
Akhirnya dongjun terpaksa ikut makan di kantin bersamaku, meski awalnya dia bersikeras menolak dan mengajakku makan diluar sambil merengek seperti bocah kecil, namun saat ini dia terlihat lahap sekali menyantap jatah makan siangnya di kantin, bahkan saat ku lihat tidak ada sedikitpun nasi atau lauk yang tersisa di piringnya, semuanya telah ia sapu bersih ke dalam mulutnya.
"enak ?"ucapku meledeknya saat melihat dongjun memasukkan suapan nasi terakhir ke dalam mulutnya
"ah rasanya membosankan !"
"benarkah ?" ucapku sambil tersenyum
"tapi sepertinya tidak untuk perut mu !"
"aku terpaksa menghabiskannya karena perutku sudah menjerit kesakitan karena menahan lapar !"
"ya ya aku tahu !"
"kamu tidak percaya !!"
"aku percaya kok, saaangaaat percaya !"
"pokoknya besok aku ingin makan di luar, harus !"
"benarkah ?, padahal menu makan besok enak loh !"
"masa sih ? coba aku periksa dulu !" ucap dongjun sambil meneliti ponselnya dan melihat jadwal menu makan siang di kantin
"tapi sepertinya besok aku akan makan diluar !"ucapku sedikit memancing
"eh .. besok .. kita makan di luar bersama saja !"
"loh kenapa ?"
"mendadak aku tidak suka makan daging !"
"padahal kamu sangat suka makan daging kan ? kenapa malah ingin makan di luar bersamaku ?"
"mulai sekarang aku hanya akan makan daging sapi saja !"
"benarkah ?!" ucapku sambil tertawa kecil
"iya aku berhenti makan babi sekarang !"
__ADS_1
"wah benarkah, apa sekarang kamu tidak suka dengan rasanya ?"
"aku masih suka, tapi aku memang sengaja mau berhenti memakannya !"
"serius !"ucapku seraya tersenyum
ya .. terserah kamu saja, kalau kamu tidak percaya !"
lagi lagi aku terkekeh saat memperhatikan tingkah dongjun yang sedikit kekanak kanakan
***
siang itu di saat kami sedang berbincang bincang di kantin, tiba tiba saja keributan terjadi begitu saja di kantin, terlihat banyak orang berkumpul menjadi satu dan menatap ke sebuah mading yang terpajang di kantin, awalnya aku tidak begitu menghiraukan hal itu dan memilih untuk tidak memperdulikannya, namun mendadak perasaan penasaran mulai mengusik di pikiranku.
"kenapa semua orang mendadak heboh sekali si ?" ujar dongjun
"mungkin ada berita kenaikan gaji !" jawabku ngasal
"mana mungkin !"
"kalau kamu penasaran kenapa tidak melihatnya sendiri !"
"iya baiklah aku akan memastikannya sendiri !"
"mira .. mira !!" panggil dongjun sambil menatap ku dengan pandangan cemas
"ada apa ?"
"foto .. itu .. yang ada di sana !" ucap dongjun gelagapan
"foto apa sih !"
"pak ceo !"
"oh fotonya pak ceo !"
"bukan ! maksudku itu ada pak ceo !"ucap dongjun sambil menunjuk ke arah pintu masuk kantin, sontak saja aku langsung berdiri dan dalam hitungan detik aku langsung panik saat melihat dia tiba tiba ada di kantin, karena setahuku selama ini dia tidak sekalipun pernah menginjakkan kakinya datang secara langsung ke kantin seperti hari ini.
"mas hajun ?!, bagaimana ini ?" gumam ku lirih
__ADS_1
"dongjun ada pak ceo !" ucapku panik
"iya aku tahu !"
"aku harus pergi dari sini !, ayo kita pergi dari sini !"
"tunggu mira, ada yang mau aku tunjukkan ke kamu dulu !"
