
Difabel atau disabilitas adalah istilah bagi para penyandang cacat, dari segi psikologis ataupun anatomis, biasanya mereka memiliki kelebihan atau kepintaran melebihi orang normal lainnya.
Pagi ini Sky pergi ke sekolah untuk kelulusan, Ayana tidak bisa mendampingi karena usia kandungannya sudah semakin tua. Pemuda itu takut terjadi apa-apa pada kedua bayinya, sedangkan Ayana sendiri sudah menerima surat kelulusan sejak satu minggu yang lalu.
Sistem pendidikan di negara Inggris sangatlah bagus, tidak akan ada siswa yang tinggal kelas, semua akan lulus karena materi pelajaran tidak di ulang melainkan terus berjalan sesuai dengan usia para siswa.
Sistem pendidikan di negara Inggris di mulai dari bulan April untuk tahun ajaran baru dan berakhir di bulan Maret.
"Selamat atas kelulusanmu," ucap Ayana, saat ini dia sedang membantu Sky memakai dasi, Sky menganggukan kepalanya.
Sky mengamati wajah Ayana, pipinya bertambah tembam tetapi Sky menyukai itu, baginya Ayana terlihat lebih cantik, dia juga mengamati bentuk tubuh Ayana yang berubah, perutnya semakin membulat dan terlihat memberat.
Sky tidak tahu bagaimana perasaan Ayana, apakah dia tidak merasa lelah karena ada dua bayi di perutnya? Pasti mereka berdua sangat berat di perut Ayana.
"Hei, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ayana, dia sudah selesai merapikan dasi Sky.
"Wajahmu bulat sekali, dan perutmu juga besar." Ayana membaca gerakan tangan suaminya.
"Lalu?" lanjut Ayana.
"Tapi kau semakin cantik, aku suka." Ayana tertawa pelan, Sky mencium bibirnya sekilas.
"Sudah beratus kali kau mengatakannya." Sky menyunggingkan senyumannya.
"Mereka pasti sangat berat." Sky masih menggerakan tangannya, Ayana menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali, bagiku hamil atau tidak rasanya tetap sama, tapi yang berubah adalah perasaanku, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya kalau aku akan menjadi seorang ibu dari dua bayi, saat lahir nanti mereka pasti menggemaskan."
"Apa ayahmu masih mengirimkan surat cerai?" Ayana menggeleng pelan, wajahnya terlihat sendu.
"Tidak, sudah dua bulan ini dia tidak mengirim lagi, tapi rasanya aku punya firasat buruk, keadaan ini terlalu tenang, aku takut ayah merencanakan sesuatu."
"Hey, dia ayahmu kenapa bicara seperti itu?" Sky mencoba mengingatkan Ayana.
"Kau tidak mengenalnya, ayahku selalu mendapat apa yang dia inginkan." Wajah Ayaba berubah sedikit panik, Sky segera memeluknya.
"Apa kau tahu bagaimana kabarnya?" Sky kembali bertanya setelah melepas pelukannya, Ayana menggelengkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawab Ayana singkat.
"Mungkin dia sakit, kenapa tidak mencoba untuk menghubunginya? Kau putrinya, cobalah untuk berbicara, atau apa perlu kita berkunjung?" Ayana menatap Sky, suaminya itu sangat perhatian.
"Aku takut, tapi akan kupikirkan nanti." Sky mengangguk mendengar jawaban Ayana.
"Sekarang berangkatlah! Raih penghargaan untuk nilai tertinggimu." Ayana mencium bibir Sky, sang suami membalas dengan sedikit ******* bibirnya, wajah gadis itu merona karena ciuman Sky.
Sky berjongkok untuk mencium perut Ayana lama sekali, gadis itu merasakan perutnya hangat karena hembusan napas Sky, mungkin dia sedang berbicara pada kedua bayinya.
"Apa yang kau bicarakan dengan mereka?" tanya Ayana saat Sky sudah berdiri kembali.
"Hanya pembicaraan seorang ayah dan jagoan-jagoannya," jawab Sky, tangan Ayana dipegangnya, mereka bergandengan tangan karena Sky akan segera berangkat.
"Aku berangkat." Sky kembali mencium Ayana dan melepaskan genggaman tangannya.
