Love History

Love History
59


__ADS_3

"t-tapi mba, gimana kalo ketauan dan saya bakal dipecat dari sini, saya nggak mau lah mba" ucap mba pegawai tersebut


"sudah kadung ganti, udah ngga apa. sekarang mbanya keluar terus pura-pura jalan aja ke mana kek, tapi ke arah berlawan pintu keluar dan jangan sampai mereka liat muka mbaknya sebelum mba lumayan jauh dari mereka, paham?" tanya Reina, Reina berencana berpura-pura menjadi pegawai restoran walaupun awalnya pegawai tersebut sedikit takut dan curiga, Reina menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"i-iya, tapi gimana kalo saya di pecat?" tanya pegawai tersebut


"em ya nanti kalo misalnya dipecat, gimana ya?" bingung Reina


"Hem kalo ga mendingan sekarang mbaknya lakuin apa yang saya omong tadi kalo bisa jangan sampai ketauan dan kalo mba dipecat biar itu urusan saya, saya janji akan kasih kerjaan" ucap Reina, reina awalnya juga tidak mempercayai dirinya akan menemukan pekerjaan


"baiklah, tapi mba janji ya" ucap pegawai tersebut


"iya iya, udah sana cepet" perintah Reina menyuruh pegawai tersebut pergi


setelah pegawai itu pergi, Reina masih mengintai keadaan dan melihat pegawai tersebut sampai lumayan jauh dari tempat mereka duduk, Reina mulai berjalan keluar kamar mandi, Reina juga mengunakan masker supaya tidak ada yang mengenalinya


Reina melewati penjaga yang dibawa oleh Alex, awalnya penjaga tersebut menatap Reina dengan tajam, Reina berpura-pura batuk dan menutup mulutnya

__ADS_1


"uhukk uhukk, aduh batuknya tambah parah uhuk uhukkk" Reina berpura-pura batuk


penjaga yang awalnya akan menghampiri kembali ke tempat tidak jadi mendekat Reina bernafas lega, hampir saja dia akan ketahuan. Reina melanjutkan jalan dia menghentikan mobil taxi


"pak anterin saya ke tempat ini ya" Reina memberikan alamat di handphonenya kepada pak supir


pak supir menjawab dengan anggukan dia mulai menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya


Reina duduk tenang, dia bermain handphone dan membuka maskernya mungkin panas? tentu saja panas.


*untung aja gue pinter, dah lah malem ini gue tidur disana aja. ah sebel banget kenapa ayah harus paksa gue sih? pantesan rasanya Alex tuh kaya aneh, ya kaya freak banget buat jadi pengawal ayah* benak Reina


Reina sengaja berbicara dipikirannya karena dia tidak ingin orang lain mengetahui


Reina melihat jalan, merasa ada yang salah Reina bertanya kepada pak supir


"loh? pak ini bukan jalan buat ke alamat yang saya kasih" ucap Reina

__ADS_1


"tenang saya akan mengantar mba sampai tujuan" ucap pak supir tersebut dengan genit


"berhenti sekarang!" marah Reina, bisa-bisanya Reina tidak menyadari kalau pak supir


"hehe ya tunggu sebentar lagi sayang, nggak sabaran banget kamu ya" ucap pak supir tersebut


"apa lo bilang! anj*n* stop!" marah Reina sampai kaki empat pun keluar


Reina menarik kerah baju supir tersebut membuat marah supir


"breng**k lepas tangan lo!" geram supir tersebut


"nggak! sekarang hentikan mobilnya! atau lo mau mati?!" ucap Reina yang semakin mencekik leher supir, supir yang semakin sulit untuk bernafas terbatuk-batuk


"cepet hentiin mobilnya! lo budeg apa gimana sih?!" marah Reina semakin mencekik lehernya


pak supir tersebut menghentikan mobilnya, namun Reina masih mencekiknya, Reina menyuruh supir tersebut untuk membukakan pintu mobilnya karena dikunci oleh supir

__ADS_1


"i-iya" gagap supir tersebut


setelah dibuka Reina menggunakan tangan yang satu sedangkan yang lain masih mencekik leher supir tak lupa Reina juga mengambil tas yang berisi beberapa barangnya


__ADS_2