
Visual Cast
Sky Violet
Ayana Bella Woodard
Suasana ramai terdengar di beberapa sudut apartemen milik keluarga kecil Violet, apalagi di balkon, bau daging yang dibakar tercium dari pembakaran, di dapur tepatnya di meja makan juga terdapat banyak camilan serta minuman.
"Wah, ini menyenangkan!! Sering-seringlah mengadakan barbeque seperti ini, lagi pula kita bisa tetap bersama-sama." Rocky berkata dengan girang sambil memasukan potongan daging menggunakan sumpit ke dalam mulutnya.
Saat ini Sky dan Ayana mengundang para sahabat untuk acara barbeque di apartemen mereka, Sky memberi kejutan untuk Ayana karena istrinya itu pasti kesepian.
Sudah tiga bulan Ayana berhenti sekolah di sekolah umum, dia memilih home schooling untuk pendidikannya, jadi Ayana bisa tetap bersekolah dan menjaga kehamilan.
Kandungan Ayana sudah memasuki bulan keempat, postur tubuhnya sudah sedikit berubah, selera makannya juga sedikit bertambah. Sky tidak akan lupa selama tiga bulan ke belakang dia kesulitan menghadapi Ayana yang rewel di masa ngidam, sifat manjanya bertambah berkali lipat.
"Apa kau tidak terganggu dengan bau daging berbumbu?" tanya Sky, Ayana menggelengkan kepalanya.
"Kau aneh, saat mencium bau parfumku kau hampir muntah, aku juga ingat bau sabun mandi dan bau lemari pakaian kau juga tidak menyukainya." Ayana masih menyimak.
"Tapi bau daging tidak membuatmu merasa mual." Sky masih menggerakkan tangannya.
"Kau bahkan tidak kuat mandi dengan air dingin, kau mandi dengan air hangat itupun tengah hari." Sky tersenyum, menurutnya hal itu sangat lucu.
"Itu karena bayi kita laki-laki," jawab Ayana, sambil mengelus perutnya yang tidak lagi rata.
"Menurut sebagian orang, bayi laki-laki atau perempuan punya pembawaan yang berbeda untuk ibunya. Bayi laki-laki punya bawaan anti pada sesuatu yang berbau harum. Bahkan selera makan pun berbeda bagi bayi perempuan sang ibu lebih menyukai sayuran dan buah juga menyukai semua yang berbau wangi," ucap Ayana panjang lebar.
"Itu benar, sedangkan untuk laki-laki, bawaan untuk sang ibu adalah malas mandi, dan menyukai makanan seperti daging, atau ikan." Kali ini Flora ikut berbicara.
Sky memeluk Ayana dari belakang, tangan besarnya melingkari perut sang isteri memberi pelukan hangat pada kedua calon bayinya, dia merasa memeluk tiga orang sekaligus.
"Kau membuatku iri, Sky. Aku juga ingin menikah muda," kata Rocky, "Flora, Sayang. Ayo cepat menikah denganku!!" Rocky berteriak pada Flora yang berada di dapur, semua orang tertawa karena tingkah Rocky.
Para sahabat itu berkumpul di balkon, udara memang dingin karena sudah memasuki awal musim dingin.
Sky memakaikan syal hangat untuk Ayana, karena udara semakin dingin.
"Mm ... Kau romantis sekali, Sky!!" seru Flora sambil menangkupkan kedua tangannya. "Oh ya, Ayana.Apa ayah dan kakakmu sudah tau tentang kehamilanmu?" Flora bertanya pada Ayana yang sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Sky.
"Ya, bulan lalu aku sudah memberi tahu mereka lewat email karena Ayah dan Kak Nicky berada di luat negri," jawab Ayana.
Ting-tong.
Suara bel berbunyi, padahal ini sudah pukul sepuluh malam. "Biar aku yang membuka," ucap Aino, gadis itu di temani kekasihnya, untuk membuka pintu.
Sky dan Ayana saling melirik, siapa kira-kira tamu yang datang?
