
Hari ini kedua pasang mata itu sama sama saling sedang meneteskan air matanya, menangisi sebuah penyesalan yang berbeda namun keduanya sama sama sedang saling tersakiti, derasnya guyuran air hujan tak lagi begitu terasa bagi dongjun, rasa sakit di hatinya telah melumpuhkan indra perasanya sehingga dia tak lagi bisa merasakan suhu udara dingin yang terasa seolah menusuk sampai ke lapisan tulang terdalam. Malam itu dongjun terus menerjang derasnya dongjun terus berjalan dengan langkah kaki yang terseok seok seraya berharap begitu sampai ke rumah rasa sakitnya akan ikut pergi dari dalam lubuk hatinya lalu menganggap semuanya akan kembali baik baik saja seperti sedia kala.
***
Hilang rasa, itulah yang sedang terjadi pada hati kami saat ini, menipisnya sebuah kepercayaan perlahan mendorong rasa cinta itu pergi dari dalam hatinya. membuat sejuta kebencian dibiarkan menguasai batin dan mengikis setiap kenangan serta kebahagiaan kecil ketika ia lewati bersamaku, aku terpaksa harus menjalani kehidupanku yang kelam ini di saat kebahagian lain telah menghampiriku, haruskah aku menyalahkan diriku sendiri karena membuat si kecil ikut merasakan kegundahan hatiku saat ini, ikut serta menangis di setiap petang karena melihat suamiku selalu pulang di larut malam. merasa cemas akan masa depan yang tak tahu harus kemana arahnya.
malam ini hujan turun seperti hari kemarin, satu hal yang kini telah menjadi kebiasaan baru dariku yang saat ini tengah berjalan mondar mandir sambil menatap ke luar jendela yang tidak ada siapa siapa diluar sana, merasa cemas ketika dia belum juga kunjung pulang ke rumah saat jam tengah malam mulai lewat, aku tidak akan berhenti menatapnya sampai seseorang yang aku tunggu kedatangannya sampai di hadapanku dengan kondisi baik baik saja. Lalu tak lama kemudian aku melihat ada sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan rumah, saat kulihat ternyata orang yang baru saja keluar dari dalam mobil itu adalah mas hajun.
"siapa pemilik mobil merah itu dan dimana mobil hitam milik mas hajun yang biasa ia pakai untuk bekerja !" awalnya aku berpikir kalau dia pulang diantar oleh sekertaris kang seperti hari biasanya, namun saat aku langsung bergegas berlari untuk segera membukakan pintu untuknya, dalam sekejap aku sangat terkejut begitu melihat mas hajun sedang di papah oleh seorang wanita seksi dengan dress merah serta high heels berwarna merah pula yang terlihat mencolok, aku sempat tertegun beberapa saat dan terus menatap wajah wanita itu dengan seksama.
"siapa kamu ?" namun wanita itu justru tersenyum menyingrai kepadaku sambil memeluk erat suamiku di hadapanku.
"biarkan aku yang memapahnya !" ucapku sambil meraih pundak mas hajun
"stop !!" bentak mas hajun
"sera .. cepat bawa aku ke kamar, dan jangan biarkan wanita ini mendekatiku sera .. !" ujarnya seperti sedang mabuk berat
__ADS_1
"iya sayang !"jawabnya
"mas kamu mabuk ?"
"itu bukan urusanmu !, cepat bawa aku ke kamar sera !"
"mas hajun .. aku ini istrimu mas .. kenapa kamu malah memilih wanita lain ketimbang aku !" ucapku sambil memegang tangan suamiku, namun yang terjadi tanganku justru ia tepis dengan sangat kuat sampai sampai aku merasakan sakit di pergelangan tanganku.
