
Adakah alasan untuk mencintai seseorang? Apakah hati bisa memilih kepada siapa dia akan berlabuh? Atau apakah mata bisa melihat kekurangan serta kelebihan orang yang kita cintai?
Cinta itu tidak bisa memilih, dia datang dengan sendirinya. Secara tidak terduga atau perlahan, tanpa kita sadari dan tanpa bisa menolak. Saat cinta datang kita hanya mampu menerima dan tidak bisa menghindar lagi.
...
"Berkencan? Kita sudah menikah, Sayang. Kenapa harus pergi berkencan?" Ayana membaca gerakan tangan Sky.
Setelah pulang sekolah Ayana mengajak Sky untuk berkencan, sebenarnya gadis itu ingin bersenang-senang bersama sang suami setelah mereka melewati banyak masalah.
"Kencan kita yang kemarin berakhir mengerikan. Aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi." Sky kembali menggerakan tangan, terlihat kecemasan di mata pemuda itu. Dia mengusap rambut panjang Ayana dan merapikan poni gadis itu.
"Aku mengerti, tapi aku ingin sekali pergi ke taman hiburan. Flora dan Rocky juga ke sana. Aino juga pergi bersama Jerry." Ayana menundukkan kepala. Dia mengerti kecemasan Sky yang mengkhawatirkan dirinya.
Sky terlihat membuang napas. "Baiklah. Ayo kita pergi ke taman hiburan. Tapi berjanjilah kau tidak akan melepas genggaman tanganku."
Ayana tersenyum sambil mengangguk. Dia menggandeng lengan Sky. Mereka masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju tempat tersebut.
Suasana ramai di taman hiburan membuat Sky sedikit takjub. Pemuda itu menatap kagum pada lampu-lampu yang terpasang indah di pepohonan.
Ada banyak wahana di sana, para pengunjung tampak bahagia. Ada pasangan kekasih, suami yang menuntun isterinya yang sedang hamil ada juga seorang ayah yang memangku anak mereka.
Seulas senyum terukir di bibir Sky. Untuk pertama kalinya dia datang ke tempat seperti itu. Selama ini dia belum pernah pergi ke taman hiburan.
Saat tinggal di panti asuhan dia ingin sekali pergi ke taman hiburan, dia ingin seperti teman sekolahnya yang pergi bersama ayah dan ibunya. Namun keinginan itu tidak pernah dia dapatkan karena keterbatasan.
"Bagaimana tempat ini menyenangkan, 'kan?" Ayana menggenggam tangan Sky. Dia melihat raut wajah Sky, hatinya terasa tercubit, pemuda itu pasti mengingat masa lalunya.
Kenapa dia bisa merasakan kesedihan Sky. Ayana tahu Sky terlihat takjub karena belum pernah mengunjungi tempat seperti itu sebelumnya.
"Ayo. Aku akan membuatmu ketagihan untuk datang kesini," ucap Ayana sambil menarik tangan suami tercintanya itu.
Mereka berdua gembira, Sky terlihat senang saat Ayana mengajaknya menaiki semua wahana. Mereka juga membeli gula kapas warna-warni dengan rasanya yang manis.
"Sky. Ayo kita naik bianglala. itu adalah wahana terakhir yang harus kita coba," ucap Ayana sambil menatap ke arah atas di mana sebuah bianglala raksasa menjulang tinggi berdiri dengan kokoh.
__ADS_1
"Tapi ini sudah sore." Ayana membaca gerakan tangan Sky.
"Justru itu, pemandangan senja akan terlihat lebih indah di atas sana." Sky tersenyum seolah tidak percaya pada ucapan kekasih hatinya itu.
"Kau selalu membuatku tidak bisa menolak." Ayana tertawa. Mereka berdua menikmati suasana senja di atas bianglala yang berputar lambat.
Sekali lagi Ayana melihat sorot bahagia pada netra jelaga Sky. Gadis itu menyandarkan kepala di bahu Sky tanpa melepaskan genggaman tangan.
"Mulai saat ini berjajilah padaku. Tidak boleh ada kesedihan lagi. Aku akan selalu membawa kebahagian pada kehidupanmu, Sky," ucap Ayana, Sky menganggukan kepala.
Mereka saling menatap. Sky mengecup kening Ayana sebagai tanda terima kasih karena dia mau menerima dirinya yang penuh kekurangan.
Cahaya jingga menjadi latar kebahagiaan dua sejoli yang menikmati keindahan senja dari atas bianglala. Semoga keindahan itu bisa terus mereka nikmati.
...
