Love In Silent

Love In Silent
Open Heart 1


__ADS_3

Rambut warna indigo panjang terurai, rambut lebat dan indah serta lembut saat di sentuh itu terbang tertiup angin. Begitu kencang, angin bercampur udara adalah perpaduan biasa di musim panas.


Ayana duduk di bawah pohon taman sekolah bersama temannya, suara tawa mereka terdengar begitu bahagia, bersenda gurau bersama sahabat adalah hal paling menyenangkan.


"Wah ... berada di bawah pohon, duduk di hamparan rumput hijau, angin kencang bertiup, rasanya tidak bisa terlukiskan, apa kalian bisa rasakan?" Aino berkata, gadis itu sedang bersandar di pohon sambil terpejam.


"Haha ... Aino kau seperti 'Dora the eksplorer' selalu bertanya banyak hal." Ling berkata sambil tertawa.


"Ck ... kau selalu seperti itu, menyebalkan! Tidak bisakah kau serius, Ling?" gerutu Aino, Flora dan Ayana saling melirik kemudian tertawa.


"Menurutku ini sangat indah. Tidak bisa dikatakan, aku suka suasana seperti ini," ucap Ayana tidak lupa senyuman manis terlukis di bibirnya.


"Kau benar, apalagi kalau yang menemani kita adalah pacar kita. Ahh ... sangat romantis!!" Flora berkata dengan girang.


Ucapan Flora benar. Ayana membayangkan saat dirinya duduk dengan Sky yang berada di pangkuannya sambil tertidur, angin musim panas menerbangkan rambut mereka berdua. Wajah Ayana tiba-tiba merona karena memikirkan hal itu.


"Lalu, apa yang kau rencanakan dengan Sky?" tanya Ling pada Flora.


Deg ... Ayana lupa akan hal ini, Sky dan Flora mereka itu kan- ...?


Hhh .... Ayana tidak ingin mengatakannya.


"Aku akan mengajaknya berkencan besok, mungkin duduk di bawah pohon seperti ini juga menyenangkan," jawab Flora.


"Apalagi semalam aku juga menemaninya saat bekerja."


'Apa Flora bersama Sky semalam, tetapi dia tidak bilang, Hh ... untuk apa dia memberitahuku.'


Ayana sedikit kesal semalam dirinya sibuk menyiapkan makanan untuk Sky dan menunggu lama kepulangannya, tetapi pemuda itu malah bekerja sambil berkencan? Ayana benar-benar merasa kecewa.


"Lalu apa yang kau lakukan denganya, heh?" tanya Aino menggoda.


"Aku- ...."


"Aku pergi dulu, aku mau ke toilet." Ucapan Flora terpotong, Ayana pergi, sungguh dia tidak ingin mendengar kisah romantis suaminya dengan gadis lain.


'Ini benar menyiksa. Apa harus kukatakan saja pada mereka kalau aku istri dari Sky Violet?'


Ayana terus menggerutu, tanpa dia sadari dia bertabrakan dengan seseorang di depan pintu toilet untuk siswa-siswi, dia hampir terjengkang kebelakang tetapi pinggangnya dipeluk orang itu, lagi-lagi Sky memeluk pinggang Ayana, gadis itu meronta untuk melepaskan diri.


"Lepaskan aku!" teriak Ayana, Sky hanya menatap dan mengernyitkan alisnya.


"Kau selalu seperti itu. Memelukku, kemudian menciumku, lalu setelah itu kau akan menghinaku lagi, begitu?" Ayana meracau membuat Sky semakin tidak mengerti dengan sikap gadis itu. Dia hanya diam dan memperhatikan Ayana yang menurutnya lucu saat dia marah seperti itu.


"Lain kali saat aku terjatuh jangan menolongku. kau mengerti?! Aku tidak ingin ditolong oleh siapapun."


"Dan jangan memberiku harapan, karena setelah itu kau akan menghempaskanku ."


"Urus saja semua urusanmu dan kekasihmu itu, aku tidak- ...."

__ADS_1


'Hffppp'


Tangan Sky menutup mulut Ayana yang terus meracau. Gadis itu terdiam dan baru menyadari sikapnya itu seperti anak kecil.


"Kenapa kau marah-marah, apa ada yang mengganggumu?" tanya Sky dengan gerak tanganya.


