
Sudah satu minggu akhirnya kesehatan Sky mulai membaik, selama itu pula Ayana meninggalkan Sky untuk sekolah, dia terpaksa masuk sekolah karena tidak ingin temannya curiga, apalagi Sky juga tidak masuk karena masih sakit.
Tiga hari yang lalu Flora mengajak Ayana untuk menjenguk Sky. Gadis itu panik luar biasa, bagaimana nanti kalau Flora tahu tentang kenyataannya? Sky memang belum mengatakan apapun pada gadis itu, Sky juga melarang Ayana untuk memberitahunya.
'Ini salahku, jadi biar aku yang menyelesaikanya, aku tidak ingin kau dibenci teman-temanmu, seharusnya aku tidak menerima cinta Flora waktu itu.'
Begitulah kira-kira yang Sky katakan, sejujurnya Ayana sedikit takut. Bagaimana jika Flora terluka? Mereka sudah bersahabat cukup lama bersama Aino dan juga Ling. Dia takut ketiga sahabatnya itu tidak bisa menerima.
Hari minggu yang cerah, Ayana memutuskan untuk berjalan-jalan di taman bersama Sky. Tangan mereka bergandengan, Sky terlihat bahagia, dia tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil, membeli eskrim, menyentuh bunga-bunga dan mencium wanginya, serta bermain di ayunan dengan Sky yang mendorongnya.
"Aku bahagia sekali, bagaimana denganmu?" tanya Ayana pada Sky, mereka tengah duduk di bangku taman untuk beristirahat, pemuda itu menganggukan kepala sebagai jawaban bahwa dia juga merasa bahagia.
"Hey, ada penjual balon karakter!" Di sebrang sana ada seorang pria lanjut usia penjual balon yang menunggu pembeli, padahal di taman tersebut banyak anak-anak tapi kenapa mereka acuh saja.
"Sky, bagaimana kalau kita membeli balon itu dan bagikan kepada anak-anak?!" seru Ayana antusias, lagi-lagi Sky mengangguk, Ayana segera membeli banyak balon dan di bagikan kepada anak-anak, Sky hanya melihatnya dari kejauhan.
Setelah selesai dan balonnya habis Ayana kembali menghampiri Sky, pemuda itu mengacak rambut Ayana dan mencubit kedua pipinya gemas, sampai Ayana cemberut karena perlakuan Sky padanya.
Hwaaa ... hwaaa ...
Ayana dan Sky mengalihkan perhatian, seorang anak perempuan berusia lima tahun sedang menangis menghampiri mereka.
"Kakak. Kenapa aku tidak dapat balonnya?" tanya anak itu dengan menangis, rupanya anak itu tidak kebagian. Mungkin karena Ayana tidak melihat anak itu.
"Hey. Adik kecil kau tidak kebagian, ya? Maaf pasti kakak tidak melihatmu tadi, kau tunggu di sini kakak akan membawanya untukmu," ucap Ayana dengan berjongkok dan mengusap air mata anak perempuan itu.
__ADS_1
Ayana beranjak tetapi Sky menahanya, pemuda itu berinisiatif kali ini dia yang akan membelinya, untung saja si penjual balon masih ada di sebrang jalan.
Ayana melihat Sky yang membeli lima balon sekaligus, dia mengangkat balon itu untuk menunjukannya pada Ayana. balon-balon itu terlihat terbang mengikuti arah angin, untung saja Sky memegang talinya dengan erat.
Ayana bisa melihat senyuman kegembiraan di wajah Sky. Tidak dipungkiri dia juga merasakan kebahagiaan itu. Wajah rupawan Sky semakin terlihat mempesona di mata gadis itu. Membuat jantungnya berdetak cepat dan Ayana sangat menyukainya.
Sky hendak menyebrang kembali dengan menatap Ayana. Setelah melihat kanan dan kiri jalan terlihat aman baru dia melangkahkan kaki, tetapi yang Sky lihat Ayana berlari ke arahnya, semua suara terasa menghilang di telinga Sky tubuhnya terasa melayang dan berakhir dengan rasa sakit di punggungnya karena menghantam benda keras.
