Love In Silent

Love In Silent
Kepergian nenek


__ADS_3

bahkan lambung ku saja sudah tak mau menelan ego ku lagi, satu kata dari keadaanku saat ini, sebuah dilema aantara lebih mementingkan ego atau mementingkan isi perut, dan dua duanya sama pentingnya.


"yakin nih kamu enggak mau makan ?, padahal saya sudah pesan makanan banyak banget loh !! ada Tteokbokki, gimbab, Jajangmyeon, sup ayam, sampai ceker ayam tanpa tulang pun ada, yakin masih enggak mau ?!"


seketika aku langsung menelan ludah


"enggak apa apa, kali ini saja, ku akan memaafkan dia !!"


Saat aku keluar dari kamar seketika wajah profesor terlihat senang dan tersenyum kepadaku, seolah dia sangat puas karena aku mengalah demi sebuah makanan.


***


Malam itu aku tidak bisa tidur, pikiran ku terus membayang kan kejadian hari ini, aku juga terus memikirkan kondisi nenek di kampung, aku takut, selama aku menghilang beberapa hari ini, kondisi kesehatan nenek jadi menurun.


Dan beruntung esok harinya, aku akan pulang ke indonesia, dan aku sangat berharap nenek akan baik baik saja, dia akan bahagia ketika melihat aku pulang dalam keadaan sehat dan baik baik saja.


***


lama aku tidak pulang dan memberi kabar pada nenek ternyata nenek jatuh sakit, sepulangnya aku di rumah, nenek terbaring di rumah sakit, kata mbok siti nenek tidak mau makan selama 3 hari tiga malam, sekalipun dia ingin makan hanyalah sesuap nasi yang nenek telan. hati ku sedih dan aku tak kuat menahan tangis, ketika melihat kondisi nenek yang semakin kurus. sehari setelah aku pulang nenek belum juga sadarkan diri, hingga malam harinya nenek mulai sadar dan dia sangat senang begitu melihatku pulang dengan keadaan selamat tanpa ada luka sedikitpun.


awalnya aku berfikir kalau nenek akan segera sembuh karena nenek sudah bisa tertawa dengan suara lantang, namun aku salah !, aku tidak mengira kalau malam itu adalah momen terakhirku dengan nenek.


hingga azan subuh berkumandang nenek memintaku untuk mengaji di dekatnya, nenek ingin aku membacakannya alquran terkhusus untuk surah yasin.


aku membacanya dengan sangat khidmat serta menghayati setiap bacaan yang aku baca, hingga tak terasa matahari telah membumbung tinggi di ujung timur.


ketika aku menutup mushaf, lalu mencium tangan nenek, seketika aku terkejut dengan suhu tubuh nenek yang sudah terasa sangat dingin, saat itu aku berusaha untuk tenang dan mencoba untuk terus membangunkan nenek yang tampak pucat terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


"nek ... nenek ...! " ucap ku sambil terus membangunkan nenek.


sekali, dua kali, hingga berkali kali aku mencobanya, namun tubuh nenek masih diam tak bergerak sedikitpun, dengan perasaan takut bercampur khawatir aku mulai memeriksa hembusan nafas nenek dan denyut nadinya, namun aku masih tak percaya kalau subuh tadi adalah momen kebersamaan ku dengan nenek untuk yang terakhir kalinya, seketika tangis ku pecah, begitu menyadari kalau nenek sudah meninggal.


"nenek !! "ucap ku seraya menangis tersedu sedu


andaikan aku tidak menghilang saat itu, andaikan aku bisa melarikan diri saat itu, mungkin nenek masih ada di sampingku saat ini.


" mira !! "panggil om aji yang terlihat tergesa gesa menghampiri nenek


"kenapa kamu nangis ? dan kenapa ibu diam saja ?" ucap om aji bergetar


"nenek om .. !! "


"ibu kenapa mir ?"