"Ya ... dan orang itu adalah, kau!!" Ayana menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Sky, pemuda itu tersenyum sambil melihat Ayana yang menjauh, dia baru tahu sisi lain Ayana yang manja seperti tadi


'Kau lucu sekali...'


...


Pagi ini adalah hari minggu, Ayana memutuskan untuk bersantai dan tidak melakukan kegiatan apapun, gadis itu tengah menonton televisi yang acaranya hanya berisi film kartun untuk anak-anak.


Dia masih mencari chanel televisi yang cocok, sudah berapa kali gadis itu menekan tombol tapi semuanya hanya acara untuk anak-anak, dia kesal sendiri, gadis itu menyandarkan kepalanya di kursi.


Sky keluar dari kamarnya, pemuda itu sudah siap dengan pakaian casual, kaos putih dipadu bluejeans dan sepatu dengan warna putih juga.


Ayana menatapnya, gadis itu masih marah tetapi dia merasa penasaran dan ingin tahu kemana Sky akan pergi.


"Mau pergi berkencan?" tanya Ayana saat Sky sedang bersiap, pemuda itu mengangguk hanya sedikit.


"Bersama Flora?" tanya Ayana kembali, Sky hanya menatapnya.


"Ah, aku memang bodoh. Tentu saja dengan Flora memangnya siapa lagi?" ucap Ayana. Sky mengangkat tangannya karena ingin mengatakan sesuatu.


Ayana keluar kamar, dia mengintip dari balik pintu kamar, sudah sekitar setengah jam Sky pergi.


"Lebih baik aku pergi piknik saja."


Ayana menyiapkan bekal kemudian mengganti bajunya, kaos putih berlengan panjang dipadu celana jeans ketat yang panjangnya hanya mencapai betis, juga sepatu flat berwarna putih, tidak lupa membawa topi lebar untuk melindungi kepalanya dari terik matahari.


Tadinya dia ingin membawa mobil tapi dia urungkan niatnya dan malah membawa sepeda, gadis itu keluar dari apartemen dengan mengayuh sepeda. Tanpa dia ketahui sepasang mata mengawasinya dari dalam mobil sport hitam, kemudian mobil itu melaju mengikuti kemana arah sepeda itu dikayuh.


Setelah setengah jam Ayana sampai di tempat tujuan, gadis itu menyimpan sepeda kemudian berjalan sedikit menanjak. Setelah berada di puncak gadis itu tersenyum, hamparan pemandangan kota yang indah terpampang jelas di matanya, ya ... itu adalah bukit kecil dengan pohon besar di tengahnya.


Ayana merentangkan kedua tangan, angin kencang meniup wajahnya, sinar matahari menerobos melalui celah dedaunan dan menjadikan bayangan di wajah gadis itu.


Ayana duduk setelah menggelar kain bermotif kotak untuk alasnya, keranjang yang dia bawa kemudian dibuka dan di keluarkan semua isinya. Ada beberapa kotak makanan, camilan, buah-buahan serta kaleng minuman ringan.


"Hmm ... nyaman sekali!." Ayana berguman, tubuhnya dia sandarkan di pohon, gadis itu juga memasang earphone dan mulai memutar lagu kesukaan di ponsel pintarnya.


Sebuah mobil berhenti di dekat sepeda Ayana. si pengemudi mobil tersebut turun, siluet seorang laki-laki dengan topi putih yang terpasang di kepalanya, dia melihat keadaan sekitar, sangat sepi tidak banyak orang yang melewati tempat itu, tanpa ragu dia mengagkat sepeda Ayana dan memasukanya ke dalam mobil.


Laki-laki itu berjalan sedikit menanjak, menapaki rumput yang sedikit kering karena musim panas, suara angin memenuhi tempat itu dan menyamarkan suara langkahnya, dia semakin mendekat ke arah seorang gadis yang tengah duduk bersantai.


Ayana sedang menyantap bekalnya, sesekali senandung kecil dia gumamkan, mungkin gadis itu sedang menirukan lagu yang sedang dia dengarkan, tiba-tiba saja semua gelap, seseorang menutup kedua matanya dengan telapak tangan, dia terkejut dan meronta, dia berusaha menurunkan telapak tangan itu tetapi sangat sulit dan membuat gadis itu mulai panik.


