
keesokan harinya dimana suasana saat di kantor mulai sibuk dongjun tak henti hentinya terus mengamati pergerakan hajun dari kejauhan, tentu saja itu dia lakukan sambil mengerjakan pekerjaan kantornya. dan saat hajun pergi meninggalkan ruangannya dongjun langsung buru buru mencari kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan hajun dan mencari objek benda yang cocok untuk memasangkan alat penyadap suara. di dalam ruangan itu ada dua buah telfon, dimana yang satunya adalah telfon khusus yang digunakan oleh hajun untuk menghubungi sekretarisnya sekaligus wanita itu dan yang satunya lagi untuk semua staf bawahannya, sebuah pilihan yang agak sulit karena kedua alat komunikasi tersebut memiliki warna bentuk serta ukuran yang sama.
"pasti ada sedikit perbedaan dari alat ini !" ucap Dongjun sambil memeriksa alat tersebut, dan ketika dia memeriksa bagian bawahnya ada sebuah tanda yang menunjukkan perbedaan di antara keduanya, dia sering mengamati dari jauh ketika hajun mengangkat telfon.
"ada dua kemungkinan kalau telfon yang di gunakan untuk menghubungi sekretarisnya itu memiliki kode angka 8, lalu kode kantor sudah tentu angka 1 sebagai kodenya !" ucapnya sembari berpikir keras, dengan hati hati kemudian dongjun mencoba salah satu telfon yang tidak memiliki kabel berwarna tembaga, kemudian dia mencoba menekan tombol satu dan setelah itu dongjun mendengar ada sebuah telfon yang berdering dari luar ruangan.
"ternyata ponsel yang ini tersambung dengan kantor !"gumam Dongjun, segera setelah itu dia langsung menutup panggilannya dan seketika suara dering telfon itu juga ikut berhenti.
"oke, berarti ponsel yang ini sudah pasti menyambungkan hajun dengan sekertaris kang serta wanita itu !"ucap dongjun, setelah pemasangan selesai dongjun segera meninggalkan ruangan tersebut dengan lagak postur yang terlihat alami agar tidak mudah di curigai oleh karyawan lain.
fungsi alat penyadap sendiri adalah untuk menyerap atau mentransfer suara daei sumbernya agar bisa di dengar oleh dongjun ketika dia tidak bisa mengawasi gerak gerik hajun secara langsung, selain itu dengan adanya penyadap memudahkan dongjun untuk mengetahui pergerakan min sera serta orang orang yang ada di sekitarnya.
"pak ketua !" panggil salah satu staf bawahan dongjun
"ya ? ada apa ?"
"tadi bapak habis dari ruangan pak ceo ?"
"ah iya tadi !, ada apa ya ?"jawab dongjun dengan tenang
"apa sekarang pak ceo ada di dalam ?"
"sekarang pak ceo sudah tidak ada di dalam ruangannya !"
"ah sayang sekali padahal ada dokumen yang mau saya serahkan ke pak ceo hari ini !"
"tenang saja nanti juga dia akan kembali ke ruangannya !"
"oh baiklah !"
"saya permisi dulu !" ucap dongjun segera pergi
"ah iya pak ketua !"
"huh .. aku kira anak itu mencurigai aku tadi !" gumam dongjun, diapun kembali melanjutkan pekerjaan kantornya yang sudah melambai lambai di meja kerjanya, terlihat dongjun sangat sibuk seharian bolak balik di dalam kantor karena mengurus dan memeriksa dokumen yang telah menumpuk di atas mejanya yang telah di buat oleh para staf bawahannya sebelum kemudian akan diserahkan kepada ceo. Dokumen itu harus diperiksa serta mendapat acc atau persetujuan terlebih dahulu oleh dongjun sebagai ketua tim atau kepala bagian, hingga tak terasa sampailah ketika waktu telah bergeser ke sore hari dimana jam kerja telah berakhir.
"hah ..!! hari ini cukup melelahkan juga !" desah dongjun sembari melonggarkan ikatan dasinya, sesaat kemudian seseorang datang dan mengetuk pintu ruangannya.
"pak ketua !"terdengar suara wanita yang tengah berdiri di depan pintu ruangan dongjun
"iya masuk !"
