Love In Silent

Love In Silent
Invitation And Jealous


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam, Ayana dan Sky baru saja kembali dari piknik yang tidak direncanakan oleh mereka. Ayana pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Sky menyamankan tubuh di sofa ruang tengah.


Saat Ayana keluar kamar, dia melihat Sky yang sedang memejamkan mata. "Sky ...!" Ayana memanggil Sky dan pemuda itu segera membuka mata. "Aku akan menyiapkan makan malam, sebaiknya kau mandi dan kita makan bersama," ucapnya, Sky hanya mengangguk dan pergi ke kamarnya.


"Aku akan menunggumu," ucap Ayana kembali.


Ayana sibuk menyiapkan makan malam sambil menunggu suaminya yang sedang membersihkan diri. Setelah selesai dia tersenyum puas dengan hasil masakan yang terlihat lezat dan menggugah selera.


Sky sudah selesai dengan ritual mandinya, pemuda itu tampak lebih segar. Dia melihat sang isteri yang sedang menata meja, gadis itu sangat cekatan dalam memasak. Sky jarang sekali makan masakan rumahan. Selama ini dia hanya memesan dari restoran.


Saat di panti asuhan memang ada karena Nyonya Elena selalu memasak untuk anak-anak panti tetapi mereka makan dengan porsi yang sedikit karena harus berbagi dengan anak lain yang tinggal di tempat tersebut.


"Hey ... kenapa melamun? Ayo, kita makan!" ajak Ayana, gadis itu menyadarkan Sky dari lamunanya saat mengingat masa lalu.


Mereka makan dalam diam. Sky terlihat begitu lahap dan Ayana senang melihatnya. Bahkan tadi siang pun pemuda itu menghabiskan bekal piknik yang Ayana bawa dengan cepat.


"Berapa tahun kau tidak makan?" tanya Ayana dengan nada yang bercanda, Sky mengernyitkan alisnya sambil menatap Ayana seolah bertanya.


"Kau lahap sekali. Itu bagus supaya kau tidak terlihat kurus." Sky menghela napas dan mulai menggerakan tangan.


"Aku tidak kurus, kau tidak lihat tubuhku ini proforsional?" Ayana tertawa setelah membaca gerakan tangan Sky.


"Kukira kau pendiam, ternyata kau percaya diri juga." Mereka berdua tersenyum.


"Aku pasti kalah bicara denganmu, mulutmu itu sangat cerewet," ucap Sky.


Mereka tertawa bersama sampai tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. Sebenarnya siapa yang bertamu? Ayana segera beranjak kemudian berjalan menuju pintu utama.


"Tuan Harry? A-anda sudah kembali?" tanya Ayana dengan gugup, ternyata yang bertamu adalah ayah angkat Sky.


"Hm ... Iya, aku baru datang, apa Sky ada?" tanya Harry, pria itu berpakaian rapi serta membawa koper mungkin dia baru datang dari perjalanan bisnisnya dan pria itu terlihat lelah.


"Ya, dia ada, silahkan masuk!" sambut Ayana, Harry mengikuti gadis itu masuk menuju ruang tamu dan di sana sudah ada Sky yang menunggu. Ekspresi terkejut terlihat di wajah pemuda itu, tetapi tidak lama kemudian terukir sedikit senyum di wajah stoicnya.


"Anakku, apa kabarmu?" sapa Harry kemudian memeluk anak angkatnya tersebut. Sky menggerakan tangan dan Harry mengernyitkan alis, pria itu menoleh pada Ayana.


"Dia bilang kau semakin tampan ayahku tersayang," ucap Ayana seolah mengerti tatapan Harry. Sky mendelik kearahnya, sedangkan gadis itu hanya tertawa.


"Baiklah, maaf. Aku cuma bercanda. Sky bilang kabarku baik ayah. Bagaimana denganmu? Apa semua berjalan lancar?" ucap Ayana lembut. Harry kembali menatap anak angkatnya kemudian tersenyum.


Harry memutuskan untuk menginap semalam, setelah bergabung makan malam mereka bertiga kembali berkumpul di ruangan keluarga hanya untuk menonton televisi.


"Apa kau sudah mendapat undangan, Sky?" tanya Harry, pria itu sedang menyandarkan kepala di sandaran kursi, Sky mengernyit menggeleng dan menatap seolah bertanya 'undangan apa?'.


"Besok Tuan Nicholas akan mengadakan sebuah pesta peresmian Violet corp cabang baru yang ada di Arasen, kalian berdua harus datang, itu yang di katakan beliau," ucap Harry.

