Love In Silent

Love In Silent
Teman baru


__ADS_3

Begitu mas hajun selesai makan, dia pun langsung bergegas berangkat ke kantor, karena takut terlambat, aku pun juga langsung bergegas mandi dan segera bersiap siap untuk menghadiri tes interview tahap pertama.


harapan ku di pagi ini, semoga saja kali ini takdir keberuntungan akan berpihak padaku.


Jarum jam telah menunjukkan pukul 09.35, mungkin tepat di jam ini mas hajun sedang melaksanakan meetingnya di kantor, sedangkan aku masih saja di depan halte sambil menuggu giliran bus selajutnya yang akan datang, karena tadi aku sempat terlambat sampai di halte ketika bus yang sebelumnya datang, alhasil aku tidak bisa mengejar waktu untuk sampai lebih awal di dan sangat terpaksa aku harus menunggu giliran bus selanjutnya lagi. Perasaanku semakin ketar ketir begitu jarum panjang sudah menunjuk di menit 50, sedangkan tes interview akan di laksanakan tepat di pukul 10:10, sedangkan di menit sekarang ini aku belum juga melihat ada tanda tanda bus selanjutnya yang akan datang. Saat aku sedang gelisah menunggu bus di halte tiba tiba ada seorang pemuda yang datang tergesah gesah berlari ke arah ku, lalu berhenti tepat di sampingku. Pemuda itu perpenampilan sangat rapih dengan setelan jas dan celana berwarna hitam memakai tas punggung dan bersepatu hitam mengkilat, yang aku lihat dari ujung kepala sampai ujung kaki terpampang jelas sangat rapih, hampir tak ada celah di pakaiannya yang kusut sedikitpun, dan jikalau ada semut yang hinggap di rambutnya mungkin semut itu akan jatuh terpeleset karena saking licinnya rambut si pria itu, dan tanpa sadar aku pun tersenyum sendiri karena membayangkan hal itu.


setelah menunggu hingga 7 menitan akhirnya bus yang paling aku nanti nanti akhirnya tiba, decitan suara remnya terdengar jelas begitu bus berwarna biru dan agak munggil itu berhenti tepat di hadapan ku, begitu pintunya terbuka aku pun langsung naik lalu duduk di kursi sambil menata kembali mental ku untuk menghadapi tes interview kali ini.


Waktu terus berjalan, meski nyaris saja aku terlambat, namun aku masih bisa masuk ke dalam perusahaan dengan tepat waktu, sesampainya aku di lantai 2 khusus perekrutan karyawan baru terlihat banyak wanita dan lelaki memakai setelan kemeja yang berwarna hitam melirik ke arah ku dengan tatapan aneh, maklum saja di antara semua calon peserta hanya aku seorang yang memakai jilbab, anehnya di sana aku justru merasa seperti di kucilkan dan mendapat respon awal yang kurang baik.


Saat itu aku pun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku paling ujung ruangan tersebut, karena aku sendiri merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan mata mereka semua, saking merasa tidak nyamannya aku terpaksa memakai masker untuk menutupi sebagaian dari wajahku agar aku bisa lebih percaya diri dan bisa duduk diam dengan tenang tanpa harus merasa gelisah karena tatapan aneh mereka, sambil fokus membaca kembali materi yang sebelumnya aku siapkan, untuk berjaga jaga apabila pertanyaan mungkin akan menjurus ke segala perihal yang mungkin belum aku ketahui, dan untungnya diam diam aku sudah membaca dan mencatat mengenai perihal yang belum aku ketahui, dan jika pertanyaan itu sampai di lontarkan, betapa beruntungnya aku hari ini, karena semua tentang perusahaan dan seluk beluknya aku sudah tahu dan sangat hafal, karena aku adalah istri dari direktur utama perusahaan besar ini, jadi sangat mustahil kalau aku tidak tahu apa apa tentang perusahaan yang di dirikan oleh suami ku sendiri.