Semua terjadi begitu cepat, Sky mengumpulkan kesadaran, semua suara kembali terdengar olehnya, suara jeritan dan juga suara mobil yang melaju kencang, Sky membulatkan mata saat melihat Ayana tergeletak di tengah jalan dengan kepala yang bersimbah darah.
'Ayanaaa ....'
Jerit Sky dalam batinnya, dia berlari dengan tertatih menghampiri Ayana yang tergeletak, kerumunan orang mulai berdatangan melihat keadaan Ayana, dengan segera di rengkuhnya tubuh yang tak sadarkan diri itu.
Sky merogoh ponselnya di dalam saku celana tapi apa yang harus dilakukannya? Siapa yang harus di hubungi?
Seorang gadis masuk dalam kerumunan, mata gadis itu terbuka lebar melihat kedua orang yang terluka.
"Ayana? Sky?" Gadis itu bersuara panik. Dia melihat Sky yang memeluk tubuh Ayana serta terlihat air mata di sudut mata pemuda itu.
'Flora? Tolong aku.'
"Apa yang terjadi?" tanya Flora, gadis itu menyambar ponsel Sky dan segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk mendatangkan ambulance. Ternyata gadis itu adalah Flora kekasih Sky, dia datang di saat yang tepat.
'Terima kasih, Tuhan.' ucap Sky dalam batinnya.
__ADS_1
Sky dan Flora menunggu di koridor, Mark dan Nicky pun sudah datang. Sedangkan Sky di dampingi oleh Harry. Aino dan Ling baru saja tiba karena Flora menghubungi mereka.
"Kenapa kau tidak menjaga putriku dengan baik, Violet?" teriak Mark dengan marah, Nicky berusaha menenangkan ayahnya yang sedang emosi.
Flora dan ketiga temannya tampak kebingungan, mungkin banyak pertanyaan dalam benak mereka dan ingin tahu tentang apa yang terjadi pada Ayana dan Sky. Nicky yang melihat mereka segera menghampiri ketiga teman Ayana tersebut.
"Flora, Aino, Ling, aku ingin bicara dengan kalian. Ayo ikut aku," ucap Nicky mengajak ketiga gadis tersebut mengikutinya.
Nicky mengajak ketiga gadis itu untuk keluar area rumah sakit, mereka masuk ke kedai kopi tak jauh dari rumah sakit, mereka berempat duduk di kursi kantin dengan meja bundar yang menyediakan pesanan mereka.
"Kak Nicky ada apa ini? Kenapa Kakak membawa kami kemari?" tanya Flora
"Apa yang ingin Kakak bicarakan?" tambah gadis itu sedangkan Aino dan Ling hanya mengangguk.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, sebenarnya- ...." Ucapan Nicky terpotong karena seseorang menepuk bahu pemuda berusia 20 tahun itu. Sky tengah berdiri di belakang Nicky dia segera memperlihatkan note kepada Nicky untuk segera membacanya.
'Aku yang akan memberi tahu mereka' Nicky mengangguk setelah itu dia pun segera pergi dan menyerahkan semua urusan kepada Sky. Akan lebih baik jika pemuda itu yang menyampaikannya sendiri.
Sky duduk di bangku bekas Nicky tadi, dia mulai menulis kembali dalam notenya, ketiga gadis di depannya masih menunggu, setelah selesai Sky memberikan note itu kepada mereka bertiga. Dia tidak ragu lagi untuk memberitahu semua pada ketiga gadis tersebut.
Flora dan yang lain menerima note dari Sky. Mereka membacanya bersama-sama, mereka bertiga tampak begitu terkejut. Sky memang sudah menebak dengan apa reaksi mereka, dia hanya berharap ketiga gadis itu mengerti dan memakluminya, Sky juga berharap pertemanan mereka dengan Ayana tidak hancur.
To be continue
See you next chapter
__ADS_1
Jangan lupa kunjungi akun dan baca semua karyaku, oke?