
Seolah mataku tak ingin berkedip sedikitpun bahkan tidak sama sekali, begitu aku melihat si tukang ojek bernama yusuf itu justru mendadak menyewa kontrakan di depan rumahku, aku rasa hal ini sudah aneh dan ini sudah melewati batas yang sewajarnya, sebaiknya aku harus menghindarinya karena bisa jadi dia memiliki niat yang tidak baik denganku, begitu wajah kami saling bertatapan seketika wajahnya langsung berseri ketika melihat aku yang membuka pintu sembari melihat ke arahnya, langsung saja aku bergerak cepat dengan menutup kembali pintu depan sebelum dia menyapaku dan sebisa mungkin aku berusaha untuk seolah olah tidak tahu apa apa meskipun aku sedikit resah dengan kehadirannya di sekitar tempat tinggalku. kalau situasinya seperti ini lantas bagaimana dengan kondisiku saat ini dan sekarang apa yang harus aku lakukan di setiap paginya, agar tidak bertemu atau berpapasan dengan orang itu.
***
tepat di jam 5 pagi setelah melaksanakan sholat subuh, aku langsung menata daganganku kembali seperti hari biasanya, namun hari ini agak berbeda sedikit waktu dengan hari sebelum orang itu pindah ke komplek perumahan di sekitarku, satu persatu botol jamu ku masukkan ke dalam bakul, niatku berangkat pagi pagi sekali tidak lain adalah agar aku menghindari kemungkinan besar bertemu dengan yusuf, tapi hal ini justru terjadi diluar nalarku, tepat di saat aku membuka pintu ketika hendak berangkat ke pasar, tanpa aku sadari ternyata yusuf sudah berada di depan kos kosan sedang melakukan gerakan stretching sendirian di halaman kosnya.
"eh mbak miranda !" ujarnya menyapaku, seketika aku langsung terperanjat saat mendengar suara itu
"kamu !!! .. ngapain pagi pagi udah bangun !"
"loh saya sedang mau olahraga ini mbak !"
"oh gitu ya !"
"iya mbak, mbak miranda sendiri mau apa ?, kok bawa dagangan di jam segini !?"
"hah .. saya ini mau ... naro jamu saya di pasar !"
"oh saya kira mbak mau mulai jualan pagi pagi biar nanti nggak papasan sama saya !"
*papasan : bertemu
"ahhaha mana mungkin saya seperti itu !" ucapku seraya tersenyum getir
"mau saya antar mbak ?"
"eh .. enggak, enggak usah mas, saya mau berangkat sendiri saja, kamu lanjut lagi saja olahraganya !"
"enggak papa mbak, kebetulan saya masih senggang kok !"
"beneran saya bisa kok berangkat sendiri !"
"mbak mira .. enggak baik loh menolak bantuan orang lain dengan tujuan baik seperti saya ini!"
"ya ?"
"tunggu sebentar ya mbak saya ambil motor saya dulu !"
"eh .. !"
dan akhirnya rencana yang aku pikirkan serta aku tata dengan baik sejak tadi malam benar benar telah gagal total, yang berakhirnya aku ke pasar di antar oleh yusuf menggunakan sepeda motor andalannya itu. alhasil aku benar benar menaruh daganganku di ruko yang baru saja aku sewa satu minggu yang lalu hanya seperti itu, sama persis dengan apa yang aku katakan tadi, kemudian aku pun langsung pulang dengan membonceng yusuf lagi.
"mbak !, dingin ya ?"ucapnya basa basi
__ADS_1
"iya !" jawab aku ketus
"iya ? gitu doang ?" ucapnya dengan nada agak naik sedikit
"loh kamu tanya kan ?!"
"iya "
"lha saya udah jawabkan !"
"ya ampun mbak miranda pakem banget jadi perempuan !"
"terus ?"
"perhatian dikit apa mbak !"
"maaf tapi saya bukan wanita seperti itu mas !"
"hehe iya iya mbak, saya cuma bercanda kok !"