Di tengah tengah kefokusan ku, tiba tiba aku mendengar suara helaan nafas yang terdengar cukup panjang dan keras di telingaku, suara itu terdengar berulang kali dan sangat menganggu konsentrasiku.


“joesonghabnida mogsolileul najchul su issseubnida !” ucap ku berusaha menegurnya dengan bahasa yang sopan agar orang itu tidak tersinggung sama sekali


*maaf bisa tolong kecilkan suara anda !”


“oh dangsin-eun geu yeoja ?”


*oh bukankah kamu wanita yang tadi ?


“ne ?”ucap ku binggung


*ya ?


“kamu bukankah wanita yang tadi ada di bus pagi tadi ?”ucapnya lagi masih dalam bahasa korea

__ADS_1


“oh kamu pemuda yang tadi berangkat di halte bus ?”ucap ku menggapinya


“iya !”


“wah kebetulan sekali kita bertemu lagi rupanya !”


“iya, apa kamu juga sedang menunggu untuk giliran interview ?”tanyanya


“iya saya memeng sedang menunggu giliran saya untuk interview !”


“perkenalkan nama saya dong jun !”ucapnya seraya menyodorkan tangan untuk berjabat tangan denganku


“miranda ?”ucap ku membalasnya


“oh, nama yang bagus, kamu bukan orang korea ?”


“indonesia ?”ucapnya tidak percaya


Aku pun mengangguk sambil tersenyum untuk meyakinkannya, bahwa aku ini memeng benar benar orang indonesia yang sudah satu bulan terdampar di korea.


“kamu terlihat sangat santai, apa kamu tidak merasa grogi sedikitpun ?”


“sebenarnya saya juga sangat grogi, sama seperti anda !”


Bohong sejujurnya aku grogi bukan karena interviewnya, melainkan aku grogi, karena aku takut salah satu orang di dalam ruangan itu ada suami ku di sana yang sedang mewawancarai calon karyawan baru, saat ini aku sangat mencemaskan hal itu


“wah serius ?, tapi yang aku lihat kamu bahkan seperti tidak menampakkannya sedikit pun !”

__ADS_1


“oh ya !” ucap ku sambil tersenyum


Beberapa saat kemudian, ada seorang lelaki yang keluar dari dalam ruang wawancara, lelaki itu berteriak memanggil nomer peserta selanjutnya untuk segera masuk ke dalam ruangan, dan di antara salah satu nomer yang disebutkannya ternyata kali ini adalah giliran ku untuk masuk.


“113, 114,115,116, silahkan masuk ke dalam ruang wawancara sekarang !”


“wah nomer anda 115 bukan !”ucap dong jun sambil menatap nomer peserta yang aku pakai


“iya itu benar nomer urut saya !”


“semoga berhasil !”ucapnya menyemangati ku


“iya kamu juga !”


Begitu aku masuk, semua mata langsung tertuju padaku, maklum saja di antara semua peserta, hanya aku seorang yang berpenampilan paling berbeda, awalnya aku merasa sangat canggung dan risih dengan suasana di dalam ruangan itu, namun perlahan pandanganku mulai meneliti wajah wajah orang yang saat ini sedang duduk di depanku.


"io kamu !, peserta 115 !"teriak salah satu lelaki


seketika aku langsung terkejut dan menatap lelaki itu


" apa yang kamu lihat ? tolong jaga etika !"


"iya pak, saya minta maaf !" ucapku sambil menunduk !"


akhirnya aku bisa bernafas lega, syukur alhamdulilah ternyata di dalam ruangan itu tidak ada mas hajun yang duduk di antara mereka, aku jadi bisa berfikir lebih jernih dan merasa tenang kembali dan semoga saja hari ini keberuntungan akan berpihak kepadaku.


Begitu aku keluar kini gantian dongjun yang masuk kedalam ruangan itu, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sempat nervous karena ia takut tidak bisa menjawab pertanyaan di tengah wawancaranya.

__ADS_1


__ADS_2