"Ayana?!" Senyuman Ayana melebar saat sang kakak Nicky Woodard memanggil, dia beranjak dari duduknya dan segera memberi pelukan pada sang kakak. Ternyata tamu yang berkunjung adalah keluarganya.
"Kak Nicky!" Ayana berteriak karena bahagia bertemu dengan keluarganya.
"Bagaimana kabarmu, Adikku tersayang?" tanya Nicky, pemuda itu mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Aku baik-baik saja, apa kakak datang sendiri?" tanya Ayana.
"Dia bersamaku." Seorang pria dewasa yang berkharisma muncul dari arah pintu rumah, pria dengan mata yang sama dengan Ayana.
"Ayah?!" Ayana juga memeluk ayahnya.
"Bagaimana kabar Ayah?" Ayana bertanya dengan tangisan yang menghiasi wajahnya.
"Hn, seperti yang kau lihat. Aku ingin bicara denganmu dan suamimu sekarang!" ucap Mark Woodard dengan penuh penekanan.
🍁🍁🍁
Di ruangan kerja sudah ada Mark, Ayana dan Sky sendiri, suasana tegang dirasakan Ayana, entah kenapa firasat buruk dirasakannya saat melihat tatapan sang ayah yang mengintimidasi.
"Ayana. Aku ingin bertanya padamu," ucap Mark dingin, Ayana hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Apa benar kau sedang mengandung?" tanya Mark.
"I-iya, Ayah. Aku sedang mengandung," jawab Ayana.
"Berapa usia kandunganmu itu?"
"Memasuki empat bulan," jawab Ayana lagi.
"Apa? Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak awal, berita sepenting ini baru kutahu satu bulan kebelakang, apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ayahmu lagi, hah?" Suara Mark sedikit meninggi, membuat semua teman Ayana mendengarnya, Nicky yang sedang berbicara dengan Ling pun terkejut saat mendengar ayahnya berteriak.
"Berapa usiamu sekarang? Apa kau pikir memiliki anak itu adalah hal yang mudah? Kau tidak tahu untuk menjadi seorang ibu itu sangatlah sulit?"
"Dan kau, Violet!! Aku kecewa padamu, dalam perjanjian kau berjanji tidak akan menyentuh putriku, tapi kau mengingkarinya dan sekarang kau membuat putriku hamil di usia muda!!" Mark masih mengeluarkan emosinya.
"Ayah, kami saling mencintai, kami sudah menikah, apa salahnya kalau sekarang aku hamil, lagi pula aku menyayangi bayi ini." Ayana berteriak dan menangis, Skyberusaha menenangkannya, lagi-lagi dia merasa tidak berguna karena tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kau naif sekali, Nak! Apa kau lupa siapa suamimu? Dia seorang Violet, mereka menurunkan kecacatan pada anggota keluarga lainnya!!" Sky membulatkan mata, bagaimana dia bisa lupa tentang itu? Sedangkan Ayana hanya menutup mulut karena tidak percaya ayahnya tega mengatakan hal itu.
"Aku tidak ingin memiliki cucu yang tidak sempurna."
"Dia sendiri sudah cacat, bagaimana dengan bayi kalian nanti? Dia bisa saja, buta, tuli atau tidak memiliki tubuh yang sempurna."
"Cukup, Ayah!! Jangan menghina Sky seperti itu, aku tidak terima." Ayana kembali berteriak.
"Lihatlah!! Dia bahkan tidak mampu memberi penjelasan, apa kau hanya ingin membuat malu keluarga Woodard?" Mark masih saja berkoar.
BRAAK
Nicky membuka pintu dengan kasar, terlihat pemuda itu marah.
"Ayah, apa yang ayah lakukan kau menyakiti mereka berdua??!" teriak Nicky pada ayahya.
"Diam, Nicky!! Jangan ikut campur! Dengar Ayana, aku tidak mau tahu kau harus ceraikan Sky secepatnya, mengenai bayimu kita akan bicarakan lagi nanti, aku tidak ingin kau menderita." Mark pergi diikuti Nicky yang masih berdebat dengannya.
Ayana melihat Sky yang terdiam, dengan segera dia memeluknya erat.