__ADS_1


Ayana menatap ke arah Sky. "Bukankah pernikahan kami di rahasiakan?" Ayana yang bertanya, Sky hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Mereka itu pintar. Kurasa mereka sudah tahu Sky sudah menikah," ucap Harry, "yang mereka inginkan adalah Sky dihapus dari daftar utama sebagai pewaris," lanjutnya.


"Kalau mereka mau, mereka bisa mengambilnya dariku, lagi pula aku tidak membutuhkan harta sebanyak itu." Sky menggerakan tangan dan Ayana yang menyampaikan pada Harry. Lagi-lagi dia merasa tidak berguna, bahkan saat penting seperti ini sulit sekali untuk dirinya mengatakan sesuatu.


"Tidak, kau berhak, Nak! Tuan Nicholas percaya pada kejujuranmu, sedangkan mereka? Mereka hanya peduli dengan kepentingan pribadi saja, para anggota keluarga Violet akan saling menjatuhkan reputasi yang lainnya, dan berlomba untuk mendapat harta, padahal tuan besar masih hidup."


"Ayahmu pasti senang melihat anaknya jadi pewaris utama."


Hening.


Wajah Sky terlihat datar, Ayana yang melihatnya mengerti bahwa Sky tidak suka mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Harry Hanson.


"Sky ...?" panggil Ayana, pemuda itu menoleh kemudian menundukan wajahnya.


"Kau adalah ayahku, Harry. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk menggantikanmu." Sky pergi, Ayana menghela napas kemudian beranjak. Dia pamit pada Harry untuk menyusul Sky.


"Apa yang dikatakanya barusan?" tanya Harry sebelum Ayana meninggalkanya. Gadis itu mengatakan apa yang baru saja Sky katakan lewat gerakan tangan dan membuat Harry terdiam.


Sky tengah berada di balkon sekarang, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku, tatapan menerawang pada pemandangan kota di malam hari, angin berhembus menerbangkan helaian rambut hitamnya.


Ayana menghampiri Sky dengan membawa dua cangkir teh hangat. Udara malam di musim panas memang terasa dingin karena angin bertiup kencang. Setelah menyimpan tehnya di meja, Ayana mendekati Sky yang berdiri di sisi pembatas balkon.


"Di sini menyeramkan, kau tahu aku sedikit takut dengan ketinggian, jadi aku tidak pernah berdiri disini," ucap Ayana. Lantai 27 memang terasa begitu tinggi, wajar saja jika gadis itu merasa takut untuk melihat ke bawah. Sky menoleh serta melihat ke arah gadis itu yang selalu bisa mengubah moodnya.


"Untuk sekarang aku memang tidak takut, karena ada kau di sisiku," ucap Ayana tanpa menyadari dampak dari perkataannya itu yang diartikan lain oleh Sky. Mereka berdua terdiam dengan Sky yang menatap Ayana.


"Sky, apa semua baik-baik saja? Ayahmu- ...?" Ayana mencoba membuka kembali percakapan yang Sky hindari.


"Apa? Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan semua ini, yang kumiliki sekarang adalah Harry. Hanya dia ayahku, tidak ada yang lain," ucap Sky, pemuda itu mengalihkan perhatian untuk kembali menikmati pemandangan Arasen di malam hari.


Love In Silent


Ayana tengah bersiap untuk pergi ke pesta, malam ini untuk pertama kalinya dia akan menginjakan kaki di mansion Violet, jujur saja rasa gugup dan juga sedikit rasa takut tengah dirasakannya saat ini, entah kenapa pikiran buruk menghinggapinya.


Suara ketukan di pintu membuat Ayana segera menyelesaikan ritual berdandanya. Dia melirik kembali hasil karyanya di cermin dan dia merasa ya 'lumayan'.


Sky mengetuk pintu kamar Ayana. Memastikan gadis itu sudah siap berangkat ke pesta, saat Ayana keluar pemuda itu terpaku melihat Ayana yang begitu cantik, istrinya itu memang seorang gadis yang super lucu dan manis. Sky membuat kode dengan menyentuhkan ibu jari dan telunjuknya menjadi bentuk bulat yang artinya 'sempurna', Ayana tersipu karena sudah di puji sang suami.


....


Sesampainya di Mansion Violet. Pasangan suami-isteri itu disambut oleh Nicholas, sedangkan keluarga yang lain hanya melihat dan mungkin masih penasaran dengan kehadiran Ayana yang merupakan orang asing di mansion tersebut.


"My Sweetheart, apa kabar?" Star tiba-tiba saja muncul entah dari arah mana, membuat Ayana sedikit terkejut, terus terang saja ditatap oleh anggota keluarga Violet bukan hal yang menyenangkan, percayalah karena Ayana merasakanya sekarang.