Malam di musim panas awal bulan Juli, semilir angin dingin malam menerbangkan helaian rambut Ayana. Menikmati pemandangan malam dari lantai dua puluh tujuh memang indah.
Gemerlap kota dihiasi cahaya lampu, gedung-gedung berlomba mencapai langit, seolah salah satu dari mereka ingin menjadi yang paling tertinggi.
Sky memeluk Ayana dari belakang, dia mencium perpotongan leher jenjang isterinya, membuat pori-pori di kulit gadis itu meremang, tidak hanya sekali tetapi pemuda itu melakukanya berkali-kali membuat Ayana bergerak tidak nyaman.
Ayana berbalik pada sang suami dan tatapan mata mereka bertemu. Saling menatap keindahan mata masing-masing, Ayana merasa terhipnotis oleh netra milik Sky.
"Sky- ...." Sebuah ciuman Ayana rasakan dari bibir Sky, gadis itu merasakan tubuhnya memanas saat tangan Sky merayap di punggungnya.
"Sky?" Sky menghentikan kegiatannya. Ayana hanya menatap wajah tampan suaminya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Ayanamenggelengkan kepala saat mendengar pertanyaan suaminya.
"Tidak, bukan begitu, kau- ...." Sky menyentuhkan telunjuknya di bibir Ayana, membuat gadis itu berhenti berbicara.
"Temanmu Aino benar. Ucapannya terus terngiang di telingaku, aku ingin melakukan itu sekarang, apa kau bersedia?" Ayana merona membaca gerakan tangan Sky. Mulutnya sedikit terbuka dan dia terlihat gugup.
"Hm ... jadi semua karena ucapan Aino?" Ayana mengalungkan kedua tangannya di pundak Sky.
__ADS_1
"Seandainya Aino tidak bertanya, apa kau masih mau melakukannya?" tanya Ayana sambil mencubit hidung Sky, pemuda itu membuka mulutnya membentuk sebuah kata 'Aa...'
"Jadi kau menunggunya juga, begitu?" Ayana gelagapan bukan itu maksudnya. Mungkin dia salah berbicara.
"Bahkan kau sudah memakai pakaian seperti ini." Sky tersenyum jahil.
"Eh?" Ayana baru menyadari kalau dirinya memakai gaun tidur tipis dan sangat pendek.
Sky mencium gemas gadis itu, ciumannya begitu mesra sampai Ayana tidak bisa menolak, maksudnya tidak ingin menolak pesona bungsu Violet yang hanya miliknya seorang.
Sky mengangkat tubuh Ayana ke dalam kamar. Gadis itu merasakan suhu tubuh Sky yang sedikit naik, permukaan kulit pemuda itu terasa memanas di kulitnya yang dingin, itu adalah reaksi umum saat seorang pria dalam gairah tingkat tinggi.
Ayana bahkan bisa merasakan Sky yang tidak sabaran, tetapi Sky masih memperlakukannya dengan lembut.
Mereka kembali berpagut dan berbagi embusan napas. Tangan Sky mulai nakal dan merayap di bagian tertentu yang membuat keinginannya semakin bangkit.
Ayana tidak bisa berbuat apapun selain menikmati dan menerima semua perlakuan Sky pada dirinya. Keinginan Ayana juga bangkit setelah Sky meninggalkan jejak membara di seluruh tubuhnya.
"Aku akan menandaimu, Sayang." Walaupun terasa begitu sakit di awalnya, Ayana masih bisa menikmatinya juga, kebersamaannya dengan Sky sudah membuat dia merasa terbang tinggi.
Pengalaman malam pertama yang lumayan menguras tenaga, keringat mengucur dan membasahi saat penyatuan.
bibir gadis yang sudah menjadi wanita itu terlihat merah karena tidak berhenti beradu dengan bibir suaminya. Malam yang terasa indah bagi mereka berdua.
Malam pertama tidur di kamar dan ranjang yang sama untuk pertama kalinya, kamar yang semula rapi menjadi terlihat kusut dan tidak karuan.
Pakaian berserakan, sprei yang tidak terpasang dengan benar dan sepasang manusia yang saling berangkulan di dalam selimut masih bermimpi indah, padahal waktu sudah tidak pagi lagi.
Di balik suasana kamar berantakan tergambar kebahagiaan yang baru dirasakan dua orang berbeda gender itu, pasangan muda yang saling mencintai.
Akankah kebahagiaan mereka bertahan ataukah akan ada badai yang lain yang menguji keharmonisan rumah tangga mereka.
To be continue
See you next chapter
__ADS_1