Love In Silent

Love In Silent
Setengah terjawab


__ADS_3

Di tengah canda tawa serta gurauan yusuf yang tak ada hentinya tiba tiba saja terdengar samar samar seseorang tengah mengetuk pintu ruang tamu.


"Sstt .. !"


"Ada apa ?!" Tanya miranda


"Sepertinya tadi ada yang ngetok pintu !" Ujar yusuf sambil memasang telinganya


"Masa sih ? Nggak ada kok ?!"


"Ada tadi !"


Tok .. Tok .. Terdengar kembali suara ketukan pintu yang kedengaran agak samar samar di telinga.


"Tuh kan ada !"


"Siapa ya ?" Tanya miranda sembari mengerutkan kedua alisnya, lantas yusuf pun hanya mengedikkan bahunya.


"Mau aku bukain pintunya ?!"


"Enggak deh biar aku saja yang buka !"


"Oh ya sudah !" Timpal yusuf, namun saat tangan miranda memindahkan arka yang sedang tertidur pulas di pelukannya berpindah ke pangkuan yusuf, seketika saja arka langsung terbangun dan menangis kencang, mungkin saja arka sudah merasa nyaman dengan tangan ibunya dan secara tiba tiba si ibu malah memindahkan tubuh mungilnya itu ke tangan lain yang terasa keras bagai batu alhasil karena dia merasa tidak nyaman tangisannya langsung membuat miranda tidak jadi memindahkannya dan ia pun terpaksa harus menimang arka agar ia bisa tertidur kembali, pada akhirnya Yusuf lah yang terpaksa turun tangan untuk membukakan pintu.


***


Tok .. Tok .. Tok suara ketukan pintu terdengar lebih keras ketika Yusuf berjalan ke arah ruang tamu, dan begitu yusuf membuka pintu tersebut untuk sesaat mereka saling menatap dan mematung, dalam hitungan detik dalam benak mereka terlintas sejuta pertanyaan yang tak mungkin di ungkapkan.

__ADS_1


"siapa ya ?!" ucap yusuf agak canggung.


"eh .. We want .. "


"apa benar ini kediaman miranda ?!" ucap hajun menyerobot pembicaraan dongjun yang terlihat agak ragu ragu


"oh .. Benar ini rumah miranda !" saut yusuf yang terlihat masih bingung dengan siapa mereka sebenarnya dan ada hubungan apa dengan miranda.


"maaf .. Sebenarnya kalian itu siapa !?" tanya yusuf agak nekat


"anda sendiri siapa ?!" ucap hajun sangat ketus.


"psst bersikap lebih baik lah sedikit, kita itu tamu disini !"bisik dongjun


"ah .. Sorry can you forgive my friends impolite attitude !" ujar dongjun


"eh .. i can't speak english !"ucap yusuf terus terang, seketika dongjun langsung melongo saat mendengarnya


"siapa yus ?!" teriak miranda dalam rumah, namun seketika langkah kaki itu langsung terhenti dan membeku di tempat, tatapan matanya bergetar dan bibirnya dia membisu, dalam sekejap seluruh tubuhnya terasa lemah saat melihat hajun yang secara tiba tiba telah berdiri di hadapannya segala kata kata dan umpatan yang dia pendam selama ini terasa ingin dia keluarkan seluruhnya di hadapan hajun, namun jangankan satu kalimat itu keluar bahkan untuk satu kata saja ia tak mampu untuk mengatakannya.


"mir ? Mira ?" panggil yusuf, namun sepertinya miranda tak mendengarkannya, tatapan mata itu masih saja memandang hajun dengan ekspresi yang sulit untuk di jelaskan dengan kata kata, Melihat sikap miranda yang langsung berubah drastis dengan raut wajahnya yang langsung memucat akhirnya yusuf segera menolak kedatangan mereka, meskipun yusuf belum tahu secara pasti siapa orang orang itu, namun firasatnya mengatakan kalau mereke berdua pasti saling bersangkutan dengan miranda di masa lalunya.