"lain kali jangan pernah bercanda dengan saya, karena saya tidak suka !" jelasku, untuk beberapa saat yusuf diam cukup lama dan suasana kembali tenang dan garing
"seneng banget ya uang jadi suami mbak mira !" seketika alisku mengernyit saat mendengar, kata-kata itu keluar dari mulutnya
"iya seneng aja kayaknya !"
"kenapa ?"
"soalnya mbak miranda kan cantik, udah gitu orangnya sangat mandiri !" untuk sesaat aku yang gantian terdiam karena aku kembali kepikiran dengan mas hajun yang mungkin sudah membina rumah tangga barunya dengan wanita itu, sedangkan aku harus hidup bersusah payah dengan si kecil yang masih ada di dalam perut ini.
"mbak !" panggil yusuf berusaha menyadarkan aku dari lamunanku.
"ya !!"
"kok diem aja mbak ? mbak denger nggak tadi saya bilang apa !"
"iya denger kok !"
"apa coba ?"
"aku cantik kan ?" dan seketika saja yusuf terkekeh saat mendengar perkataanku
"kenapa ketawa ?"
__ADS_1
"pede banget mbak !"
"loh bukannya tadi kamu bilang itu kan ?"
"iya sih, tapi maksud saya bukan yang itu, sesudah aku bilang itu mbak denger nggak ?"
"oh denger kok !"
"apa coba !?"
"pokoknya denger !, memangnya kamu bilang apa ?"
"pft .. itu artinya mbak miranda enggak dengar apa yang barusan aku bicarakan tadi !, kalau enggak dengar ya sudah nggak apa apa kok, lagian itu juga bukan hal yang penting !"
"ck ada ada saja !"
setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu jauh dan puas berbincang bincang akhirnya aku sampailah di rumahku lagi.
"mbak nanti jangan ngotot ya mau berangkat ke pasar sendirian kaya tadi !"
"yee suka suka saya !"
"jangan gitu mbak !, perjalanan agak jauh loh, Kasihan adik bayinya yang di dalam perut mbak !"
"kamu pikir saya mau jalan kaki ke sana beneran !, saya kan bisa naik angkutan !"
"iya iya mbak, tapi saya siap nganterin kok mbak !"
"haaaahh .. terserah kamu saja aku udah nyerah !"
***
ketika aku membutuhkan seorang pelindung di sisiku mengapa itu bukan dia tapi justru orang lain yang menggantikannya.
di langit barat, cahaya matahari mulai terbenam
sekarang dia hanyalah seuntai kisah yang telah menjadi sebuah kesedihan.
aku rasa aku tak akan bisa memanggil namanya lagi meskipun aku berteriak sekalipun, namun sayangnya namamu selalu kembali dan menghilang di antara serpihan udara yang mengelilingi diriku, dan kini aku sudah tak ada lagi kekuatan untuk menanggungnya, karena dia telah membuang diriku dan pergi meninggalkanku.
Sebuah hari untuk mencintai hari yang akan pergi, sebuah hari yang begitu sedih bahkan langit pun mungkin akan ikut menangis, bahwasannya aku akan pergi dalam hujan seolah ini semua sudah dia atur sedemikian rupa untuk menghilangkan aku dari ingatannya.
Ketika hujan turun dan di hari saat hujan itu turun, entah mengapa aku selalu merindukan dia yang tak pernah merinduku, bukan hujan atau langit yang salah ketika turun hujan, namun ada yang salah dengan hatiku ini, mengapa itu membuatku seketika merasa sedih.
__ADS_1
Menunggu waktu dan sebuah jawaban dari sang waktu dimana aku akan bertemu kembali dengannya atau bahkan tidak sama sekali, dengan air mata yang bercucuran aku ingin sekali melupakannya, aku ingin pergi kesana karena aku masih merindukannya, aku benar benar ingin mencarinya, namun sayangnya dia masih sama seperti saat itu, di tempat itu dan dengan orang itu menatapku dengan tatapan hina, tetapi kenyataannya aku masih mencintai dia sepenuh hati meski hati telah terluka karenanya.