Love History

Love History
#34


__ADS_3

ketika sedang berbicara dengan bibi, handphone Reina sinyalnya hilang membuat wajah bibi di layar handphonenya buram dan tak lama kemudian hilang, Reina mengeluh tapi dia juga lumayan senang karena dia dapat melihat ayana, mereka semua duduk dan mengistirahatkan tubuh karena perjalanan yang akan nanti mereka lalui lagi. Reina juga meminum air yang dia bawa untuk bekalnya, mereka disana sampai matahari tepat berada di kepala mereka supaya tidak terlalu malam kalau sampai ditempat perkemahan, karena kalau malam hawa lebih mencekam jadi mereka dipuncak hanya bersua foto ada juga yang hanya menjadi 'tukang foto' yang disuruh guru untuk menfoto dirinya.


beberapa saat kemudian, matahari sudah diatas mereka dan jam juga sudah menunjukkan pukul 12.40, mereka mulai membereskan semuanya dan kembalu berbaris untuk kembali ke tempat perkemahan karena mereka tidak bisa untuk menginap disana, juga nanti setelah sampai disana mereka hanya sebentar di perkemahan, karena jam 14.39 mereka harus sudah pulang, karena tadi pak Rojak dihubungi oleh penjaga setempat harus pulang sekitar jam segitu, entah apa maksudnya tapi semuanya hanya mengiyakan.


Reina berhati-hati dalam menginjakkan kaki di tanah, karena ketika mendaki adalah susahnya diturun ketimbang naik, salah menginjak kaki sedikit saja bisa-bisa melayang, semuanya juga berpegangan dengan batu-batu yang disamping mereka ada juga yang memegangi pohon, Reina melihat Farah yang terus saja memegangi tangan Alvin dia selalu membuat perhatian kepada alvin


"aduh, alvin bantuin gue, aaah sakit kayaknya kaki gue keplintir deh" ucap Farah yang terjatuh karena ulahnya sendiri, mungkin saja itu salah satu triknya untuk mendapatkan perhatian Alvin pikir Reina. Alvin memanggil temennya dan menyuruhnya untuk membantu farah, namun Farah tidak mau dia hanya ingin digendong oleh alvin.


"sudahlah Alvin, tolongin saja dulu sebentar lagi sampai di perkemahan lagian kamu kan ketua OSIS" ucap pak Rojak yang melihat Alvin tidak mau menggendong farah, Farah tersenyum sombong kearah reina seolah mengatakan 'gue berhasil' Reina tetap melenggang seolah tidak terjadi apapun


"nggak bisa pak! saya duluan" alvin mengikuti jejak Reina dia meninggalkan Farah dan pak rojak, pak Rojak geleng-geleng kepala melihat murid yang satu ini, Farah terus memanggil alvin


"yaudah kamu tolong tuntun farah" ucap pak Rojak kepada deni kelas 11 sama seperti reina, dia mengangguk namun Farah menolaknya dan tetap mengusahakan untuk berjalan sendiri


"auchh" ucap Farah yang kembali terjatuh deni membantu farah dan menuntunnya sampai kebawah, Farah hanya mendengus dan merasa ini semua salah Reina dia yang telah membawa Alvin pergi.


sedangkan disisi lain Reina jalan terlebih dahulu karena ada tanda untuk kembali ke perkemahan jadi dia tidak takut untuk tersesat pikir Reina, ketika dia menginjak kerikil kecil membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir saja dia terjatuh namun tubuhnya terhenti ketika ada yang menarik tasnya dari belakang


"hati-hati kalau jalan" ucap alvin yang sedang memegang tas Reina dan menariknya untuk kembali berdiri dengan benar

__ADS_1


"namanya juga nggak tau, kalau tau ada batu kecil gitu juga nggak bakal gue injek, lagian kenapa lo dibelakang gue? bukannya lo harus gendong mak lampir?" tanya Reina, dengan memegang tasnya, dia juga melihat wajah alvin


"kata siapa? nggak" ucap Alvin santai dan pergi meninggalkan reina dan yang lain, yang lain juga sudah ada didepan. Beberapa menit setelah kejadian tadi mereka melihat perkemahan, Reina segera turun dan duduk didepan tendanya. Naik dan turun bukit membuat kakinya seperti kaki kram, semuanya juga memijit kaki masing-masing sama seperti yang dilakukan Reina


"semuanya boleh beristirahat dulu nanti setelah itu kita bereskan semuanya dan pulang kerumah masing-masing! dah sekarang yang mau tidur boleh tapi jangan lama-lama nanti tinggal yang lama hahaha" Bu Pipit bercanda membuat disana berseru menanggapi ucapan Bu pipit


"lah ibu jangan ditinggal dong!" ucap salah satu mereka


"hahaha lo mah disini aja"


"hahahah" semuanya tertawa karena mengerjai temannya yang sering tertidur dan sulit dibangunkan.


"oh iya sumpit gue dimana ya? ah di dalem nih pasti" Farah masuk kedalam tenda, Reina langsung keluar dari persembunyian dan mengambil mie instan Farah dia berlari supaya tidak ketahuan oleh Farah


"hihi, kasian banget tapi nggak papa lah" Reina langsung masuk kedalam tendanya dan mengganti dengan rantangnya dan menyembunyikan rantang farah. Reina keluar dari tendanya dan memakan mie instan dengan tenang


"eh lo makan punya gue kan?!" geram Farah menghampiri Reina yang sedang menyeruput mie di mulutnya


"glek... dih gue bikin sendiri liat aja nih masih panas gue baru bikin! lagian lo kapan bikinnya?!" tanya balik Reina berusaha memutar balik fakta

__ADS_1


"t-tapi!" elak Farah dia juga berfikir kalau Reina tidak mengetahui kapan dirinya masak mie instan, Reina kembali berbicara


"nih liat rantang juga punya gue! lo ngadi-ngadi, sana pergi lo!" usir Reina dan kembali memakan mie instan


*hihi rasain mamam tuh angin hahaha* benak Reina


Farah pergi dari tenda Reina karena malu dilihat oleh banyak orang karena suara bising yang mereka lakukan.


beberapa jam kemudian sekitar jam 14.00 mereka dihimbau oleh guru untuk segera membereskan semuanya dan kembali berbaris kumpul.


"baiklah semuanya karena hari ini telah selesai, semuanya tolong baris dan kita akan turun lagi ke tempat parkir setelah sampai disana jangan pada pergi dulu! kami bakal mengecek apakah ada yang tertinggal atau tidak. Dan tolong jaga satu sama lain saat turun" ucap pak Rojak diangguki oleh guru lain dan diiyakan oleh murid


semua mulai berjalan berhati-hati untuk turun, Reina juga memegang tongkat menancapkan ditanah untuk keseimbangannya, di belakangnya juga masih banyak yang lain didepannya ada temen sekelasnya. Mereka terus turun karena tidak begitu jauh dan masih bisa dilewati dengan lebih sedikit santai mereka sudah sampai dibawah dan tinggal jalan beberapa meter saja untuk ke parkiran.


Reina ingat kalau dia datang bersama alvin namun dia tidak melihat Alvin sejak tadi Reina membuka handphone dan menelfon alvin untuk mencari keberadaannya


"lo dimana? gue udah diparkiran" ucap Reina ditelfon "gue lagi sama pak Rojak sama guru-guru yang lain, lo tunggu bentar" ucap Alvin dari seberang, dengan mematikan teleponnya secara sepihak.


"keterlaluan banget deh, belum juga selesai ngomong!" geram Reina dengan memandang pantulan wajahnya di layar handphonenya

__ADS_1


__ADS_2