Love In Silent

Love In Silent
Mudik


__ADS_3

Terlihat dongjun begitu bersemangat hari ini, dia bahkan sudah menyiapkan segala hal selepas perceraianku hari ini, namun aku rasa kebaikannya harus aku hentikan cukup hanya sampai disini saja.


"Dongjun !" Panggilku sambil meraih tangannya, untuk sesaat dia langsung menghentikan ucapannya dan langsung memandangku dengan tatapan serius


"Aku akan pulang ke indonesia !" Jawabku tegas, mendengar ucapanku kedua mata Dongjun langsung berkaca kaca diapun langsung memalingkan pandangannya dariku.


"Kenapa !"


"Karena aku tidak mungkin bisa hidup disini lagi !, semua jalanan dan tempat di kota ini terlihat menyakitkan bagiku !"


"Aku ikut denganmu !"


"Tidak ! Aku akan pulang sendiri tanpa siapapun dongjun !" Dongjun terlihat menahan air matanya dia terdiam sambil terus menatapku.


"Baiklah ! Kalau itu keputusan kamu, aku juga tidak mungkin memaksa kamu untuk tetap tinggal di seoul, jika kamu lebih nyaman di indonesia maka pulanglah kesana, aku akan mengantarkan kamu sampai ke bandara !" Ucapnya agak terbata bata.


"Terima kasih dongjun !" Sekilas dongjun hanya melemparkan senyum tipis pada miranda.


"Kita berangkat sekarang ?" Tanya dongjun, kemudian aku pun mengangguk pelan.


"Pak ke bandara sekarang !"


"Baik !"


Segera taksi itu pun langsung melaju ke bandara incheon seoul, sesampainya di sana aku langsung memesan tiket pulang ke indonesia. dan ketika pesawat sebentar lagi berangkat aku menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Dongjun, namun disaat aku mencarinya ternyata dia sudah tidak ada di sana,


"mungkin berpamitan seperti ini membuatnya tidak nyaman " gumamku


Meski aku sedikit merasa kecewa, akan tetapi aku masih bisa memahami apa yang dia rasakan ketika harus berpisah secara tiba-tiba seperti ini, tanpa perlu menunggu lama akupun segera naik ke dalam pesawat dan menunggu pesawat yang akan segera lepas landas, dan saat aku sedang duduk sambil mengamati dari balik jendela kaca pesawat seketika saja penumpang yang duduk di sampingku mengajakku berbicara.


"Permisi apakah anda biasanya selalu mengalami mabuk udara?"


"ya ?!" ucapku sambil menatapnya bingung


"kedua mata anda sepertinya sedang berair ?"ucapnya sedikit agak mencurigai aku, seketika itu aku langsung menyadari kalau aku hampir menangis rupanya.


"Oh ini !! Maaf sepertinya tadi saya terus menguap sampai beberapa kali, Jadi saya terlihat seperti sedang menangis !"


"Oh baguslah kalau begitu !"


"bagus ?"

__ADS_1


"Aku kira Anda sedang mual karena mabuk udara ! syukurlah karena aku tidak perlu mencari kursi baru sekarang !" lalu aku hanya membalasnya dengan senyum tipis


"yah sepertinya dia punya trauma tersendiri dengan orang yang mabuk udara !" gumamku di dalam hati


ketika pesawat sudah terbang membumbung tinggi melewati gumpalan awan yang indah, aku kembali termenung sambil melihat indahnya langit korea pagi itu, aku belum menyangka dan semua ini masih terasa seperti mimpi yang sangat nyata, aku masih belum percaya kalau aku telah resmi bercerai dengannya hari itu, tanpa aku sadari langkah ini telah memaksaku pergi dari kehidupannya sekali lagi, berat .. memang sangat berat aku rasa, bahkan jika kita dilahirkan kembali dan jika kita mencintai lagi, alangkah baiknya kita jangan melakukannya lagi seperti hari ini, lebih baik jika bertemu sebentar saja lalu berharap sedikit dan tak perlu berikrar dengan janji suci.


Jadi di saat kita mengucapkan selamat tinggal seperti hari ini, kita akan bisa saling berpaling tanpa rasa sakit.


