
Satu jam sebelum Sky mengikuti Ayana ...
Sky masuk kedalam mobil hitamnya, hari ini Flora mengajak untuk berkencan, dia sudah menolak dengan alasan sibuk, tetapi gadis itu pantang menyerah, dengan terpaksa Sky menyetujuinya.
Saat ingin memutar kunci mobil, ponsel yang dia simpan di atas dashboard bergetar, Sky merutuk dalam batin, apa orang itu tidak tahu bahwa dia tidak bisa menjawab panggilan karena dia bisu, dengan malas Sky melihat siapa yang menelponnya.
'Star ...?'
Sky terdiam, apa maksud kakaknya itu menelpon dirinya. Sky menekan tombol hijau kemudian menempelkan benda itu di telinganya.
'Hey, Bodoh!! Lama sekali kau mengangkatnya, hah?''
'Kenapa waktu itu kau tidak datang saat kupanggil? Apa kau ingin kuhajar lagi, hah?'
'Ups ... aku lupa sesuatu. Kau itu kan TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJAWAB ... hahaha'
'Tidak apa kau hanya perlu mendengar. Aku tahu kau sudah menikah, ternyata kau memang sangat pintar, memilih gadis Woodard itu sebagai partner kekuatanmu.'
'Asal kau tahu, dia itu temanku sejak kecil dan kau- ....'
'Sangat mencintainya. Itu bagus sekali, kau tidak perlu melakukan apapun.'
'Kau hanya perlu menunggu saat dia meninggalkanmu, dia sudah memiliki orang yang dia cintai, lalu akhirnya dia akan kembali pada kekasihnya setelah urusan denganmu selesai.'
Sky terdiam mendengarkan semua yang Star katakan.
'Kau akan kembali pada kehidupanmu yang dulu, kami para keturunan Violet tidak akan menerima keluarga yang cacat, kau tahu bagaimana akhir hidup Chris sekarang dia hidup miskin dan tidak berguna.'
'Kau hanya beruntung karena kakek menyayangimu.'
'Sudahlah, rasanya membosankan bicara sendiri, kau bahkan tak memberikan perlawanan, tidak seru sama sekali.'
Sky terdiam. Ucapan Star memang benar, sang kakak selalu mengingatkan siapa dirinya, tetapi hanya satu yang tidak bisa Sky terima, bahwa Ayana tidak mencintainya.
Sky tidak ingin kehilangan Ayana, kehadiran gadis itu membawa cahaya tersendiri bagi hidupnya, lalu apa yang akan terjadi jika Ayana benar-benar meninggalkanya? Sky tidak yakin bisa kembali pada kehidupan masa lalunya.
Love In Silent
__ADS_1
Ayana merasakan pundaknya basah, dia membiarkan posisi mereka tetap seperti itu, hidup Sky sangat sulit dan dia tahu itu. Sky membutuhkan seseorang dalam hidupnya, dia bersedia menjadi sandaran jika pemuda itu juga menginginkanya.
"Ada apa, Sky?" Ayana mulai bertanya, Sky melepaskan pelukan dan Ayana mengusap air mata pemuda itu, Sky hanya menggeleng pelan.
"Kalau kau mau kau bisa bercerita padaku," ucap Ayana lembut.
Tidak bisa, Sky tidak mau mengatakanya, ingin sekali dia bisa berbicara tanpa menggerakan tangan, itu sangat merepotkan, untuk pertama kalinya dia ingin ada suara yang keluar dari mulutnya, sekarang Sky merasa putus asa dengan kecacatannya, dia ingin mengungkapkan segala perasaanya pada Ayana.
Ayana memeluk Sky lebih erat, walaupun tidak tahu apa yang sudah pemuda itu lalui sebelumnya, dia hanya berusaha menghibur suaminya, mungkin dengan pelukan bisa sedikit mengurangi kesedihan yang Sky rasakan.
"Hey ... jangan cengeng!! Kau tahu itu seperti anak kecil saja," ucap Ayana dengan nada suara yang bercanda.
Sky menjauhkan wajah dan menatap Ayana.
"Kau cukup cengeng untuk ukuran pria seumuranmu."
"Apa kau tahu, tubuhmu bahkan lebih besar dari tubuhku."
"Tapi kau menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen, kau sepe- ...." Bibir Ayana di cubit Sky, sehingga bibir atas dan bawah gadis itu menyatu membuat perkataanya terpotong.