__ADS_1


Para wanita keluarga tersebut punya tatapan yang mengintimidasi. Tatapan mata curiga serta penuh penilaian dari mereka membuat risih. Ayana mengeratkan genggaman tangan pada Sky yang tidak di sadarinya.


"Senior Star? A-aku baik-baik saja," jawab Ayana dengan gugup, Sky hanya diam dengan tetap menggenggam tangan sang isteri.


"Jadi kau istri dari Sky?" tanya Star dengan senyum menjengkelkan bagi Ayana.


"Tidak kusangka, Adikku sangat pintar mencari isteri, kau mendapat ikan yang besar, Sky!" Orang yang dimaksud masih berwajah datar, sedangkan Ayana justru kebingungan, dulu saat pertama bertemu dengan Star, pemuda itu sangat baik dan ramah, dia dulu begitu akrab dengannya, tetapi sikap Star berubah sejak empat tahun lalu.


"Baiklah, selamat datang di keluarga Violet! Ingatlah, itu tidak akan mudah bagimu, selamat menikmati pestanya. Nona Woodard ... ups, maksudku, Nyonya Violet."


Ayana melihat ke arah Sky, pemuda itu masih berwajah datar, entahlah apa yang Sky rasakan saat ini, dia juga enggan untuk bertanya, perlahan genggaman tangan Sky terlepas, dan dia merasa hampa saat itu juga.


"Ayanaa ...!" Ayana merutuk karena lagi-lagi dibuat terkejut, gadis itu membulatkan mata ketika melihat ketiga sahabatnya juga berada di pesta. Ayana kebingungan, karena dia datang bersama Sky. Sedangkan Flora dan Sky adalah?? Argh ... rasanya Ayana ingin sekali berteriak.


"Hey, kenapa kau tidak bilang kalau kau juga diundang? Padahal kita bisa berangkat bersama," ucap Aino setelah mereka menghampiri Ayana.


"Eh? Sky, kenapa kau juga tidak bilang ada pesta, aku pasti berdandan lebih cantik lagi untukmu," ucap Flora, padahal gadis itu sudah benar-benar terlihat cantik.


"Oh iya, kalian sedang apa berduaan?" Itu suara Ling, Ayana langsung gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa.


"I-itu ... aku- ...."


"Heh, Ling. Kau bodoh, ya? Sky pasti sedang menyapa Ayana, dia kan tuan rumah. Benar, 'kan?" Flora bertanya pada Sky, tetapi pemuda itu hanya terdiam. Flora menggandeng lengan Sky dan itu membuat Ayana memalingkan wajahnya.


"Ayo, berdansa?!" ajak Flora dan Sky hanya bisa mengikuti karena tangannya di tarik oleh Flora.


Aino dan Ling juga pergi menyapa orang-orang yang mereka kenal, sementara Ayana duduk di sudut ruangan dengan masih melihat Flora dan Sky berdansa, raut wajah suaminya itu tetap datar berbeda sekali dengan Flora yang terlihat bahagia.


"Pasangan yang serasi, bukan?" Satu kali lagi masalah muncul yang membuat Ayana hanya bisa menghela napas, Nara Purrot duduk di sampingnya dengan membawa dua gelas minuman di tangan, tanpa ragu Ayana mengambil satu gelas dari tangan pemuda itu, kemudian meminumnya dalam satu tegukan.


"Wow ... kau kepanasan, ya?" sindir Nara dengan senyuman yang mengembang seolah menyindir.


"Hari yang buruk," gumam Ayana yang didengar oleh Nara.


"Oh, ya? Siapa yang sudah merusak hari gadisku ini?" Ayana mendelik sedangkan Nara justru tertawa.


"Kau!! Kau yang sudah merusak hariku, lebih baik kau pergi!" ucap Ayana dengan kesal, Nara memang suka seenaknya pada Ayana dan itu terkadang membuatnya marah.


"Hey, kenapa kau selalu mengusirku, aku ini setia padamu, Sayang!" ucap Nara sedikit merajuk.


"Cih. Setia? Kau itu selalu selingkuh, Nara. Kau pikir aku tidak tahu?" jawab Ayana datar.


"Nah, aku juga tahu. Kalau kau tahu aku selingkuh, tetapi kau tidak melakukan apapun, padahal aku lebih senang kalau kau marah, dan kau malah tidak peduli." Ayana mengernyitkan alisnya.


"Kau ini bicara apa? Kenapa berputar-putar seperti itu?" Bicara dengan Nara memang tidak pernah bisa selesai itu menurut Ayana, tetapi terkadang pemuda itu juga membuatnya terhibur buktinya sekarang dia tidak menyadari kalau Sky tengah menatap keakraban mereka berdua.

__ADS_1


To be continue


See you next chapter ...


__ADS_2