"bapak belum pulang !"seketika jeon menonjolkan kepalanya dari balik pintu.
"haah ... kenapa ?"ucap dongjun sambil menghela nafas
"bapak lapar ?"
"iya sedikit !"
__ADS_1
"mau makan dengan saya !"ucapnya sembari menghampiri dongjun
"tidak, kamu makan dengan yang lain saja, hari ini aku tidak bisa !" seketika bibir jeon langsung maju beberapa senti
"saya hanya mau mengajak bapak saja !"
"mungkin lain kali saja !" seketika dongjun langsung berdiri dan pergi beranjak melewati jeon yang sedang berdiri dihadapannya, jeon tidak mudah menyerah begitu saja, dia terus mengikuti dongjun sambil terus merayunya, dan di saat dongjun tengah berjalan tiba tiba sesuatu terjatuh dari dalam tas laptopnya yang masih sedikit menganga.
"tunggu pak anda menjatuhkan sesuatu !"teriak jeon sambil mengejar dongjun, spontan saja dongjun langsung menoleh ke arah belakang dan melihat ternyata tas laptopnya belum tertutup sempurna.
"anda menjatuhkan ini !"
"kembalikan !"dalam sekejap dongjun langsung merebut foto tersebut dari tangan jeon, namin sayangnya jeon sudah terlanjur melihat foto tersebut.
"foto itu ??"raut wajah jeon mendadak berubah seolah menunjukkan kalau dia kenal dengan seseorang yang ada di dalam foto tersebut.
"ada apa dengan foto ini ?"tanya dongjun penasaran
"sepertinya saya sering melihatnya, tapi dimana ya ?"ujar jeon
"kamu kenal dengan orang ini ?"
"tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali, tapi sepertinya saya sering lihat orang itu di sekitar tempat tinggal saya !"
"kamu yakin ?"
"iya saya yakin sekali, apa saya boleh lihat foto itu sekali lagi ?!"
"ssshhht ... iya benar orang ini !"
"apa kamu tahu dimana orang itu tinggal ?!"
"saya tidak tahu, tapi mungkin saja saya bisa memberi tahu !"
"maksudnya !"
"laki laki ini pasti melewati jalan didepan rumahku sekitar jam 6 pagi lalu akan kembali lagi di jam 7 malam !" jelas jeon
"kamu mau menemani aku menunggu laki laki itu lewat depan rumahmu !"
"apa anda punya sangkut paut dengan laki laki ini ?!"
"kenapa ?"
"jadi benar ?!!"
"itu bukan urusanmu !"
"apa anda pernah dicopet ?"
__ADS_1
" tidak !"
"rumah anda dirampok ?"
"tidak !"
"atau jangan jangan anda bersekongkol dengan orang itu untuk melakukan sesuatu !"celoteh jeon
"ssstttt ... berisik !"
"jadi benar anda mau ber.. " seketika dongjun langsung menutup mulut jeon dengan tangannya
"diam ! kamu bisa diam atau tidak !" kemudian jeon langsung mangut mangut
"jadi anda jadi mau saya temani atau tidak ?!"
"iya, kalau kamu mau !"
"tentu saja saya mau !" ucapnya kegirangan
"baik, aku akan datang ke rumahmu nanti satu jam lagi !"
"eh pak ketua !" seketika jeon langsung meraih tangan dongjun dan mencoba menahannya
"apa lagi !"
"apa bapak tahu rumah saya ?!"
"tidak !"
"kalau begitu bagaimana bisa bapak tahu rumah saya ?!"
"kirimkan saja alamat rumahmu ke nomer ponselku !"
"pak !"jeon mencoba menahan dongjun lagi
"aaapa !"
"sekarang kan masih jam 4 sore, bagaimana kalau bapak langsung ke rumah saya saja, kebetulan pagi tadi saya belanja banyak dan sepertinya saya tidak bisa menghabiskan bahan makanan sebanyak itu sendirian !"ucap jeon beralasan
"kalau begitu simpan saja untuk stok satu bulan, gampang kan !"
"pak !! sekali ini saja ya .. ya !"
"hah .. baiklah !" ucap dongjun mulai menyerah karena kegigihan jeon dalam hal membujuk.
profil
name : jung jeon
__ADS_1
age : 21