"Lakukan sesuatu!! Aku tidak ingin berpisah denganmu, Sky." Ayana terisak di pelukan Sky, pemuda itu hanya memeluknya erat, kemudian Ayana tak sadarkan diri.
Sky panik, dia menggendong Ayana ke kamar, semua temannya juga ikut panik, mereka segera membantu Sky, wajah mereka tampak khawatir.
Saat Ayana tersadar dari pingsannya, Sky bernapas lega karena isterinya baik-baik saja, tetapi wanita itu kembali menangis.
Sky menangkupkan kedua telapak tangannya, seperti gestur meminta maaf, Ayana hanya mengernyit karena tidak mengerti.
"Maaf, bagaimana mungkin aku bisa lupa, aku sangat bahagia saat kita akan memiliki bayi, tapi semua yang dikatakan ayahmu benar."
"Setiap anggota keluarga Violet-..."
"Sudah cukup jangan diteruskan!! Jangan meminta maaf, aku mencintaimu, apapun yang kau berikan itu sangat berharga untukku." Gerak tangan Sky berhenti karena ucapan Ayana.
"Tapi, bagaimana jika mereka berdua tidak sempurna?" Sky menitikan air mata, beberapa saat yang lalu dirinya masih bahagia karena akan menjadi seorang ayah, tapi rasa bahagianya hancur begitu saja karena ucapan sang ayah mertua.
"Dengarkan aku! Bukankah sudah kukatakan kita akan saling melengkapi?" Ayana menggenggam tangan Sky.
"Aku tahu, tapi aku tidak mau kalau kau akan hidup bersama orang-orang yang cacat." Sky masih bersikeras dengan pemikirannya.
"Sky, aku mohon, aku sedang mengandung, paling tidak berikanlah aku dukungan, kau harus menguatkanku, aku sangat mencintai mereka, aku tidak ingin terjadi apapun pada mereka."
"Kalian bertiga, kau dan bayi kita adalah kebahagiaanku."
Sky mengerti Ayana lebih sensitif saat ini, suasana hati wanita muda itu selalu berubah, Ayana bisa lebih manja dari biasanya.
🍁🍁🍁
Pasangan muda ini tengah berbaring, setelah pembicaraan yang menguras emosi, akhirnya Ayana bisa menenangkan diri, dia berbaring dengan tangan Sky sebagai bantalnya.
Ayana tidak ingin Sky melepaskan pelukannya. Pemuda itu hanya mengusap lembut helaian rambut Ayana, mereka terdiam namun mata mereka masih saling menatap.
"Nyonya Violet, berapa usiamu sekarang?" tanya Sky sambil mengelus pipi kiri Ayana.
"Mm, bulan depan aku berusia 18 tahun," jawab Ayana masih dengan menatap mata suaminya.
"Kau masih sangat muda." Gerak tangan Sky, Ayana tersenyum.
__ADS_1
"Kau ini mau bicara apa?" tanya Ayana diselingi tawa.
"Aku tidak tahu, aku bingung, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tampak bahagia?" Ayana menganggukan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya merasa senang kalau kau berada di sisiku," ucap Ayana, tangan mungilnya mengusap helaian hitam Sky.
...
Ciuman mereka begitu menggebu, pasangan muda ini merasakan rindu seakan sudah lama tidak bertemu, Sky berpikir mungkin karena Ayana hamil, hormonnya sedikit berbeda, Ayana terlihat begitu bergairah.
Perut Ayana yang sedikit besar terlihat sexy di mata Sky apalagi saat ini wanita muda itu tidak mengenakan pakaian, sama seperti dirinya yang tanpa busana.
Tubuh mereka bergumul di atas tempat tidur. Sky lebih banyak bekerja dari pada berbicara, tentu saja Sky itu kan bisu, hanya naluri lelakinya saja yang berbicara, tetapi deru napas dan lenguhan yang keluar dari bibir Ayana membuat ranjangnya terasa panas.
Ayana benar-benar menikmatinya, siapa yang peduli, yang menginginkan perceraian adalah ayahnya bukan dirinya. Dia bisa mengambil keputusan sendiri dan yang diinginkannya adalah bersama Sky.