"Hati-hati!" Ayana melambaikan tangannya dan kembali masuk.
'Selamat pagi ketiga jagoan papa, hari ini papa akan pergi dulu, papa punya permintaan pada kalian, tolong jaga mama untuk papa, ya! Jangan sampai mama kalian kelelahan, jadilah anak-anak yang baik, papa dan mama sayang pada kalian.'
...
Sebenarnya ada yang Ayana sembunyikan dari Sky, satu minggu lalu ayahnya datang menemuinya saat Sky pergi ke kantor. Mark tidak datang sendiri, dia datang bersama Nara Purrot dan kembarannya Gari, saat itu Ayaba ketakutan walaupun bertemu dengan ayahnya sendiri.
Flashback.
Ting-tong...
Ayana membuka pintu apartemen dan terkejut saat melihat bahwa yang datang adalah ayahnya, tapi pria itu bersama si kembar Purrot yang berambut merah.
"A-Ayah ...." Ayana berkata gugup.
"Apa kabarmu, Nak?" tanya Mark dengan senyum di wajahnya.
"Silahkan masuk!" ucap Ayana tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
Ketiga laki-laki beda usia tersebut masuk kemudian duduk di kursi tamu apartemen Ayana.
"Ayah tidak akan berbasa-basi, Ayana! Secepatnya kau harus meninggalkan Sky setelah anak itu lahir!" ucap Mark dengan suara yang datar.
__ADS_1
"Lalu apa rencana Ayah selanjutnya? Dan untuk apa Nara dan Gari datang ke sini bersama Ayah?" tanya Ayana juga dengan nada suara yang datar.
"Hn, Nara yang akan menggantikan posisi Sky setelah kalian bercerai nanti." Ayana benar-benar terkejut dengan perkataan ayahnya.
"Apa Ayah tidak melihat perutku yang besar ini? Nara masih lajang dia bisa mencari gadis lajang yang lain, aku dan Sky sudah punya bayi, sebentar lagi mereka akan lahir," ucap Ayana kesal.
"Mereka? Apa maksudmu, Ayana?" Mark meninggikan suaranya.
"Bayiku tidak cuma satu, Ayah. Ada dua bayi di perutku." Mark tampak terkejut begitu juga dengan Nara dan Gari.
"APA?" Ayana hanya tersenyum.
"Jadi, maafkan aku, Ayah. Aku ini calon ibu dari dua bayi, aku juga punya suami yang sangat bertanggung jawab dan aku tidak menginginkan siapapun menggantikannya."
"Dan kau, Nara. Di luar sana banyak gadis yang mengharapkanmu menjadi pasangan mereka, aku bukan wanita yang tepat untukmu." Ayana mengalihkan tatapannya pada Nara, pemuda itu terlihat marah dan kesal.
"Aku akan menunggu kau menjadi janda, Ayana," ucap Nara dengan seringaiannya.
"Kau pasti sudah gila, apa yang kau harapkan dariku?" tanya Ayana pada Nara dengan emosi sedikit naik.
"Ya, aku memang gila, dan itu karena dirimu," ucap Nara kembali.
"Cukup! Sebaiknya kalian pergi dari sini, dan itu termasuk kau, Ayah!" Air mata Ayana sudah turun sekarang.
"Baiklah, tapi mau tidak mau kau akan bercerai dengan Sky." Mark, Nara dan Gari beranjak kemudian pergi dari apartemen Ayana, sedangkan wanita hamil itu hanya bisa menangis karena kesal pada ayahnya.
Flashback end
Ayana memijat kepalanya yang sedikit berdenyut, dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari sang suami. Sky adalah pemuda yang baik, dia pasti bisa memaklumi apa yang dilakukan ayahnya.
Ayana hanya tidak ingin menyakiti perasaan Sky, pemuda itu sudah banyak menderita dalam hidupnya. Ayana tidak ingin menambah beban pikiran Sky yang tengah merasa bahagia karena calon bayi mereka.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Sky!"
TBC
Sudah teramat sangat lama tidak up, entah apa masih ada yang ingat dengan cerita ini ...
See you next chap ...
__ADS_1
I Love You all ... 💕💕💕