
Reina masuk ke dalam kamarnya, sebenarnya reina tidak terlalu mengambil pusing omongan bunda Reina hanya tadi males buat ngomong lagi dan dia juga sedang dalam keadaan cape jadi Reina memutuskan untuk naik ke kamarnya dan beristirahat. Namun Reina masih kepikiran tulisan yang ada di kamar mandi rumah sakit. "kira-kira siapa ya yang bakal jadi musuh gue selain mak lampir" gumam reina dengan sesekali memegang dagunya
"apa jangan-jangan orang disekitar gue? hah apa jangan-jangan David? tapi nggak mungkin deh soalnya dia baik sama gue, apa Caca apa Sely? apa malah keduanya? ah nggak tau lah ngantuk gue" ucap Reina lalu memejamkan matanya sampai tertidur pulas sampai Reina tidak melihat handphonenya bergetar di meja karena chat dari Alex
Disisi lain Alex terus menatap handphonenya untuk melihat kabar Reina karena sejak dia mengantar Reina pulang dia tidak melihatnya lagi. "sepertinya dia sudah tidur, aku akan mencari tau siapa yang telah menulisnya" ucap Alex lalu duduk di depan komputer dan alat teknologi yang lain, Alex menghack cctv di dekat kamar mandi rumah sakit.
keesokan harinya Reina terbangun pagi karena harus berangkat pagi. "aaahh pagi yang biasa saja dan sangat membosankan"ucap Reina yang sudah mandi dan sedang bercermin. "oke, let's go!" ucap Reina lalu kebawah menuruni tangga
Reina melewati ayah dan bunda yang sedang makan, awalnya Reina tidak ingin gabung namun ayah terus memaksanya untuk ikut makan bersama, mau tidak mau Reina ikut sarapan bersama
"sayang, maafin bunda ya... bunda nggak bermaksud buat kamu sedih, bunda malah nggak inget kalo waktu itu bunda kena serangan jantung" ucap bunda memegang tangan reina
__ADS_1
"iya bun, Reina kemaren nggak marah kok cuma lagi capek banget makanya Reina pergi ke kamar" ucap Reina sedikit tersenyum kepada bunda
"sekarang berarti udah maafin bunda kan ya?" tanya bunda, Reina menatap bunda. "ada satu syarat" ucap reina membuat bunda berfikir apa yang akan menjadi syarat
"bunda harus bolehin Reina beli jajanan favorit Reina" ucap Reina yang tidak menyebut kalau minuman dingin yang biasa dia minum adalah jajanan favoritnya
"hm pasti kamu mau beli minuman diluar sana ya?!" ucap ayah yang menatap kedua orang tersayangnya
"bener itu Reina?!" tanya bunda dengan tatapan tajam
"sulit dipercaya" ucap ayah lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya
__ADS_1
"betul, bunda juga nggak percaya sama kamu" ucap bunda yang sama seperti ayah yang tidak percaya kepada Reina
"ish ayolah, kalian kenapa jadi barengan gini sih, salah satu kek belain Reina" ucap Reina memajukan bibirnya
"ya udah kamu boleh beli, tapi cuma satu nggak boleh lebih" ucap bunda yang akhirnya mengiyakan
"yes!" gumam Reina
"ekhem!!!" batuk ayah membuat Reina tersadar masih dilihat oleh ayah
"eheh maksudnya, yes ada yang belain" ucap Reina lalu memakan rotinya sebelum akhirnya berpamitan kepada bunda karena akan berangkat sekolah, Reina dan ayah bersamaan keluar dari rumah
__ADS_1
"kamu bareng aja sama ayah" ucap ayah yang memang tidak begitu terburu-buru dengan pekerjaannya
"...." Reina terdiam, apakah Reina sedang bermimpi *tumben banget ayah mau nganterin gue, biasanya malah nggak bisa alesannya ada rapat lah harus ketemu sama klien lah ini lah itu lah* benak Reina