
Ayana masih menyandarkan kepala di sandaran sofa, rasa takut semakin dirasakannya saat mengingat kembali perkataan sang ayah.
"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?"
"Apa sebaiknya kukatakan pada Sky?"
Ayana bergumam pelan, ibu hamil itu berpikir suaminya harus diberi tahu, karena bagaimana pun hal ini bukan masalah yang sepele.
Ayana melanjutkan kegiatannya seperti biasa, hanya pekerjaan ringan, dia mungkin sehat tapi perut yang besar sedikit mempersulit gerakannya, seperti berjongkok, bahkan terkadang dia kesulitan memakai pakaian terutama untuk pakaian bawah.
Ayana tersenyum mengingat Sky selalu membantunya mengenakan pakaian bagian bawah, karena dia tidak bisa berjongkok.
'Kau seperti balita yang sedang dipakaikan celana oleh ibunya.'
'Diamlah kau membuatku malu, Sky!'
Lagi-lagi Ayana tersenyum, dia sangat bahagia, kedua bayinya membuat hubungan dengan Sky semakin terikat, pemuda itu begitu memperhatikannya, saat tengah malam Sky akan mengantarnya jika ingin ke kamar mandi.
Wanita hamil memang sering pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, apalagi jika usia kandungannya sudah tua, Sky juga rutin membuatkan susu untuk ibu hamil di pagi hari, dia juga suka memijat kaki Ayana di malam hari sebelum mereka tidur.
Ayana sudah selesai mengerjakan tugas, sebentar lagi makan siang, mungkin Sky akan pulang, suaminya itu sudah menghubungi bahwa sebentar lagi dia akan segera pulang.
Ting-tong ...
Senyum Ayana mengembang, saat membuka pintu dia sedikit terkejut karena sebuket bunga mawar merah yang cantik hampir mengenai wajahnya.
Sky memberikannya buket bunga itu, dengan segera Ayana mengambilnya, Sky menyambut pelukan sang istri walaupun terasa sulit karena perut besarnya.
__ADS_1
"Selamat, Sky!" Ayana mencium pipi kiri Sky, mereka berdua masuk dengan tangan Sky yang merangkul bahu Ayana.
"Terima kasih, nilaiku tertinggi di sekolah, dan sebenarnya ini kelulusan keduaku, aku juga sudah pernah lulus SMA, jadi rasanya biasa saja." Ayana tersenyum membaca gerakan tangan Sky.
"Apa hadiahku?" Ayana mengernyit tapi kemudian tersenyum.
"Aku sudah mempersiapkan makan siang untuk kita dengan banyak menu tomat, jus tomat juga ada," ucap Ayana kemudian menarik tangan Sky menuju meja makan.
Mereka makan dengan tenang, tetapi senyuman keduanya melukiskan kebahagiaan, setelah selesai makan mereka kembali ke ruang keluarga, bercengkrama dan bercanda, Sky mengusap perut Ayana, pemuda itu merebahkan kepala di pangkuan istri tercintanya.
"Sebaiknya ganti dulu pakaianmu itu!" ucap Ayana dengan mengusap helaian rambut Sky.
"Sebentar saja!" Sky memberi isyarat lewat tangannya.
"Hei, kau mau pergi liburan? Kau pasti jenuh berada di rumah terus?" Ayana menggelengkan kepalanya melihat pertanyaan dari Sky.
"Tidak, aku tidak merasa jenuh, aku tidak ingin pergi ke mana-mana, karena aku sedang menunggu perutku terasa mulas."
"Belum, sejujurnya aku merasa sedikit takut akan seperti apa rasanya," ucap Ayana dengan menatap Sky.
"Tenanglah aku akan selalu berada di sampingmu." Gerak tangan Sky dibaca Ayana.
"Sky, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, kuharap kau tidak marah." Sky menganggukan kepalanya.
Ayana mengatakan semua pada Sky saat ayahnya dan si kembar Purrot berkunjung ke apartemen mereka, Sky tampak terkejut dan tidak menyangka Mark Woodard benar-benar menginginkan putrinya berpisah.
"Ayana, dengarkan aku! Kita tidak akan berpisah apapun yang akan terjadi."
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga mendapat kejutan beberapa hari yang lalu."
"Thomas Violet dan istrinya Rieta mendatangi kantorku, Star juga ikut bersama mereka." Ayana masih membaca gerakan tangan Sky.
"Mereka datang untuk meminta maaf padaku, waktu itu aku tidak tahu harus berbuat apa." Sky menghentikan gerak tangannya.
"Ya, sepuluh bulan yang lalu mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, memangnya apa lagi alasan mereka tetap membencimu." Ayana berkata dengan kesal.
"Dan mereka membutuhkan waktu yang begitu lama untuk meminta maaf padamu."
"Entahlah, sekarang sulit sekali untuk mempercayai seseorang, walaupun orang itu memiliki hubungan darah dengan kita." Sky memeluk Ayana, emosi wanita hamil itu tidak terkendali saat ini.
"Dan ada lagi, besok aku harus pergi ke Korea, kau tahu perusahaan kita bermasalah, aku harus turun tangan karena Ayah Harry tidak bisa menanganinya sendiri." Ayana tampak terkejut dengan apa yang diketahuinya.
"Tapi Sky, aku akan melahirkan, kenapa kau berpikir ingin meninggalkanku? Aku tidak akan mengijinkanmu pergi!" Ayana menangis dan Sky menghela napas walaupun tidak terdengar suara.
"Siapa yang ingin meninggalkanmu? Aku tidak ingin berpisah denganmu dan mereka, hanya 2 hari setelah itu aku akan segera kembali, aku juga tidak tahan harus berada jauh darimu." Sky mencium tangan Ayana.
"Aku akan menitipkanmu pada Nicky dia bisa diandalkan, teruslah beri kabar padaku!"
"Tapi Sky ...!" Air mata Ayana mengalir.
"Ini pertama kalinya aku jauh darimu, ini untuk masa depan mereka," ucap Sky, "bukankah kau yang bilang sulit mempercayai seseorang, dan kurasa Ayah Harry sudah terlalu banyak memberi bantuan untukku, selama ini dialah yang menangani semua perusahaanku."
Dengan tidak rela akhirnya Ayana mengangguk, dia berpikir Sky harus jadi pria yang bertanggung jawab pada pekerjaannya.
Tbc
__ADS_1
See you next chap ...
I love You all 💕💕💕