"maaf sepertinya miranda sedang tidak enak badan, jadi sebaiknya kalian pulang saja !" ucap yusuf sembari menutup kembali pintu ruang tamu itu secara paksa, meski ia tahu perbuatannya itu sangatlah tidak sopan, tapi disisi lain ia juga merasa khawatir dengan kondisi miranda yang tampak sangat syok.


sesaat setelah pintu itu telah tertutup kembali miranda langsung jatuh terpuruk ke lantai, seolah olah kakinya mendadak kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya, nafasnya jadi tak beraturan dan detak jantungnya berdebar tak karuan.


"miranda ? Kamu enggak apa apa kan ?" ucap yusuf cemas

__ADS_1


"a.. a .. Aku.. !"


"iya pelan pelan saja nanti kamu jelaskan, sekarang ayo bangun dulu, kemari biar aku bantu kamu berdiri sekarang ".


***


"what !! Apa apaan orang itu tadi ?! Apa dia sedang mengusir kita sekarang ?!" ucap dongjun ngedumel


"mungkin .. " saut hajun dengan raut wajah yang sangat kecewa.


Akhirnya mereka berdua pun terpaksa meninggalkan tempat itu tanpa mendapatkan satu petunjuk apapun, justru setelah mereka bertemu semakin bertambah rasa penasaran dan sejuta pertanyaan yang makin banyak bertumpuk di dalam isi kepala. dari sekian banyak pesan yang hajun kirim tak ada satupun pesan yang miranda balas tak ada kata sapaan atau senyuman ketika mereka sempat bertatap muka saat tadi, meski itu terlihat mustahil tapi perasaan hajun semakin hancur ketika melihat lelaki lain yang tinggal serumah dengan miranda.


sesampainya di hotel nampak dua lelaki itu sama sama bermuka masam, mereka saling diam dan tak mengatakan sepatah katapun.


Di tengah kesepian itu dongjun berusaha menyadarkan dirinya bahwa tidak pantas baginya jika harus merasakan parah hati, justru sebaliknya dia harus memberi semangat pada hajun untuk berusaha melupakan miranda dan menghapus namanya di dalam hatinya agar dia tidak terus berlarut larut dalam kesedihan karena tidak rela atas hubungan miranda dengan lelaki lain yang telah merebut kepercayaan wanita itu darinya.


"eh .. Sekarang apa selanjutnya ?" ucap dongjun menepis keheningan


"tidak akan ada selanjutnya !"


"sudah ? hanya sebatas itu perjuanganmu ?!"


"ya .. Aku akan sudah saja !" ucap hajun putus asa


"hei .. Ayolah jangan pesimis seperti itu, kita kan juga belum tahu siapa lelaki yang bersama miranda tadi !" bujuk dongjun


"aku rasa semua itu sudah tidak aku perlukan lagi !"

__ADS_1


***


Hari itu juga hajun memutuskan untuk meninggalkan indonesia dan langsung terbang kembali ke korea bersama dongjun, ada sejuta rasa penyesalan di dalam hatinya dan rasa sakit hati yang baru ia rasakan setelah sekian lama dia memendam perasaan bersalah pada miranda karena telah mencampakkannya, kini barulah ia rasakan seperti apa sakitnya ketika perasaan yang benar benar tulus dicampakkan langsung di depan matanya, tanpa ia sadari air matanya menetes dan meleleh ke pipinya, penyesalan mendalam yang tak mungkin bisa ia obati karena kesalahannya sendiri. Hari ini detik ini dan juga menit ini dirinya telah terhanyut dan hilang di tengah gejolak ombak besar di hatinya, terasa hampa dan gelap bagai tersesat di dalam lembah yang begitu dalam, dan bagaikan seribu duri yang tertancap begitu dalam sampai ke dalam tulang kemudian di tarik kuat hingga semua darah bercucuran.


__ADS_2