Ayana melihat tawa Sky untuk pertama kalinya, hatinya tercubit, tawa Sky terasa hambar tanpa suara, dia terdiam, sedangkan mulut Sky masih terbuka, pemuda itu masih menikmati tawanya.
Sekarang Ayana yang menitikkan air mata, Sky berhenti tertawa dan melepaskan bibirnya, gadis itu mengerucutkan bibir.
"Sekarang siapa yang cengeng?" Sky menggerakan tanganya lagi, Ayana masih saja menangis.
"Hey ... Ayana, maafkan aku. Ini kan cuma bercanda." Sky mengusap air mata Ayana, kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
Ayana menangis bukan karena candaan Sky, sungguh hatinya begitu sakit, pemuda yang dicintainya hidup dalam kesepian.
'Aku mencintaimu, Sky.'
Ucap Ayana dalam batinnya.
'Aku sangat mencintaimu, Ayana.'
Ucap Sky dengan gerak bibirnya, namun tidak bisa di dengar Ayana, pelukan mereka mengerat, di bawah pohon, ditemani angin musim panas menerbangkan rambut mereka, dua rasa menyatu dan membaur seperti debu diterbangkan angin.
__ADS_1
...
Star dan Nara berada di atap gedung apartemen milik keluarga Purrot. Kedua pemuda itu menikmati angin malam yang berhembus kencang. Satu kaleng minuman ringan berada di tangan mereka masing-masing. Tidak lupa kepulan asap keluar dari mulut mereka berdua.
"Apa rencanamu selanjutnya, Star?" tanya Nara sambil membuang puntung rokok yang hampir habis terbakar.
"Kupikir aku akan memanfaatkan Ayana dan ayahnya," jawab Star sambil menoleh pada Nara yang berdiri di sampingnya.
"Jangan sampai kau menyakiti Ayana. Jika itu terjadi, aku tidak akan mengampunimu, Star!" ancam Nara pada pemuda yang lebih tua satu tahun darinya.
"Tenanglah! Aku tidak akan melukainya," jawab Star dengan tenang seolah ancaman Nara tidak ada artinya.
"Bukankah kau sudah menyerah untuk mendapatkan Ayana? Dia milikku sekarang." Nara kembali menegaskan ucapan.
"Hm, aku rela jika dia menjadi milikmu, Ayana selalu menganggapku sebagai teman. Tapi jika dia memilih Sky, aku tidak akan membiarkannya. Dia sudah merebut segalanya dariku." Tatapan Star terlihat dingin, juga terlihat amarah di matanya.
"Baiklah. Aku akan mendukungmu. Katakan padaku jika kau butuh bantuan. Jangan sungkan." Star mengangguk mendengar ucapan Nara, ya dia butuh dukungan dari orang-orang berpengaruh seperti keluarga Purrot.
Star membenci Sky karena dia cemburu, selama ini dia yang selalu menemani sang kakek Nicholas Violet. Dia sangat menyayangi pria tua itu, tetapi kasih sayang sang kakek semakin pudar setelah tahu bahwa ada keturunan Violet lain yang masih hidup.
Dia benci karena setelah Sky ditemukan dia dipaksa untuk mempelajari bahasa isyarat hanya untuk bisa berkomunikasi dengan adiknya yang bisu itu. Star merasa bersyukur karena saat itu dia bertemu dengan Ayana di sekolah khusus tersebut.
Entah kenapa Ayana justru terlihat senang saat belajar, bahkan gadis itu sempat berkata bahwa yang dia pelajari akan berguna untuk masa depan.
'Apakah itu sudah takdir?'
Sekali lagi Star semakin membenci Sky karena ternyata pemuda itu juga memilih Ayana sebagai pasangan hidup. Star merasa bahwa adiknya itu sudah mengambil semua yang dia inginkan. Kasih sayang kakek Nicholas dan juga Ayana yang sempat mengisi lubuk hatinya dengan cinta.
Namun, rasa benci Star lebih besar sehingga dia lupa dengan cintanya pada Ayana dan memilih untuk menjatuhkan Sky. Apalagi Nara Purrot yang merupakan sahabatnya juga menginginkan Ayana.
Star juga benci karena ibunya menderita, bertahun-tahun dia menunggu untuk warisan dari Nicholas, tetapi dengan mudahnya Sky menerima saham 10 persen dari pria itu saat dia baru ditemukan.
Entah sampai kapan kemarahan Star pada Sky akan memudar. Apakah dia akan merasa puas jika adiknya menderita?
To be cintinue
See you next chapter ....
__ADS_1