Sekarang aku tahu bahwa cinta yang terlalu dalam bisa membuat akhir yang menyedihkan faktanya adalah diriku yang saat ini, cinta yang aku ungkapkan dan aku curahkan sepenuhnya padamu telah menipu diriku sendiri. maka dari itu aku akan berdoa untuk cintamu yang berikutnya semoga tidak akan menjadi seperti nasib kita berdua dengan akhir yang menyedihkan.


Seandainya aku tidak boleh melihatmu lagi


Bila aku sudah terbiasa menjalani kehidupan sebagai orang lain, mungkin segala kesedihan yang aku rasakan saat ini perlahan akan menghilang dengan sendirinya.


"hei !" ucapnya sambil mencolek bahuku


"ya ?"


"kamu tidak apa apa ?"


"aku ?"


"ah .. lagi ?"ucapku sambil mengelap kedua mataku


"iya !"


"apa aku terlihat sedang mual ?"


"entahlah .. tapi kalau kau sampai mengeluarkan isi perutmu aku terpaksa harus pergi dan mencari tempat duduk lain !" ujarnya terus terang, seketika aku tersenyum mendengar perkataannya.


"tenang saja .. kamu tidak perlu khawatir, karena aku tidak pernah mabuk udara !"


"ya itu terdengar sedikit melegakan !"


"lalu apa wajahku terlihat sedang mengantuk ?"


"tidak !, lebih tepatnya wajahmu seperti orang yang kurang tidur !"


"apa ?!"ucapku sedikit tersentak lalu tersenyum tipis


"dasar anak ini, bisa bisanya dia bicara santai dengan wanita yang jauh lebih dewasa darinya "gumamku dalam hati

__ADS_1


"apa anda kurang tidur akhir akhir ini ?" ucap gadis itu bertanya padaku


"sepertinya iya !"


"hah .. ck ck ck !"


"baru saja kamu menghela nafas ?"ucapku keheranan


"bagaimana orang dewasa seperti kakak ini tidak bisa mengatur jam tidur dengan baik !"protesnya


"apa wajahku terlihat bengkak ?"


"bukan bengkak lagi tapi sudah mulai kusut !" ucapnya terus terang, spontan aku langsung mengambil cermin lalu memeriksa wajahku


"tidak kok, wajahku masih sama saja seperti biasanya !"


"heisss .. lingkaran mata panda, wajah kering kusut, mata sembab, bibir pecah pecah, apa kakak tidak bisa melihatnya dengan jelas !" protesnya lagi


"masa sih ?"


"ini pakai cermin saya, supaya kakak bisa melihatnya sendiri !" ucapnya sambil menyodorkan sebuah cermin yang ukurannya agak besar daripada cermin milikku.


"hmmm .. yah mungkin aku kurang memperhatikan wajahku akhir akhir ini ?!"


"pantas saja .. kakak terlihat lebih tua dari umur kakak !"


"memangnya kamu tahu berapa umurku ?" ucapku sembari mengernyitkan kedua alisku


"kalau dilihat dari postur wajah kakak terlihat seperti usia 40 tahun, tapi umur sebenarnya kakak pasti hampir mendekati usia sekitar 30 tahunan !"


"wow !! hebat juga kamu ya !"


"tentu saja !" ucapnya sambil menyombongkan diri


bagaimana aku sempat untuk memperhatikan penampilanku selama ini kalau setiap harinya aku tidak mampu memikirkan keadaanku sendiri.


***


begitu pesawat telah sampai di bandara jakarta, aku langsung turun dan kembali melanjutkan perjalanan, meskipun aku sempat bingung hendak pergi kemana, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah kota yang bernama kota Pekalongan, aku memilih untuk tinggal disana karena tempat itu berada di tengah tengah kota jakarta dan jogja, kalau aku tinggal di jogja takutnya sewaktu waktu aku masih bisa bertemu dengan pamanku yang tinggal di jogja, aku juga tidak mau tinggal di jakarta lagi, mengingat kejadian yang membuatku muak dengan om surya waktu dulu aku masih menetap di kota jakarta.


jika aku tinggal di kota pekalongan aku jauh dari jogja dan juga jakarta, kabarnya biaya hidup disana masih terbilang cukup terjangkau, jadi aku bisa menggunakan uang pemberian mas hajun dengan lebih bijak serta aku lebih bisa hidup dengan berhemat disana.

__ADS_1


__ADS_2