal ya," ucapnya lirih.


Ardi menarik tubuh Jessie dan memeluknya. Beberapa detik kemudian, bibir pasangan kekasih itu sudah menempel dan saling memberikan sentuhan lembut. Mereka berdua tenggelam dalam romantisnya sebuah hubungan penuh cinta. Jessie pun begitu senang dengan perlakuan lembut Ardi kepadanya. Ardi telah berhasil mendebarkan hati Jessie, hingga rasanya akan meledak. Gadis itu merasakan kebahagiaan yang berlimpah dan melalui indahnya kisah cintanya bersama Ardi.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2