🍁🍁🍁
Beberapa kali Mark mengirimkan surat cerai yang harus ditanda tangani oleh Ayana dan Sky tapi surat itu kembali dengan menjadi robekan-robekan kecil karena perbuatan Ayana.
Mark semakin marah pada Ayana yang keras kepala, sepertinya dia harus menyusun sebuah rencana baru.
Usia kandungan Ayana sudah memasuki bulan ke tujuh, Sky sedang bersamanya di dokter kandungan, Ayana sedang melakukan test USG, Sky tampak terharu melihat bayangan kedua bayinya di layar hitam putih tersebut, Sky jauh lebih terharu saat mendengar suara detak jantung mereka yang terdengar nyaring, Ayana memperhatikan wajah Sky yang bahagia, suaminya itu tidak menyadari kalau tengah diperhatikan karena terlalu fokus melihat bayi-bayi mereka.
"Dokter, bagaimana apa mereka sehat?" tanya Ayana antusias, tangannya digenggam Sky dengan erat.
Dokter itu menghela napasnya. "Satu bayimu tampak sehat dan aktif tapi satu dari mereka tampak sangat lemah," ucap dokter wanita yang menangani kehamilan Ayana.
"Entah dia bisa bertahan atau tidak, dia- ...."
"Tidak kedua bayiku baik-baik saja." Ayana memotong perkataan dokter tersebut.
"Dengar kau masih sangat muda, ditambah kehamilanmu sangat rentan dan beresiko. Walaupun mereka sehat tapi mungkin saja dia terlahir cacat." Dokter itu berbicara fakta, Ayana menangis di pelukan Sky.
Ayana ingin kedua bayinya lahir selamat, dia takut satu diantara bayinya tidak bisa hidup, dia sangat mencintai kedua bayinya, buah cintanya dengan Sky.
🍁🍁🍁
Sky membawa nampan berisi makanan, bubur, buah dan juga air putih untuk Ayana, sejak pemeriksaan dia tidak mau turun dari ranjangnya, dan juga tidak mau makan.
Ayana bersandar di kepala ranjang air, matanya setia turun, Sky menggenggam tangannya, wanita itu mengalihkan tatapannya pada sang suami.
"Makanlah!! Dari kemarin kau tidak makan." Ayana menggelengkan kepalanya saat bahasa isyarat Sky terbaca di telapak tangannya.
"Maafkan aku, Ayana. Kau pasti kecewa."
"Maaf atas ketidak sempurnaanku ini, kau selalu menderita karena diriku." Satu tetes air mata meluncur di pipi Sky.
"Sungguh aku tidak ingin mereka sepertiku, aku tidak ingin mereka terlahir cacat, aku ingin mereka sehat dan juga selamat saat lahir nanti."
Ayana merasakan sesak di dadanya, melihat Sky menangis hatinya jauh lebih sakit, dia lupa bahwa Sky juga terluka.
Ayana menggeser tubuhnya ke depan untuk memeluk Sky.
"Maafkan aku, Sky! Aku sudah bersikap egois, aku tidak berpikir kau juga terluka." Ayana mengusap air mata Sky, sedangkan pemuda itu mengecup tangan Ayana yang mengusapnya.
Ayana mengelus perutnya dengan sayang, Sky juga ikut menyentuhnya. "Kita serahkan semua pada Tuhan, kita hanya perlu berdoa dan minta padanya agar putra kita baik-baik saja," ucap Ayana dan Sky menganggukan kepalanya.
Ayana memutuskan untuk menerima apapun takdir Tuhan, dia hanya perlu menunggu proses kelahirannya.
...Di lain tempat...
"Tamu anda sudah datang, Tuan," ucap seorang pelayan perempuan pada Mark.
"Hm, suruh dia masuk!" Pelayan itupun pergi dan mempersilahkan tamu Mark untuk masuk.
"Selamat siang, Tuan Woodard?" sapa tamu tersebut.
"Hm, selamat siang, Tuan Purrot."
To be continue
Dah lama ga up ...
__ADS_1
See you next chap
I Love you all 💕💕💕