"nenek sudah enggak ada om !! " ucap ku terbata bata


saat itu, menit itu, detik itu kami menangis berpangku di tempat tidur nenek, hanya air mata yang bisa menggambarkan suasana hati kami, bagi kami nenek adalah sosok orang tua satu satunya yang kami miliki.


setelah pulang dari rumah duka, nenek segera di prosesi pemakaman dan di bantu oleh para warga.


banyak para warga yang menaruh simpati kepada kami.


"mira !! " panggil om aji dengan nada lemah


"om harap kamu bisa mengikhlaskan kepergian nenek !! jangan kamu tangisi kepergiannya, biarkan nenek tenang di sana, kalau kamu rindu kirimkan doa untuknya, semoga nenek di terima segala amal baiknya di sana !! " ucap om aji berpesan kepadaku.

__ADS_1


***


setelah hari pemakaman nenek, entah mengapa langit rasanya selalu runtuh di hari hari kami yang masih dilanda duka mendalam.


rumah yang besar nan luas itu, kini tak lagi penuh canda tawa dan penuh warna, semua terlihat sangat suram di setiap sudut sudut ruang itu masih jelas terlihat kenangan ku bersama mendiang nenek dan ibu.


di sudut ruangan, aku melihat sebuah bingkai foto lama yang sudah sangat tua dan usang, dalam satu bingkai itu terlihat sebuah gambar yang menampakkan sebuah keluarga yang sangat bahagia dan harmonis, dengan semua personilnya yang masih lengkap.


"nek.. !! kenapa nenek pergi ?" ucap ku tak kuat menahan tangis


"nek ... ! belum sempat miranda bahagia dan belum sempat mira melupakan kepergian orang tua mira, kenapa nenek ikut menyusul mereka nek ?"


"mira bahkan belum bisa membahagiakan nenek !! mira hanya bisa merepotkan nenek, dan sekarang mira sendirian lagi seperti dulu !!"


setelah kepergian nenek, lalu di susul om aji yang juga telah kembali pergi melanjutkan tugas negara. kini di rumah yang besar nan luas itu hanya tinggal kami bertiga, meski masih ada pak tarman dan mbok siti yang Menemani kami, tapi soal rasa tetap lah masih ada yang mengganjal di hati kami.


malam kembali menyelimuti keheningan rumah kami, tak akan terdengar kembali oleh ku suara nyaring nenek yang memanggil kami untuk makan malam bersama.


malam itu aku terbaring di kamar sambil memandangi potret nenek yang sedang tersenyum bahagia memandangku. selang beberapa waktu kemudian mbok siti datang mengetuk pintu kamarku.


"non ?!.. makan malam sudah mbok buat di meja makan, ayo non makan dulu !! " ajak mbok siti


"enggak mbok saya makannya nanti saja ! saya belum lapar mbok !!"


"oh ya sudah !"


bukan hati ini tak mengikhlaskan nenek pergi saat itu juga, namun hati ini masih belum siap untuk menerima kenyataan yang begitu pahit kurasa, belum sempat aku meminta maaf atas kejadian yang aku perbuat waktu itu, mengapa dengan mudahnya nenek pergi meninggalkan aku sendirian lagi seperti ini, kalau toh memang sudah takdirnya, mengapa waktu yang telah tuhan tentukan begitu cepat merenggut nenek.

__ADS_1


tepat pukul 00:00 tengah malam, ketika jarum detik dan jarum menit bertemu di satu titik, lalu seketika dunia seakan akan menahan nafasnya untuk sesaat.


sulit di percaya saat itu aku menarik nafas ku dalam dalam lalu menghembuskan perlahan sambil berharap kepada tuhan agar esok hari akan terasa lebih menyenangkan, seperti layaknya salju yang baru saja turun, memutar semuanya kembali dan akan menjadi hari yang lebih baru lagi untukku. semua rasa sedih, kecewa, marah dan ketidak ikhlasanku, mendadak menghilang bersamaan hilangnya mimpi dalam tidurku, hilang tak berbekas begitu pagi mulai menyingsing kembali.


__ADS_2