"Hey ... lepaskan!! Siapa kau berani menggangguku?!" sejujurnya Ayana sangat takut mengingat tempat itu sepi, bisa saja ada penjahat atau psikopat yang mengganggunya.

__ADS_1


Tangan itu terlepas, karena Ayana terus meronta, dengan segera gadis itu berbalik dan lebih terkejut saat melihat siapa orang itu.


"Sky ...??"


Sky tengah berlutut di depannya, jarak mereka begitu dekat, bahkan Ayana sampai harus menahan napas dan menelan ludah karena hidung Sky tidak berjarak dengan hidungnya. Ayana mundur karena posisi itu tidak aman baginya, degup jantung Ayana selalu menggila akhir-akhir ini saat berhadapan dengan Sky.


"S-sedang apa kau di sini?" tanya Ayana, rasa paniknya belum hilang.


"Bukankah kau pergi berkencan?"


"Dan kenapa kau mengejutkanku? Kau mau membunuhku, ya?" teriak Ayana, gadis itu kembali berbalik, Sky beranjak berdiri kemudian duduk di hadapan gadis itu, sepatu putih yang dipakainya dilepas dan di simpan bersisian dengan sepatu flat Ayana yang juga berwarna putih, Sky mengambil sendok milik Ayana dan mulai makan bekal yang gadis itu bawa.


"Hey ... itu milikku! Aku cuma bawa satu," ucap Ayana setelah sendok yang dia pegang di ambil Sky.


"Diamlah, aku lapar. Tadi pagi kau tidak memberiku sarapan." Sky menggerakan tangannya dengan cepat.


Ayana terdiam. Ya tadi pagi dia memang tidak melakukan apapun bahkan tidak sempat memberi sarapan pada Sky. Dia menatap pemuda itu yang makan dengan lahap, mungkin pemuda itu lapar.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau berada di sini?" tanya Ayana kembali.


"Tadi aku kembali, aku tidak jadi pergi, lalu aku melihatmu, jadi kuikuti saja ."


"Lagipula untung saja aku mengikutimu. Lihatlah tempat ini sepi, bagaimana kalau ada yang mengganggumu, apa kau tidak takut?" jawab Sky panjang lebar.


"Hehe ... benar juga, aku baru sadar di sini sepi sekali." Ayana tertawa kikuk, kenapa dia tidak menyadarinya.


"Anggap saja kita sedang berkencan." Sky menggerakan tangannya kembali.


"Eh? Berkencan?" tanya Ayana dan Sky hanya mengangguk.


"Pakaian kita saja sama, apa kau belum sadar juga, Ayana?" ucap Sky, gadis itu melihat pakaiannya dan pakaian Sky, benar saja, kaos putih di padu bluejeans, dia melihat kearah sepatu di sisi kain dua pasang sepatu dengan warna yang sama.


"Kau meniruku, ya?" goda Sky.


"A-apa? Tidak, mungkin itu cuma kebetulan saja," jawab Ayana gugup.


Setelah selesai makan mereka menyandarkan punggung di batang pohon besar yang cukup untuk menampung tubuh mereka. Ayana memejamkan mata, gadis itu tidak menyadari kalau pemuda di sampingnya tengah memperhatikan.


Sky melihat setiap bagian dari wajah Ayana. Mata, hidung, bibir dan pipi tembamnya, menggemaskan. Sky bahkan menahan diri untuk tidak melumat bibir gadis itu. untuk pertama kalinya dia memperhatikan Ayana sedekat ini. Bibir gadis itu semakin menggoda, Sky mendekatkan wajah dan mengecup singkat bibir Ayana.


Gadis itu tertidur, Sky masih saja menatapnya, helaian rambutnya tertiup angin dan menempel di wajah Ayana. Sky mengusap rambut itu supaya tidak mentupi wajah Ayana lagi, dia menggeser tempat duduknya kemudian memeluk Ayana dengan erat, mencium helaian rambutnya yang menguarkan wangi shampo.


Sky menenggelamkan wajah di antara rambut dan leher Ayana. Dia terkejut, sepasang tangan melingkar di punggungnya. Ayana membalas pelukan Sky, pemuda itu menitikan air matanya tanpa suara, dapat Sky rasakan Ayana yang mengelus punggungnya .


'Bersandarlah padaku, Sky.'


To be Continue


See you next chapter ...

__ADS_1


__ADS_2