"cepat sera bawa aku ke kamar sekarang !"rengeknya lagi, sekarang aku baru tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh pasangan sendiri, apa yang telah terjadi padaku bukan sepenuhnya kesalahanku dan apa yang telah menimpaku adalah karena orang lain ingin menghancurkan kebahagiaanku dengan memecah belah rumah tangga ini, tapi ... semua itu berbeda dengan penghianatan yang telah ia lakukan secara terang terangan didepan mataku, mas hajun telah salah mengartikannya dan dia justru membalas musibah yang menimpa diriku dengan berselingkuh di hadapanku secara langsung.
"mas ! mas hajun keluar mas !" ucapku sambil menggedor gedor pintu kamarnya.
"kamu .. kamu dalang di balik semua kekacauan ini bukan ?!" ucapku geram
"wow .. wow .. apa apaan ini, kenapa kamu tiba tiba menuduhku seenak jidat mu !"
"aku sudah tahu min sera .. bahkan aku sudah mencurigai kamu saat kita pertama kali bertemu di hotel waktu itu !"
__ADS_1
"kalau iya memangnya kenapa hah !! kamu mau melaporkan saya ??"
"jadi benar selama ini .. kamu yang merencanakan semuanya dan menjebak aku malam itu !"
"jangan suka menuduh miranda, kejadian malam itu bukan sepenuhnya rencana dariku kok !"ucapnya sedikit berlagak
"apa maksud kamu ?"
"akan aku kasih bocoran untukmu asalkan kamu mau bercerai dengan hajun dan menyerahkan dia ke pelukanku !" bisik min sera di telingaku
"aku tidak akan pernah melepaskan suamiku hanya untuk itu, lebih baik sekarang kamu keluar dari rumah ini sekarang !" seketika min sera tertawa mendengar ucapanku sambil menatapku dengan jijik.
"miranda miranda .. pantas saja hajun merasa muak dengan kamu ya .. bukankah yang seharusnya pergi dari sini adalah kamu ?!" ucapnya mengejekku
"min sera .. !"panggil mas hajun melantur
"maaf ya istri orang, sepertinya malam ini aku harus menjaga suamimu agar dia tetap tenang dalam tidurnya .. selamat malam !" seketika min sera langsung menutup pintu kamar begitu saja saat aku masih berdiri tepat di depannya, langsung saja derai air mataku jatuh mengalir membasahi pipiku, aku merasa kalau aku sudah tak berarti lagi di hidupnya, aku sudah tak berharga dan berkesan di hatinya lagi, begitu pedih yang aku rasakan saat ini sampai aku tak kuat untuk menahan tangis yang ingin pecah meski ku tahan tahan agar tak terdengar oleh min sera maupun mas hajun.
__ADS_1
Mengapa keadaan ini terasa sangat sulit untukku jalani, betapa banyak aku bisa terus terluka karena karena tingkah lakunya, terlalu banyak dia membalas rasa sakit yang ia alami kepadaku, hanya karena sedikit kebohongan yang terpaksa aku lakukan hingga akhirnya dia tega terus menghujani aku dengan perasaan sakit ketika melihat dirinya pulang bersama wanita lain tepat di hadapanku.
kecelakaan karena sebuah fitnah belaka yang aku alami tak pernah ia selidiki dan langsung menyalahkan aku tanpa sebuah bukti yang kuat, dengan entengnya dia mengambil kesimpulan berdasarkan rasa ego yang teramat tinggi lalu melimpahkan dan melampiaskan kekesalannya padaku dengan bermesraan pada wanita lain yang sengaja dia lakukan di hadapanku, semua itu dia lakukan agar aku merana dan kepuasannya ketika melihatku sengsara, untuk saat ini aku hanya bisa berserah diri pada yang maha kuasa, berharap dengan doa doa yang terus aku panjatkan agar tuhan mau menggerakkan sedikit di hatinya untuk bisa kembali padaku dan menerimaku kembali sebagai istrinya, walaupun aku tahu rasanya sedikit mustahil untukku bisa merasakan cinta yang sama seperti dulu ketika hati ini telah merasakan goresan yang sangat dalam karena sikapnya yang saat ini terus menyakitiku.