Love History

Love History
40


__ADS_3

Ketika sampai dirumah, Reina masih saja memikirkan kata-kata yang Alvin ucapkan di mobil, selalu saja melintas di benak Reina, Reina sudah berusaha menghilangkan dan melupakan yang dikatakan oleh alvin


"ya ampun udah deh, nggak usah mikirin cowok sialan itu! ish kenapa sih kok pipi gue panas" ucap Reina dengan menepuk pipinya sendiri, Reina memikirkan apakah dirinya menyukai alvin?


"nggak-nggak, sama sekali nggak mungkin! OMG nggak mungkin kan? hehe iya lah pasti nggak mungkin" ucap Reina menyemangati dirinya sendiri


ketika sedang terhanyut dalam pikiran, ada yang mengagetkan Reina, Reina dengan sikap akan memukul orang yang telah membuat dirinya terkejut, namun tangan lain berhasil menangkap tangan Reina. Yang lebih mengejutkan adalah ayah, ayahnya yang telah membuat ia kaget, ternyata sudah pulang


"a-ayah? kapan pulang, emang pekerjaannya udah beres? kalo belum nggak usah dipaksain buat pulang, pasti bunda yang nyuruh buat pulang, mendingan sekarang ayah lanjutin kerjaannya, biar rein ngomong sama bunda" Reina melangkahkan kakinya mencari keberadaan bunda, namun dihentikan oleh ayah


"nggak usah, pekerjaan semuanya udah beres, dan ini bukan bunda yang nyuruh tapi ayah yang udah pengin pulang" ucap ayah, Reina yang mendengar entah harus senang atau sedih.


"oh" ucap Reina sedikit lirih, Reina sadar bahwa sejak tadi dia tidak melihat ayana, Reina bertanya dan katanya sedang pergi ke toko boneka


ayah pergi meninggalkan reina yang sedang berdiri, Reina kembali duduk memainkan handphonennya, tak berselang lama Reina dipanggil oleh bunda. Reina mengikuti dan terdapat ayah yang sudah menunggu di ruang kerja ayah


"ada apa? kenapa rein disuruh kesini?" tanya Reina sebab memang dirinya tidak tau, Reina duduk dikursi sofa yang ada didekat jendela


"kamu sudah berapa lama dengan ayana? apakah kamu udah mencari dimana keberadaan orang tuanya?" tanya ayah


"pasti mereka khawatir karena anak mereka ilang! kamu udah cari informasi kan?!" sambung ayah, Reina mengerti kenapa dia disini

__ADS_1


"kalo berapa lamanya sih aku lupa tapi udah lumayan lama, untuk orang tuanya katanya dia tuh dia asuh oleh panti asuhan, karena aku tanya ke dia, dia bilang kalau dia tinggal di tempat yang ramai anak-anak lain terus ada satu ibu-ibu yang menjaga, bukannya itu sudah seperti panti asuhan?" jawab reina


"ya udah, kalo gitu kamu tau dimana panti itu?" tanya bunda yang ikut menyuarakan


"nah masalahnya disitu! aku nggak tau dimana nya dan kalo aku tanya di Ayana pasti dia juga nggak tau, namanya juga anak kecil ya suka lupa" ucap Reina


"hm, ya sudah biar nanti anak buah ayah yang mencari" ucap ayah, Reina senang akan mengetahui dimana panti yang menjadi tempat tinggal ayana, namun dia juga sedih kalau Ayana harus pergi dari rumah ini, Reina sudah menganggap Ayana sebagai adik kandungnya, sejak ada ayana hidup Reina tidak begitu kesepian. Ketika ayah dan bundanya pergi untuk pekerjaan mereka yang lebih dipentingkan, selalu ada Ayana yang siap bermain dengannya sejak itu Reina senang dengan kehadiran ayana


"sayang" ucap bunda mengelus kepala Reina, Reina terkesiap dan melihat bunda


"kamu kenapa? ada masalah, cerita sama bunda" ucap bunda yang duduk disamping Reina, Reina hanya menggeleng kepala berusaha menutupi rasa sedihnya


"emang boleh?!" seru reina, ayah hanya tersenyum simpul melihat Reina yang bersemangat


"iya dong, apa yang nggak buat anak bunda" ucap bunda dengan penuh perhatian


"ya udah kalo gitu aku mau tinggal beberapa hari di panti asuhan yang ditempati Ayana, yuhu!!!!!" teriak reina yang sangat senang


"heh!! kata siapa kamu boleh tinggal disana?! nggak!" geram ayah, Reina yang mendengar suara ayah marah langsung ikut marah


"kenapa gitu?!! kan ayah yang bilang sendiri! ayah harus nepatin janji!" balas reina

__ADS_1


"ayah bilang cuma menjenguk berarti sebentar! bukan tinggal!!" ucap ayah, Reina tak mau kalah dia terus saja memojokkan ayahnya


"ayah udah bilang bakalan boleh main kan?! ya terserah aku mau mainnya sampai kapan! idih ayah nggak pernah nepatin janji!" ucap Reina, memang sifat keras kepalanya itu berasal dari ayahnya. Tak heran jika keduanya tidak ada yang mengalah


"kamu itu masih kecil! nggak boleh kelamaan keluyuran kesana-kesana! atau uang jajan kamu ayah potong?! mau?" ancam ayah, Reina yang merasa khawatir akan uang jajannya akhirnya mengalah


"loh kok gitu?! curang banget main ancem doang!!" sindir reina


"jadi gimana?" santai ayah, Reina mau tak mau harus mengikuti ucapan Ayah


"iya" ucap Reina ketus dengan pergi begitu saja, tapi baru selangkah Reina berbalik dan mencium pipi bunda


"ayah nggak sayang?" tanya bunda, Reina menjawab tanpa melirik kearah ayahnya


"ayah? nggak mau ayah bau pasti nggak mandi" ucap Reina lalu pergi keluar dari tempat kerja ayahnya


"ada-ada aja anakmu yah" ucap Bunda dengan memandang kepergian Reina


"tiru aku banget, tapi masa aku dibilang bau si? padahal kan udah wangi, kan sayang?" ucap ayah duduk disamping bunda dan memeluk bunda


"dia kan lagi ngambek sama kamu, makanya kamu jangan terlalu keras kepala, tuh kan jadi nurun ke anak" ucap bunda dengan memukul tangan ayah yang semakin ke atas

__ADS_1


__ADS_2