"tidak ada waktu untuk itu, hal yang mau kamu tunjukkan kepadaku itu .. kita bisa bicarakan nanti saja !"ucapku sambil menarik tangan dongjun untuk segera bergegas pergi dari kantin, namun belum sempat aku pergi, tiba tiba saja mas hajun berteriak cukup keras dan membuat seluruh orang yang ada di dalam kantin langsung menatap ke arahku.
" mira !!! apa di sini ada yang bernama miranda !"teriaknya sangat lantang
dan seketika semua orang menatap ke arahku yang saat ini sedang berencana untuk melarikan diri bersama dongjun, namun nasi sudah terlanjut menjadi bubur, semua perkara yang telah terjadi di hari ini dengan sangat terpaksa aku harus menghadapinya sendiri.
"mira !, sepertinya kita sudah tertangkap basah kali ini !"
"maksud kamu apa ?" ucapku yang masih belum mengetahui maksud kata kata dongjun, aku hanya bisa menduga duga jangan jangan dongjun sudah tahu kalau aku ini istri dari atasannya.
"foto .. "
lagi lagi dongjun mengatakan sebuah kata yang belum bisa aku mengerti
"maksud kamu foto apa sih dongjun !" ucapku geram
namun saat dongjun hendak mengatakannya tiba tiba mas hajun sudah berada di depan mataku dengan tatapan mata yang menunjukkan kemarahannya yang ia tahan tahan, ku lihat di tangan kanannya terdapat sebuah foto yang aku sendiri belum bisa melihatnya, apakah mungkin foto itu yang dongjun maksud, lantas aku juga merasa sangat bersalah saat mas hajun mengetahui secara tiba tiba kondisiku saat ini, bahwasannya aku sudah bekerja di perusahannya secara diam diam dan bahkan membohonginya kalau aku bekerja di perusahaan lain namun nyatanya aku justru bekerja di perusahaan suamiku sendiri, lalu apakah semua ini juga ada kaitannya dengan sebuah foto yang ada di tangan mas hajun.
"ikut aku ke ruangan sekarang !" ucapnya sambil menatapku dengan tajam
spontan aku tidak bisa bicara sepatah katapun saat melihat wajah mas hajun yang memerah karena menahan amarahnya, aku juga tidak berani untuk menanyakan hal itu dengan sekertaris kang, karena pada saat itu wajahnya juga terlihat sangat murung dan rasanya ia juga sangat enggan untuk menatap wajahku.
"aku akan ikut denganmu !" ujar dongjun sambil memegang tanganku dengan erat, dan karena tindakan yang tak terduga dari dongjun di saat yang tidak pas, justru semakin membuat mas hajun marah besar kepadaku.
"apa yang kau lakukan !, lepaskan tanganmu ! biarkan aku sendiri yang pergi ke ruangan pak ceo !" bisik ku
"aku akan tetap ikut dengan mu, kita hadapi bersama !"jawab dongjun dengan pedenya, aku semakin merasa ngilu mendengar jawaban dari dongjun di depan suamiku.
"kau !!" ucap mas hajun sambil menatap tajam ke arah dongjun
"sebaiknya jangan terlalu ikut campur urusan saya dengan wanita ini !"ucap mas hajun dengan nada yang sangat menekan, dan saat itu juga akhirnya dongjun melepaskan genggaman tangannya lalu menatapku dengan rasa penuh kekhawatirannya.
__ADS_1
***
Rasa cemas, takut dan juga bingung telah menjadi satu dan teraduk aduk di dalam hatiku, di sepanjang jalan menuju ruangan suamiku kami semua hanya bisa diam dan membisu, aku merasa sangat ketakutan meski hanya untuk menatap wajah suamiku saat ini, di sisi lain sekertaris kang juga terlihat diam membisu, dengan pandangan yang lurus ke depan namun sesekali dia juga memandang ke arahku, terlihat dari sorot kedua mata seperti menandakan kalau sebenarnya dia juga ingin mengatakan sesuatu kepadaku, namun di satu sisi dia juga takut untuk mengatakannya kalau tiba tiba diketahui oleh suamiku dan itu justru akan membuat kemarahannya semakin melonjak karena malah berpihak kepada ku dan bukan kepada atasannya.